Minggu, 11 November 2012
ada hal yang terkadang memang harus disimpan selamanya, karena itulah ada yang namanya rahasia di dunia ini. sebuah rahasia besar selalu ada dalam diri manusia, siapapun dia. dan setiap manusia pasti memiliki satu rahasia besar yang akan dia simpan selamanya. rahasia itu hanya dia dan Tuhannya saja yang mengetahuinya. demikian juga diriku, ada beberapa rahasia yang belum bahkan mungkin tak akan pernah mampu aq ungkapkan pada siapapun di dunia ini. memang bukan sebuah hal yang memalukan atau perbuatan dosa yang besar. tapi ini mengenai pilihan hidup yang harus kujalani. karena terkadang kita bisa tertipu dengan pikiran, perasaan, dan jiwa kita. karena itu kucoba melindungi diriq dengan membuang jauh semua perasaan dan pikiranq k dalam rahasia tergelap di dasar jiwaq.
sedikit saja pernah kucoba menuangkannya, tapi sepertinya banyak yang tak menyukainya. hehehehe aq terkekeh sendiri, banyak pertanyaan melintas di kepalaq. hidupq sepertinya tak seutuhnya menjadi milikq. kadang aq merasa bagai sebuah robot yang melakukan banyak hal untuk menyenangkan orang lain. bahkan terkadang aq merasakan seperti seekor kurban yang harus meregang air mata hanya untuk menghapus perasaan ini. kulihat sekitarq, memang benar. seseorang tak akan pernah memiliki dirinya sendiri secara utuh, karena sebagian dari dirinya adalah milik orang lain.
jadi, dengarkanlah hai orang2 tamak yang begitu egois. ingatlah bahwa di dunia ini dirimu bukan lagi milikmu seutuhnya, kw harus bisa menerima perlakuan orang lain pada dirimu. meski kw membencinya, tapi memangitu tak bisa kau hindari. takdir kita sebagai manusia memang menyimpan ketidakutuhan impian dalam rahasia tergelap hidup qta kita hanya bisa berbagi pada Tuhan kita yang mengenal qta bahkan sebelum kita merasakan semua hal di dunia ini.
Rabu, 27 Juli 2011
Annyeong Indonesia
Beberapa waktu lalu Aku dan temanku terbius oleh boyband korea “Super Junior”. Entah kenapa tiba-tiba kami berdua sepertinya tidak akan bisa tidur pulas kalau hari itu tidak menonton dan menemukan info bahkan video terbaru tentang anak-anak SuJu. Padahal jauh sebelumnya banyak boyband Korea yang sudah Aku miliki video dan lagu-lagunya. Tapi virus menggila tentang korea benar-benar menjangkiti kami. Hingga akhirnya seseorang menulis tentangku di status Facebooknya “Kamu gila karena Korea!!”. Dan status menyakitkan itu ampuh menyembuhkan virus Korea—tapi bukan berarti aku langsung anti Korea—di hari-hariku.
Dan kurasa bukan hanya Aku yang menjadi gila karena Korea, tapi hampir semua remaja bahkan kutemukan orang-orang dewasa pun terbius dengan Korea. Apalagi saat ini satu di antara stasiun TV menampilkan drama Korea nyaris enam jam setiap harinya. Kemudian stasiun lainnya memunculkan tampilan boy/girl band Korea juga. Jadinya aku merasa Korea tidak lagi nun jauh di sana, tapi dia sudah ada di Indonesia. “Annyeong (hai/halo) Indonesia..” sapanya pada anak-anak Indonesia.
Aku pikir tidak masalah jika kita mengenal lagu atau menonton film-film luar negeri, khususnya Korea. Terlebih lagi Aku satu di antara penggemar Korea meski tak segila kemarin. Namun, pemandangan memuakkan timbul ketika sederet anak-anak Indonesia bermunculan dengan boy/girl band, pakaian, dandanan, dan bahasa ala Korea. Ku akui Aku juga belajar bahasa Korea tapi, maaf Aku bukan penjiplak seperti mereka. Apa Aku salah?
Menurut KBBI penjiplak adalah seseorang yang mencuri, meniru, mengambil, mencontek sesuatu dari orang lain. Berdasarkan pengertian tersebut, apakah salah jika Aku mengatakan anak muda Indonesia penjiplak? Aku beberkan beberapa realita yang menjadi alasan mengapa aku berpendapat seperti itu. Model pakaian sekarang celana rok/celana mini dengan baju/jaket kebesaran, bahasa dan tulisan baik di buku atau Facebook menggunakan huruf kanji atau bahasa Korea, tarian boy/girl band ala Korea, karakter tokoh di film-film ala Korea juga, bahkan saking ekstrimnya segala informasi mengenai Korea dengan mudah ditemukan di blog-blog mereka, sedangkan tentang Indonesia dan kebudayaannya sangat sedikit mereka cantumkan di blog.
Bedanya dengan sekedar mengidolakan adalah hanya mengagumi sesuatu tanpa harus atau menjadi serupa dengan sesuatu atau seseorang tersebut. di awal telah kukatakan, tidak salah jika kita menyukai lagu atau film-film Korea. Tapi hal itu disebut kesalahan jika kita berusaha menjadi seperti mereka dan akhirnya lupa pada kehebatan budaya yang kita miliki. Kebiasaan buruk ini bagai penyakit keturunan yang tak kunjung sembuh.
Banyak dari anak muda penjiplak mengawali karir menjiplak mereka melalui pergaulan dan tontonan. Kelemahan anak Indonesia adalah tidak ada kebanggaan akan diri sendiri, dan merasa hebat jika mampu bertransformer menjadi seperti apa yang mereka lihat (ikut-ikutan orang Korea misalnya). Pergaulan di dukung oleh media-media membuat mereka menjadi jarum suntik virus Korea bagi anak lainnya. Dan penyebaran pun merajalela perlahan mengikis kekreatifitasan anak Indonesia.
Anak muda Indonesia sebenarnya punya banyak modal untuk menjadi idola, bukan sekedar pengidola. Lewat batik kita dapat memunculkan kembali busana dan aksesoris khas Indonesia. Sanggar-sanggar dapat menampilkan tarian khas Indonesia versi modern, dan kreatifitas lainnya. Kreatifitas itu dapat mengubah “annyeong Indonesia” menjadi “hai Korea.”
