Skripsi itu adalah sahabat baiknya mahasiswa semester akhir. Dimana-mana skripsi selalu dibicarakan, gak saat ketemu, saat ngopi, nongkrong, atau saat FB/Twiteran selalu yang menjadi openingnya ya si skripsi itu. Belum kenal ama yang namanya skripsi? nih aku kasiin ciri-cirinya..
1. Anaknya suka pakai baju cover warni-warni sesuai dengan kampusnya, misalnya kampusmu pinki ya bajunya si skripsi itu pink..
2. Skripsi itu nyebelinnya ngalahin pacar yang super duper teramat cerewet, dramatis, lebay alay, egois, dan pokoke semua yang nyebelin ngumpul jadi satu dan dikalilipatkan 10.
3. Kadang ngalahin posisi Tuhan (maaf Tuhan..), yah karena pagi2 bukannya doa malah ngetik perbaikan, trus malam sebelum tidur juga gak doa karena dininabobokan sama skripsi juga, haduh...
Yah kira-kira itulah sedikit dari banyaknya ciri skripsi. Nyebelin gak? Kira2 ada gak ya yang menikmati kebersamaannya dengan skripsi?
Nyaris semua mahasiswa kayaknya gak ada yang menyukai si skripsi, saking nyebelinnya. Ya biasanya ada dua hal yang dilakukan mahasiswa dalam menghadapi skripsi ini.
1. Prinsip lebih cepat lebih bagus. Yup! Para mahasiswa memilih jalan yang satu ini dengan kekuatan penuh dan kerajinan anti kendor. Mereka tak ingin berlama-lama ditempelin si skripsi.
2. Prinsip cuekin alias digantung bersemester-semester. Maksudnya ya mahasiswa tidak serius menjalani hubungan dengan skripsi, mereka kadang pergi meninggalkan skripsi seorang diri terlantar di dalam rak buku, laci, lemari atau tergeletak begitu saja di atas meja dalam waktu yang kadang satu semester, satu tahun bahkan lebih. Sampe2 harus dimaki2 dan dimarahin ama mertua (dosen) yang udah minta2 si skripsi ditemani, kalo gak ya..dapet gelar DO.
3. Prinsip santai. Ini prinsip yang paling mahir digunakan oleh mahasiswa. Banyak trik tipuan didalamnya. Satu diantaranya alasan mertua susah ditemuin. Yup! Mahasiswa selalu datang ke kampus buat ketemu skripsi dan ayahnya (dosen) tapi hanya sampai di pintu depan lalu balik lagi. Ntar kalo ditanya jawabnya "susah mertua sibuk mulu.." jiah padahal malas. Tapi prinsip ini gak mau juga terikat lama2 dengan skripsi, jadi prinsip santai lebih baik daripada prinsip cuek.
Nah itu dia tadi jurus2 mahasiswa selama ini dalam melewati hari2 kencannya bersama skripsi. Kamu gimana?
Hmm tapi meski skripsi itu nyebelin, semuanya mencintainya. Gak ada satu pun yang mampu menolak pesonanya skripsi (kalo ditolak gak dapet gelar hehehehe). Saat2 terakhir bersama skripsi, kadang mahasiswa merasakan cinta yang sangat dalam untuk skripsi. Minggu terakhir akan menghabiskan malam berdua, siang juga berdua, saat makan, saat tidur, bahkan saat di kamar mandi. Perpisahan dengan skripsi juga dihiasi dengan airmata yang bisa jadi saking senangnya karena segera terlepas dari skripsi atau sedih meninggalkan si skripsi.
Nah..itulah seringkas2nya cerita tentang skripsi, jangan bengong lagi kalo mahasiswa dimanapun berada passwordnya selalu "gimana skripsimu?". bye...
Senin, 28 Januari 2013
Kamis, 20 Desember 2012
realitas
waktu nonton, kadang kita merasa ingin menjadi sama seperti yang tokoh cerita alami. selesai menonton kadang juga kita mencoba mengikuti apa yang tokoh cerita lakukan. hingga ketika tak menghasilkan apapun, kekecewaan muncul. aq pun sering mengalaminya. tapi, ketika aq benar2 mencari tahu, akhirnya aq sadari, film bukan lah kehidupan yang realitas. film adalah sebuah kehidupan yang dirangkai dari khayalan seseorang. semuanya serba diatur, semua teah tersusun rapi dalam naskah. sedangkan hidup kita adalah realitas yang tak seorang pun tahu dan