Kebiasaan buruk jika dipertahankan akan menjadi suatu penyakit yang menggerogoti kebiasaan baik. Ketika kebiasaan baik terkikis, segala kekayaan dan kemampuan yang kita miliki pun hilang. Jika diibaratkan, kita bagai tikus yang mati di lumbung padi. Artinya kita menjadi miskin dalam kekayaan yang kita punya. Aku yakin, Aku dan anak Indonesia tidak mau menjadi tikus-tikus yang mati di lumbung padi tetapi bersorak-sorai di lumbung padi.
Dan kurasa bukan hanya Aku yang menjadi gila karena Korea, tapi hampir semua remaja bahkan kutemukan orang-orang dewasa pun terbius dengan Korea. Apalagi saat ini satu di antara stasiun TV menampilkan drama Korea nyaris enam jam setiap harinya. Kemudian stasiun lainnya memunculkan tampilan boy/girl band Korea juga. Jadinya aku merasa Korea tidak lagi nun jauh di sana, tapi dia sudah ada di Indonesia. “Annyeong (hai/halo) Indonesia..” sapanya pada anak-anak Indonesia.
Aku pikir tidak masalah jika kita mengenal lagu atau menonton film-film luar negeri, khususnya Korea. Terlebih lagi Aku satu di antara penggemar Korea meski tak segila kemarin. Namun, pemandangan memuakkan timbul ketika sederet anak-anak Indonesia bermunculan dengan boy/girl band, pakaian, dandanan, dan bahasa ala Korea. Ku akui Aku juga belajar bahasa Korea tapi, maaf Aku bukan penjiplak seperti mereka. Apa Aku salah?
Menurut KBBI penjiplak adalah seseorang yang mencuri, meniru, mengambil, mencontek sesuatu dari orang lain. Berdasarkan pengertian tersebut, apakah salah jika Aku mengatakan anak muda Indonesia penjiplak? Aku beberkan beberapa realita yang menjadi alasan mengapa aku berpendapat seperti itu. Model pakaian sekarang celana rok/celana mini dengan baju/jaket kebesaran, bahasa dan tulisan baik di buku atau Facebook menggunakan huruf kanji atau bahasa Korea, tarian boy/girl band ala Korea, karakter tokoh di film-film ala Korea juga, bahkan saking ekstrimnya segala informasi mengenai Korea dengan mudah ditemukan di blog-blog mereka, sedangkan tentang Indonesia dan kebudayaannya sangat sedikit mereka cantumkan di blog.
Bedanya dengan sekedar mengidolakan adalah hanya mengagumi sesuatu tanpa harus atau menjadi serupa dengan sesuatu atau seseorang tersebut. di awal telah kukatakan, tidak salah jika kita menyukai lagu atau film-film Korea. Tapi hal itu disebut kesalahan jika kita berusaha menjadi seperti mereka dan akhirnya lupa pada kehebatan budaya yang kita miliki. Kebiasaan buruk ini bagai penyakit keturunan yang tak kunjung sembuh.
Banyak dari anak muda penjiplak mengawali karir menjiplak mereka melalui pergaulan dan tontonan. Kelemahan anak Indonesia adalah tidak ada kebanggaan akan diri sendiri, dan merasa hebat jika mampu bertransformer menjadi seperti apa yang mereka lihat (ikut-ikutan orang Korea misalnya). Pergaulan di dukung oleh media-media membuat mereka menjadi jarum suntik virus Korea bagi anak lainnya. Dan penyebaran pun merajalela perlahan mengikis kekreatifitasan anak Indonesia.
Anak muda Indonesia sebenarnya punya banyak modal untuk menjadi idola, bukan sekedar pengidola. Lewat batik kita dapat memunculkan kembali busana dan aksesoris khas Indonesia. Sanggar-sanggar dapat menampilkan tarian khas Indonesia versi modern, dan kreatifitas lainnya. Kreatifitas itu dapat mengubah “annyeong Indonesia” menjadi “hai Korea.”
Kebiasaan buruk jika dipertahankan akan menjadi suatu penyakit yang menggerogoti kebiasaan baik. Ketika kebiasaan baik terkikis, segala kekayaan dan kemampuan yang kita miliki pun hilang. Jika diibaratkan, kita bagai tikus yang mati di lumbung padi. Artinya kita menjadi miskin dalam kekayaan yang kita punya. Aku yakin, Aku dan anak Indonesia tidak mau menjadi tikus-tikus yang mati di lumbung padi tetapi bersorak-sorai di lumbung padi.
Kampus Bukan Rumah Bapakmu!
Kekecewaan timbul ketika memasuki satu di antara kampus di Pontianak. Ternyata mahasiswa hanya sekedar duduk santai di parkiran, kantin, lorong-lorong kelas, sekre (sekretariat HIMA/UKM), bahkan di taman-taman kampus. Padahal sebagian dari teman-teman mereka sedang berada di kelas mengikuti perkuliahan. Entah apa saja yang mereka perbincangkan, atau entah kenapa mereka betah berlama-lama di depan laptop dan mengobrol ria di Facebook. Dan entah bagaimana kampus yang seharusnya sebagai tempat menimba ilmu beralih menjadi rumah tongkrongan bagi mereka.
Pemandangan seperti itu memang bukan kasus baru di kalangan mahasiswa. Saya berpendapat bahwa hal ini juga terjadi di kampus mana pun di Indonesia. Sedari dulu yang namanya mahasiswa bandel pasti ada. Namun yang menimbulkan persoalan adalah, kasus tersebut semakin memuncak. Terlebih saat ini kampus-kampus memiliki jalur internet yang membuat mahasiswa tidak perlu repot pergi ke warnet untuk mengunjungi Google. Ditambah pihak kampus membangun taman untuk memudahkan mahasiswa jika ingin mengerjakan tugas sembari menunggu jam selanjutnya. Fasilitas yang diberikan pihak kampus untuk membantu mahasiswa berkembang justru disalahgunakan. Mereka dengan suka hati menggunakan fasilitas tersebut seakan-akan kampus menjadi rumah Bapaknya.
Keasyikan dengan fasilitas dan kenyaman tersebut membuat mereka melupakan tujuan awal mengapa mereka berada di kampus. Seseorang yang disebut mahasiswa masih memiliki kewajiban yaitu kuliah, belajar. Mahasiswa seharusnya seseorang yang telah terbentuk kekritisan dan kedewasaan pikirannya. Mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dan bertanggung jawab dengan kewajiban mereka. Tetapi fakta yang terjadi adalah mahasiswa tidak berbeda jauh dengan siswa SMP/SMA. Mereka masih harus diatur oleh dosen atau bahkan orang tua untuk menjalankan kewajiban mereka.
Mereka memang setiap hari ke kampus, menggunakan kemeja rapi dan membawa tas serta laptop. Tapi lihat saja, berapa banyak mahasiswa yang memasuki kelas? Berapa jumlah mahasiswa yang tertinggal di parkiran, berbelok ke kantin, atau malah keterusan ke sekre? Pepohonan dan dinding kantin lah yang menjadi saksi biksu kelakuan mereka.
Dan hal yang semakin memiriskan hati adalah hingga saat ini belum ada satu pihak pun (baik dari kampus maupun mahasiswa) yang bergerak mengatasi problema ini. Padahal jika dibiarkan, kebodohan dan kekerdilan pikiran akan menjadi warna baru bagi generasi di Negara ini. Lama kelamaan kampus tidak lagi menjadi wadah pencipta pejuang bangsa. Maka jangan heran bila kita akan terjajah kembali, tentu dalam versi yang berbeda yaitu terjajah oleh kebodohan dan kedegilan hati.
Harapan kedepan adalah terjadinya perubahan dalam diri mahasiswa Indonesia. kebanggaan terbesar Negara ini berada di pundak mereka yang memiliki pemikiran kreatif, kritis, dan inovatif bagi perkembangan bangsanya. Ingatlah, seseorang yang tidak mau dipimpin dia tidak akan pernah menjadi pemimpin.
Pemandangan seperti itu memang bukan kasus baru di kalangan mahasiswa. Saya berpendapat bahwa hal ini juga terjadi di kampus mana pun di Indonesia. Sedari dulu yang namanya mahasiswa bandel pasti ada. Namun yang menimbulkan persoalan adalah, kasus tersebut semakin memuncak. Terlebih saat ini kampus-kampus memiliki jalur internet yang membuat mahasiswa tidak perlu repot pergi ke warnet untuk mengunjungi Google. Ditambah pihak kampus membangun taman untuk memudahkan mahasiswa jika ingin mengerjakan tugas sembari menunggu jam selanjutnya. Fasilitas yang diberikan pihak kampus untuk membantu mahasiswa berkembang justru disalahgunakan. Mereka dengan suka hati menggunakan fasilitas tersebut seakan-akan kampus menjadi rumah Bapaknya.
Keasyikan dengan fasilitas dan kenyaman tersebut membuat mereka melupakan tujuan awal mengapa mereka berada di kampus. Seseorang yang disebut mahasiswa masih memiliki kewajiban yaitu kuliah, belajar. Mahasiswa seharusnya seseorang yang telah terbentuk kekritisan dan kedewasaan pikirannya. Mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dan bertanggung jawab dengan kewajiban mereka. Tetapi fakta yang terjadi adalah mahasiswa tidak berbeda jauh dengan siswa SMP/SMA. Mereka masih harus diatur oleh dosen atau bahkan orang tua untuk menjalankan kewajiban mereka.
Mereka memang setiap hari ke kampus, menggunakan kemeja rapi dan membawa tas serta laptop. Tapi lihat saja, berapa banyak mahasiswa yang memasuki kelas? Berapa jumlah mahasiswa yang tertinggal di parkiran, berbelok ke kantin, atau malah keterusan ke sekre? Pepohonan dan dinding kantin lah yang menjadi saksi biksu kelakuan mereka.
Dan hal yang semakin memiriskan hati adalah hingga saat ini belum ada satu pihak pun (baik dari kampus maupun mahasiswa) yang bergerak mengatasi problema ini. Padahal jika dibiarkan, kebodohan dan kekerdilan pikiran akan menjadi warna baru bagi generasi di Negara ini. Lama kelamaan kampus tidak lagi menjadi wadah pencipta pejuang bangsa. Maka jangan heran bila kita akan terjajah kembali, tentu dalam versi yang berbeda yaitu terjajah oleh kebodohan dan kedegilan hati.
Harapan kedepan adalah terjadinya perubahan dalam diri mahasiswa Indonesia. kebanggaan terbesar Negara ini berada di pundak mereka yang memiliki pemikiran kreatif, kritis, dan inovatif bagi perkembangan bangsanya. Ingatlah, seseorang yang tidak mau dipimpin dia tidak akan pernah menjadi pemimpin.
Dayak Lagi Krisis
Seminggu yang lalu teman dari Jakarta pulang liburan. Kami mengadakan reuni kecil dan menginap beberapa hari di rumah teman. Ada sesuatu yang aneh kurasakan pada dirinya, mulai dari dandanan hingga bahasanya. Setiap kali kami mengajaknya bicara dalam bahasa Dayak, dia selalu menyahuti dengan bahasa ala Jakarta. Hingga esok harinya, ketika kami sedang seru-serunya mengobrol dia berkata, “kamu ini ngaloki (membohongi) aku saja..” sontak kami mengulum senyum menahan geli mendengarnya. Jujur saja, hal itu sangat memalukan bagiku.
Hal di atas bukan hanya terjadi pada temanku, tapi nyaris terjadi pada anak-anak Dayak lainnya. Saat ini kebanggaan sebagai anak Dayak semakin menipis. Bahkan tragisnya untuk berbahasa dan mengakui jati dirinya saja mereka nyaris tidak mau. Hal tersebut seakan-akan suatu penyakit yang mengerikan. Saking mengerikannya mereka tidak mau hal itu terungkap.
Di Gawai Dayak beberapa waktu lalu, peserta yang mengikuti ajang Bujank Dare sebagian besar bukan dari suku Dayak asli. Mereka tidak dapat menunjukkan kemampuan berbahasa Dayak yang benar. Mereka juga tidak dapat menggambarkan kebudayaan suku ini. Bukankah itu fakta yang sangat memprihatinkan? Bagaimana bisa warisan adat, budaya terbesar yang menjadi kebanggaan suku Dayak ini, tercoreng hanya karena masyarakatnya meminoritaskan diri?
Krisis kebanggaan ini membuat suku Dayak tidak berkembang hingga sekarang. Tanpa disadari mereka meminoritaskan diri sendiri. Malu untuk berbahasa Dayak menjadi ajang pemusnahan satu di antara budaya yang dimiliki suku tersebut. Padahal telah dinyatakan ada 100 lebih suku Dayak yang tersebar di Kalimantan (belum lagi jumlah suku yang belum diketahui), dan itu membuktikan suku Dayak bukanlah minoritas yang sebenarnya. Suku Dayak juga menjadi abang atau saudara tertua dari suku lainnya. Artinya suku Dayak dihormati oleh suku lain. Lantas, apa yang menyebabkan kekrisisan itu terjadi?
Jika kembali ke beberapa waktu lalu, maka dapat ditemukan penyebabnya. Kekuatan secara mistik yang dimiliki oleh suku ini membuat mereka tidak mau membuka diri terhadap perkembangan dunia. Disinyalir pada awal-awal masa modern, suku Dayak menolak untuk mengikuti perkembangan. Mereka masih berkecimpung dengan adat dan tradisi mereka. Sehingga akhirnya suku-suku lain menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan Kalimantan Barat. Peranan masyarakat Dayak pun semakin tidak terdengar lagi. Jadi, suku Dayak terkena krisis bukan karena ulah suku atau masyarakat lain tetapi disebabkan oleh diri mereka sendiri.
Namun, apakah Dayak berakhir? Tidak. Di tengah-tengah kekrisisan itu, Cornelis, Gubernur Kalimantan Barat saat ini berhasil membuktikan bahwa Dayak masih sanggup mengibarkan peranan mereka bagi masyarakat. Hal ini seharusnya memotivasi para pemuda Dayak untuk bangkit. Belajar berbangga dengan apa yang dimiliki akan memulihkan kekrisisan tersebut. Kedepannya tidak akan ditemui lagi pemuda Dayak yang malu akan bahasa dan budayanya sendiri. Tapi justru mengusung sukunya untuk ikut berperan menjadikan Kalimantan barat sejajar dengan provinsi lainnya.
Untuk menggapai hal tersebut, sanggupkah para pemuda Dayak mempersembahkan kekhasan suku mereka bagi Kalimantan Barat dan lepas dari kekrisisan? Atau justru semakin terjerumus dalam kekrisisan??
Hal di atas bukan hanya terjadi pada temanku, tapi nyaris terjadi pada anak-anak Dayak lainnya. Saat ini kebanggaan sebagai anak Dayak semakin menipis. Bahkan tragisnya untuk berbahasa dan mengakui jati dirinya saja mereka nyaris tidak mau. Hal tersebut seakan-akan suatu penyakit yang mengerikan. Saking mengerikannya mereka tidak mau hal itu terungkap.
Di Gawai Dayak beberapa waktu lalu, peserta yang mengikuti ajang Bujank Dare sebagian besar bukan dari suku Dayak asli. Mereka tidak dapat menunjukkan kemampuan berbahasa Dayak yang benar. Mereka juga tidak dapat menggambarkan kebudayaan suku ini. Bukankah itu fakta yang sangat memprihatinkan? Bagaimana bisa warisan adat, budaya terbesar yang menjadi kebanggaan suku Dayak ini, tercoreng hanya karena masyarakatnya meminoritaskan diri?
Krisis kebanggaan ini membuat suku Dayak tidak berkembang hingga sekarang. Tanpa disadari mereka meminoritaskan diri sendiri. Malu untuk berbahasa Dayak menjadi ajang pemusnahan satu di antara budaya yang dimiliki suku tersebut. Padahal telah dinyatakan ada 100 lebih suku Dayak yang tersebar di Kalimantan (belum lagi jumlah suku yang belum diketahui), dan itu membuktikan suku Dayak bukanlah minoritas yang sebenarnya. Suku Dayak juga menjadi abang atau saudara tertua dari suku lainnya. Artinya suku Dayak dihormati oleh suku lain. Lantas, apa yang menyebabkan kekrisisan itu terjadi?
Jika kembali ke beberapa waktu lalu, maka dapat ditemukan penyebabnya. Kekuatan secara mistik yang dimiliki oleh suku ini membuat mereka tidak mau membuka diri terhadap perkembangan dunia. Disinyalir pada awal-awal masa modern, suku Dayak menolak untuk mengikuti perkembangan. Mereka masih berkecimpung dengan adat dan tradisi mereka. Sehingga akhirnya suku-suku lain menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan Kalimantan Barat. Peranan masyarakat Dayak pun semakin tidak terdengar lagi. Jadi, suku Dayak terkena krisis bukan karena ulah suku atau masyarakat lain tetapi disebabkan oleh diri mereka sendiri.
Namun, apakah Dayak berakhir? Tidak. Di tengah-tengah kekrisisan itu, Cornelis, Gubernur Kalimantan Barat saat ini berhasil membuktikan bahwa Dayak masih sanggup mengibarkan peranan mereka bagi masyarakat. Hal ini seharusnya memotivasi para pemuda Dayak untuk bangkit. Belajar berbangga dengan apa yang dimiliki akan memulihkan kekrisisan tersebut. Kedepannya tidak akan ditemui lagi pemuda Dayak yang malu akan bahasa dan budayanya sendiri. Tapi justru mengusung sukunya untuk ikut berperan menjadikan Kalimantan barat sejajar dengan provinsi lainnya.
Untuk menggapai hal tersebut, sanggupkah para pemuda Dayak mempersembahkan kekhasan suku mereka bagi Kalimantan Barat dan lepas dari kekrisisan? Atau justru semakin terjerumus dalam kekrisisan??
Jumat, 22 Juli 2011
pandanganku....
banyak arti tentang sahabat, cinta dan hidup...masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda untuk melihatnya. keunikan setiap manusia membuat begitu banyak makna dari bagian-bagian kehidupan, yang pada akhirnya menjadi pertanyaan yang menguraikan banyak persepsi lagi. membosankan....tapi tanpa adanya pertanyaan dan keberagaman makna hidup ini akan lebih membosankan.
cinta, lebih tepat rasa yang bikin cenat-cenut itu, ibarat daun bagiku.
sepucuk daun tumbuh perlahan dari sebuah ranting, daun itu akan terlihat indah dan hijau jika ranting dan pohon adalah tumbuhan yang bik, tapi dia akan tampak sakit dan kerdil jika berasal dari ranting dan pohon yang tak baik. daun itu akan bersemi hingga saat dia mulai terlihat tua dia akan segera menjatuhkan diri agar daun yang baru bisa muncul lagi sehingga ranting akan berwarna tak akan ikut terlihat tua.
bagiku cinta seharusnya seperti daun, jika mulai tampak tua dan tak menarik segera munculkan cinta yang baru sehingga ketika cinta ada dalam suatu hubungan, tidak akan membosankan karena selalu muncul cinta yang selalu hijau dan bersemi indah di hati para pecinta.
dan hidup...adalah hal terindah yang tak pernah bisa tak disyukuri. hidup penuh warna, memiliki rangkaian perjalanan yang tak pernah sama antara aku, kau, dia, mereka, dan semua manusia lainnya. Tuhan sangat kreatif menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing, dengan warna hidup yang tak sama. Tuhan punya tujuan bagi masing-masing kehidupan, maka Dia tidak menciptakan kita sama dengan yang lainnya.
bicara sahabat, jika ditilik lebih jauh, sahabat lebih sering dan lebih banyak mengecewakan dibanding pacar. disakiti sahabat jauh lebih merana dari pada ditinggal pacar. disayangi oleh sahabat jauh lebih indah daripada disayang pacar. sahabat...adalah sisi misterius dalam hidup. dia bisa menjadi madu yang sangat manis, tapi juga bisa menjadi racun yang sangat pahhit!!
cinta, lebih tepat rasa yang bikin cenat-cenut itu, ibarat daun bagiku.
sepucuk daun tumbuh perlahan dari sebuah ranting, daun itu akan terlihat indah dan hijau jika ranting dan pohon adalah tumbuhan yang bik, tapi dia akan tampak sakit dan kerdil jika berasal dari ranting dan pohon yang tak baik. daun itu akan bersemi hingga saat dia mulai terlihat tua dia akan segera menjatuhkan diri agar daun yang baru bisa muncul lagi sehingga ranting akan berwarna tak akan ikut terlihat tua.
bagiku cinta seharusnya seperti daun, jika mulai tampak tua dan tak menarik segera munculkan cinta yang baru sehingga ketika cinta ada dalam suatu hubungan, tidak akan membosankan karena selalu muncul cinta yang selalu hijau dan bersemi indah di hati para pecinta.
dan hidup...adalah hal terindah yang tak pernah bisa tak disyukuri. hidup penuh warna, memiliki rangkaian perjalanan yang tak pernah sama antara aku, kau, dia, mereka, dan semua manusia lainnya. Tuhan sangat kreatif menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing, dengan warna hidup yang tak sama. Tuhan punya tujuan bagi masing-masing kehidupan, maka Dia tidak menciptakan kita sama dengan yang lainnya.
bicara sahabat, jika ditilik lebih jauh, sahabat lebih sering dan lebih banyak mengecewakan dibanding pacar. disakiti sahabat jauh lebih merana dari pada ditinggal pacar. disayangi oleh sahabat jauh lebih indah daripada disayang pacar. sahabat...adalah sisi misterius dalam hidup. dia bisa menjadi madu yang sangat manis, tapi juga bisa menjadi racun yang sangat pahhit!!
Selasa, 21 Juni 2011
perawan kampung
Sebelumnya aku tidak pernah tahu seperti apa ciuman, seperti apa bercinta, dan seperti apa menjadi wanita cantik. Orang-orang kampung memang memujaku sebagai gadis paling cantik di kampung ini. Bahkan hampir setiap laki-laki di kampung ku bermimpi menikahi ku kelak nanti. Tapi, aku tidak pernah merasa lebih cantik seperti sekarang. Sekarang aku bahkan dipuja lebih dari sebelumnya, aku diberi kemesraan dan kemewahan dalam diriku.
Aku bertemu dengannya ketika dia datang ke kampung ku dan meminta izin membuka sebuah usaha di sini. Tentu saja kedatangan tamu dari kota merupakan sebuah kebanggaan besar bagi warga kampung kami seperti kami. Maka, segala persiapan untuk penyambutan pun dilakukan, dan aku ditunjuk untuk menjadi penari utama dalam tarian penyambutan menurut adat kami. Kami memang harus selalu memberi sebuah penghargaan besar bagi para tamu yang datang, karena menurut adat Dayak Kanayatn, tamu adalah raja selama mereka tidak melanggar adat kami.
Setelah pertemuan pertama itu, aku langsung jatuh hati padanya. Pria berkumis tipis dan rapi seperti ini sangat menarik hati para gadis di kampung, tak terkecuali aku. Aku pun merasakan kalau dia juga menaruh hati pada ku, dan itu pasti. Sejak lima hari kedatangannya, kami pun mulai menjalin hubungan. Hubungan itu terasa indah di hari-hari pertama kami menjalaninya.
“Apa Adik bersedia jika nanti Abang jadikan istri?” Tanyanya suatu malam
Aku terdiam mendengar ucapannya, sungguh hatiku berdetak begitu kencang saking kagetnya.
“Kenapa diam? Apa Adik tidak bersedia?” Tanyanya lagi
Lagi-lagi aku hanya memandang matanya tanpa bersuara,
“Atau Adik menganggap Abang tidak serius?” Dan dia bertanya lagi
Aku memainkan bibirku, “hm…Adik, hm..apa tidak terlalu cepat untuk Abang mengambil keputusan? Bukankah kita baru saja mulai pacaran?” Aku balik bertanya
Dia menggenggam jariku. “Adik tak usah khawatir, meski baru sebentar tapi Abang sudah sangat mencintai Adik. Abang ingin menjadikan Adik sebagai istri Abang, kalau Adik mau Abang akan meminta izin sekarang juga pada Bapak dan Mamak..” Katanya
“Jangan Bang!” Aku segera menahannya. “Bapak pasti tidak akan setuju, apalagi Abang adalah orang asing di sini. Paling tidak biarkan Bapak mengenal Abang lebih dalam lagi sekarang..” Nasihatku padanya
“Tapi, Abang sudah tidak tahan ingin menjadikan Adik istri, Abang ingin sekali segera mencium Adik..” Rayunya
“Maksud Abang itu apa mencium..??” Tanya ku dengan polosnya
“Hm, Dik..di tempat Abang kalau orang sudah pacaran mereka pasti berciuman,”
“Jadi Abang sudah pernah melakukannya?”
“Memangnya kamu belum pernah?”
Aku hanya menggeleng pelan atas pertanyaannya
Dia terkekeh sebentar, “apa benar belum pernah Dik?” Dia bertanya meyakinkan diri
Lagi-lagi aku menggeleng dengan polosnya
“abang ajarin mau?” tawarnya padaku yang langsung mengernyitkan kening. “rasanya nikmat kok dik, pokoknya adik tidak akan merasa rugi setelah mencobanya..”
Aku hanya menggigit bibirku, jujur saja yang namanya ciuman jauh dari khayalanku selama ini. Melihatnya saja aku masih belum pernah. Namun sepertinya dia benar, aku mungkin tidak akan rugi untuk mencoba sesuatu yang baru. Aku pun akhirnya mengangguk pelan.
“nanti adik ikuti saja permainan abang,” lagi-lagi aku hanya mengangguk. Dan aku tidak pernah tahu sejak kapan bibir kami bertemu dan kami saling mencium. Benar, aku begitu menikmatinya. Malam itu berakhir dengan bahagia di hatiku.
Aku masih belum mengizinkannya untuk bicara ada bapak tentang rencana dia akan meminangku. Aku masih ragu bapak mau menerima dia dengan baik, apalagi usaha yang baru akan dia mulai di sini sepertinya terjadi permasalahan mengenai tanah dengan warga kampong. Maka aku dan dia bercinta di balik pengetahuan bapak. Dan mungkin itulah kesalahanku, aku menempatkan cinta pada laki-laki yang belum aku kenal asal-usulnya. Aku pun mengiyakan ajakannya untuk bercinta malam itu di bawah pohon rambutan. Aku merasa bahagia, karena aku yakin dia akan menikahiku.
Namun,
Hari itu hatiku benar-benar hancur berantakkan seperti terkena petir. Saat aku akan memberitahunya bahwa sepertinya aku hamil. Beberapa petugas kepolisian dating dari kota dan langsung menangkapnya. Menurut keterangan polisi, dia adalah satu di antara pengusaha ganja yang menjadi buronan polisi selama ini. Dia memang sengaja masuk ke kampong-kampung yang jauh dari perkotaan agar lebih aman untuk menanam ganja. Hal itu membuat para tetua adat di kampong ku meledak amarahnya. Mereka hamper saja melakukan hukuman sesuai adat istiadat kampong kami padanya dan rekan-rekannya. Untung saja polisi berhasil bicara pada mereka.
Dia pergi tanpa menoleh padaku, dia juga tidak meminta maaf padaku. Dia tidak mencintaiku seperti yang dia katakana selama ini. Dia hanya memanfaatkanku untuk kepuasaannya selama ini. Jadi, apa arti bayi yang ada di perutku saat ini baginya? Aku tidak bisa apa-apa selain menangis di kamar ku. aku bingung akan berkata apa pada bapak. Aku harus bilang apa pada para tetua kampong tentang semua ini? Aku takut aku akan dihukum, aku tidak mau diusir dari kampong ini. Aku tidak mau orang-orang menertawakanku.
Beberapa hari kemudian kampong kami di terjang angin besar dan hujan yang begitu deras. Matahari seakan-akan tidak mau menampakkan wajahnya pada kami, sehingga kami harus menyalakan pelita juga di siang hari karena kegelapan yang begitu pekat. Pada hari ketiga akhirnya para tetua dan kepala rumah tangga berkumpul untuk membahas kejadian ini. Karena menurut kepercayaan kami, hal ini adalah pertanda bahwa nenek moyang kami sedang marah. Dan mereka akan mencari tahu apa penyebab kemarahan para roh itu.
Tong…tong….tong…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Suara kentongan pertanda masyarakat harus berkumpul terdengar nyaring. Dengan terburu-buru masyarakat segera mendatangi rumah panjang kampong kami. Di sana telah menunggu para tetua dengan wajah yang begitu menakutkan.
“adil ka’ talino ba’ sengat ka’ jubata ba’ curamin ka saruga..” terdengar suara temanggung membuka pertemuan
“auk..” sahut masyarakat
“kita berkumpul di sini pasti ada masalah serius yang kita hadapi. Kalian semua pasti sudah tahu apa yang akan kita bicarakan saat ini berkaitan dengan bencana yang menimpa kita tiga hari ini.” Beliau berhenti sejenak. “ada dari kalian para anak muda yang melakukan kesalahan dan pelanggaran berat, apakah kalian mau mengaku atau kalian akan kami panggil?” lanjutnya langsung pada inti pembicaraan
Deg!! Jantung ku terasa tertikam. Aku tahu mereka tahu apa yang terjadi, tapi aku takut. Aku takut untuk menghadap mereka, takut dengan hinaan para pemuda kampong, takut dengan bapak dan mamak, juga aku takut pada hukuman yang akan diberikan nanti. Aku menundukkan kepalaku sedalam mungkin, berharap mereka tidak tahu keberadaanku.
“dara..!”
Mereka memanggilku, mereka memanggilku! Pekik hatiku. Aku semakin berkeringat dingin, aku membenamkan kepalaku lebih dalam lagi. Air mata mulai merembes membasahi wajah dan baju ku. tanpa di beri tahu apa yang terjadi padaku kicauan suara-suara terkejut dan marah bercampur menghina langsung terdengar di telinga ku. aku mendengar suara tangis pecah di belakang ku, ku yakin itu mamak. Aku hanya pasrah.
Hukuman bagi perempuan yang hamil di luar nikah seperti diriku, dalam adat kami harus menjadi orang buangan dan pelayan penunggu gunung keramat di kampong kami. Tidak ada teman, tidak ada kunjungan, tidak ada makanan, tidak ada pakaian. Aku hanya akan dibekali sebungkus nasi dan sebuah kain. Selebihnya akan aku peroleh di sana. Mamak tidak ada bersamaku saat aku dihantar temanggung dan juru kunci ke atas gunung. Bapak bahkan tidak memandang ku saat aku melangkah pergi.
Aku sudah berdosa pada mamak, pada bapak, pada Tuhan, pada orang-orang di kampong ku. aku ingin sekali mendapat kesempatan bertobat, tidak ingin menambah dosa dengan mempersembahkan diri pada makhluk yang tidak aku kenal. Namun, aku juga tidak mau mati di rajam orang-orang kampong karena hinaan yang telah aku lakukan. Aku harus memilih untuk pergi, meski aku tidak
tahu apa aku bisa kembali lagi atau aku akan mati.
Semakin jauh aku melangkah, semakin terasa sunyi. Hanya suara angin dan kicauan burung keto yang menyambutku. Hutan itu begitu gelap, begitu lebat dan menyeramkan. Namun aku tidak lagi sempat memikirkan semua itu. Kulanjutkan langkahku hingga akhirnya aku menemukan sebuah sungai. Ku ikuti aliran sungai dengan harapan akan bertemu orang atau jalan kembali ke kampong. Akhirnya benar, aku bertemu seorang pemuda berpakaian sedikit aneh. Ketika dia mengenalkan namanya aku pun tak mampu berbuat apa-apa lagi. Dia adalah penunggu gunung ini, makhluk yang harus aku layani.
Aku bertemu dengannya ketika dia datang ke kampung ku dan meminta izin membuka sebuah usaha di sini. Tentu saja kedatangan tamu dari kota merupakan sebuah kebanggaan besar bagi warga kampung kami seperti kami. Maka, segala persiapan untuk penyambutan pun dilakukan, dan aku ditunjuk untuk menjadi penari utama dalam tarian penyambutan menurut adat kami. Kami memang harus selalu memberi sebuah penghargaan besar bagi para tamu yang datang, karena menurut adat Dayak Kanayatn, tamu adalah raja selama mereka tidak melanggar adat kami.
Setelah pertemuan pertama itu, aku langsung jatuh hati padanya. Pria berkumis tipis dan rapi seperti ini sangat menarik hati para gadis di kampung, tak terkecuali aku. Aku pun merasakan kalau dia juga menaruh hati pada ku, dan itu pasti. Sejak lima hari kedatangannya, kami pun mulai menjalin hubungan. Hubungan itu terasa indah di hari-hari pertama kami menjalaninya.
“Apa Adik bersedia jika nanti Abang jadikan istri?” Tanyanya suatu malam
Aku terdiam mendengar ucapannya, sungguh hatiku berdetak begitu kencang saking kagetnya.
“Kenapa diam? Apa Adik tidak bersedia?” Tanyanya lagi
Lagi-lagi aku hanya memandang matanya tanpa bersuara,
“Atau Adik menganggap Abang tidak serius?” Dan dia bertanya lagi
Aku memainkan bibirku, “hm…Adik, hm..apa tidak terlalu cepat untuk Abang mengambil keputusan? Bukankah kita baru saja mulai pacaran?” Aku balik bertanya
Dia menggenggam jariku. “Adik tak usah khawatir, meski baru sebentar tapi Abang sudah sangat mencintai Adik. Abang ingin menjadikan Adik sebagai istri Abang, kalau Adik mau Abang akan meminta izin sekarang juga pada Bapak dan Mamak..” Katanya
“Jangan Bang!” Aku segera menahannya. “Bapak pasti tidak akan setuju, apalagi Abang adalah orang asing di sini. Paling tidak biarkan Bapak mengenal Abang lebih dalam lagi sekarang..” Nasihatku padanya
“Tapi, Abang sudah tidak tahan ingin menjadikan Adik istri, Abang ingin sekali segera mencium Adik..” Rayunya
“Maksud Abang itu apa mencium..??” Tanya ku dengan polosnya
“Hm, Dik..di tempat Abang kalau orang sudah pacaran mereka pasti berciuman,”
“Jadi Abang sudah pernah melakukannya?”
“Memangnya kamu belum pernah?”
Aku hanya menggeleng pelan atas pertanyaannya
Dia terkekeh sebentar, “apa benar belum pernah Dik?” Dia bertanya meyakinkan diri
Lagi-lagi aku menggeleng dengan polosnya
“abang ajarin mau?” tawarnya padaku yang langsung mengernyitkan kening. “rasanya nikmat kok dik, pokoknya adik tidak akan merasa rugi setelah mencobanya..”
Aku hanya menggigit bibirku, jujur saja yang namanya ciuman jauh dari khayalanku selama ini. Melihatnya saja aku masih belum pernah. Namun sepertinya dia benar, aku mungkin tidak akan rugi untuk mencoba sesuatu yang baru. Aku pun akhirnya mengangguk pelan.
“nanti adik ikuti saja permainan abang,” lagi-lagi aku hanya mengangguk. Dan aku tidak pernah tahu sejak kapan bibir kami bertemu dan kami saling mencium. Benar, aku begitu menikmatinya. Malam itu berakhir dengan bahagia di hatiku.
Aku masih belum mengizinkannya untuk bicara ada bapak tentang rencana dia akan meminangku. Aku masih ragu bapak mau menerima dia dengan baik, apalagi usaha yang baru akan dia mulai di sini sepertinya terjadi permasalahan mengenai tanah dengan warga kampong. Maka aku dan dia bercinta di balik pengetahuan bapak. Dan mungkin itulah kesalahanku, aku menempatkan cinta pada laki-laki yang belum aku kenal asal-usulnya. Aku pun mengiyakan ajakannya untuk bercinta malam itu di bawah pohon rambutan. Aku merasa bahagia, karena aku yakin dia akan menikahiku.
Namun,
Hari itu hatiku benar-benar hancur berantakkan seperti terkena petir. Saat aku akan memberitahunya bahwa sepertinya aku hamil. Beberapa petugas kepolisian dating dari kota dan langsung menangkapnya. Menurut keterangan polisi, dia adalah satu di antara pengusaha ganja yang menjadi buronan polisi selama ini. Dia memang sengaja masuk ke kampong-kampung yang jauh dari perkotaan agar lebih aman untuk menanam ganja. Hal itu membuat para tetua adat di kampong ku meledak amarahnya. Mereka hamper saja melakukan hukuman sesuai adat istiadat kampong kami padanya dan rekan-rekannya. Untung saja polisi berhasil bicara pada mereka.
Dia pergi tanpa menoleh padaku, dia juga tidak meminta maaf padaku. Dia tidak mencintaiku seperti yang dia katakana selama ini. Dia hanya memanfaatkanku untuk kepuasaannya selama ini. Jadi, apa arti bayi yang ada di perutku saat ini baginya? Aku tidak bisa apa-apa selain menangis di kamar ku. aku bingung akan berkata apa pada bapak. Aku harus bilang apa pada para tetua kampong tentang semua ini? Aku takut aku akan dihukum, aku tidak mau diusir dari kampong ini. Aku tidak mau orang-orang menertawakanku.
Beberapa hari kemudian kampong kami di terjang angin besar dan hujan yang begitu deras. Matahari seakan-akan tidak mau menampakkan wajahnya pada kami, sehingga kami harus menyalakan pelita juga di siang hari karena kegelapan yang begitu pekat. Pada hari ketiga akhirnya para tetua dan kepala rumah tangga berkumpul untuk membahas kejadian ini. Karena menurut kepercayaan kami, hal ini adalah pertanda bahwa nenek moyang kami sedang marah. Dan mereka akan mencari tahu apa penyebab kemarahan para roh itu.
Tong…tong….tong…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Suara kentongan pertanda masyarakat harus berkumpul terdengar nyaring. Dengan terburu-buru masyarakat segera mendatangi rumah panjang kampong kami. Di sana telah menunggu para tetua dengan wajah yang begitu menakutkan.
“adil ka’ talino ba’ sengat ka’ jubata ba’ curamin ka saruga..” terdengar suara temanggung membuka pertemuan
“auk..” sahut masyarakat
“kita berkumpul di sini pasti ada masalah serius yang kita hadapi. Kalian semua pasti sudah tahu apa yang akan kita bicarakan saat ini berkaitan dengan bencana yang menimpa kita tiga hari ini.” Beliau berhenti sejenak. “ada dari kalian para anak muda yang melakukan kesalahan dan pelanggaran berat, apakah kalian mau mengaku atau kalian akan kami panggil?” lanjutnya langsung pada inti pembicaraan
Deg!! Jantung ku terasa tertikam. Aku tahu mereka tahu apa yang terjadi, tapi aku takut. Aku takut untuk menghadap mereka, takut dengan hinaan para pemuda kampong, takut dengan bapak dan mamak, juga aku takut pada hukuman yang akan diberikan nanti. Aku menundukkan kepalaku sedalam mungkin, berharap mereka tidak tahu keberadaanku.
“dara..!”
Mereka memanggilku, mereka memanggilku! Pekik hatiku. Aku semakin berkeringat dingin, aku membenamkan kepalaku lebih dalam lagi. Air mata mulai merembes membasahi wajah dan baju ku. tanpa di beri tahu apa yang terjadi padaku kicauan suara-suara terkejut dan marah bercampur menghina langsung terdengar di telinga ku. aku mendengar suara tangis pecah di belakang ku, ku yakin itu mamak. Aku hanya pasrah.
Hukuman bagi perempuan yang hamil di luar nikah seperti diriku, dalam adat kami harus menjadi orang buangan dan pelayan penunggu gunung keramat di kampong kami. Tidak ada teman, tidak ada kunjungan, tidak ada makanan, tidak ada pakaian. Aku hanya akan dibekali sebungkus nasi dan sebuah kain. Selebihnya akan aku peroleh di sana. Mamak tidak ada bersamaku saat aku dihantar temanggung dan juru kunci ke atas gunung. Bapak bahkan tidak memandang ku saat aku melangkah pergi.
Aku sudah berdosa pada mamak, pada bapak, pada Tuhan, pada orang-orang di kampong ku. aku ingin sekali mendapat kesempatan bertobat, tidak ingin menambah dosa dengan mempersembahkan diri pada makhluk yang tidak aku kenal. Namun, aku juga tidak mau mati di rajam orang-orang kampong karena hinaan yang telah aku lakukan. Aku harus memilih untuk pergi, meski aku tidak
tahu apa aku bisa kembali lagi atau aku akan mati.
Semakin jauh aku melangkah, semakin terasa sunyi. Hanya suara angin dan kicauan burung keto yang menyambutku. Hutan itu begitu gelap, begitu lebat dan menyeramkan. Namun aku tidak lagi sempat memikirkan semua itu. Kulanjutkan langkahku hingga akhirnya aku menemukan sebuah sungai. Ku ikuti aliran sungai dengan harapan akan bertemu orang atau jalan kembali ke kampong. Akhirnya benar, aku bertemu seorang pemuda berpakaian sedikit aneh. Ketika dia mengenalkan namanya aku pun tak mampu berbuat apa-apa lagi. Dia adalah penunggu gunung ini, makhluk yang harus aku layani.
Surat Seorang Sahabat dari Mhay, 2007
Maaf, aku tak bisa mengerti dirimu,
Yang pasti aku tahu kau sedih sekali..
Mungkin sesedih aku saat aku tak bisa begitu sering bertemu mama, papa
dan adikku karena terpisah jarak dan waktu.
Mungkin sesedih aku ketika dulu harus kehilangan sahabat
dan melihat kau begitu jauh dariku.
Mungkin sesedih aku ketika aku telah jatuh cinta pada orang yang salah
dan itu terjadi berulang-ulang.
Atau mungkin lebih dari itu,
Karena aku susah sekali mengerti dirimu…
Maaf.
Aku tak mau memberi banyak nasihat,
Hanya ingin memberi surat yang tak berarti ini,
Tapi dibalik kesederhanaannya,
Aku telah menyelipkan seratus ribu senyum,
Telah menyisipkan sejuta tawa
Dan menitipkan berjuta-juta suka cita.
Jadi, sekiranya dirimu membacanya
(meski aku tahu kau tak suka dikirimi surat)
Kau dapat merasakan kebahagiaan sama seperti ketika aku menulisnya
dengan penuh kebahagiaan tanpa alasan.
Setiap kalimat yang tertulis, ingat wajahku yang imut, cantik
dan penuh damai… ^_^..
Aya, ‘08
Yang pasti aku tahu kau sedih sekali..
Mungkin sesedih aku saat aku tak bisa begitu sering bertemu mama, papa
dan adikku karena terpisah jarak dan waktu.
Mungkin sesedih aku ketika dulu harus kehilangan sahabat
dan melihat kau begitu jauh dariku.
Mungkin sesedih aku ketika aku telah jatuh cinta pada orang yang salah
dan itu terjadi berulang-ulang.
Atau mungkin lebih dari itu,
Karena aku susah sekali mengerti dirimu…
Maaf.
Aku tak mau memberi banyak nasihat,
Hanya ingin memberi surat yang tak berarti ini,
Tapi dibalik kesederhanaannya,
Aku telah menyelipkan seratus ribu senyum,
Telah menyisipkan sejuta tawa
Dan menitipkan berjuta-juta suka cita.
Jadi, sekiranya dirimu membacanya
(meski aku tahu kau tak suka dikirimi surat)
Kau dapat merasakan kebahagiaan sama seperti ketika aku menulisnya
dengan penuh kebahagiaan tanpa alasan.
Setiap kalimat yang tertulis, ingat wajahku yang imut, cantik
dan penuh damai… ^_^..
Aya, ‘08
Langganan:
Postingan (Atom)
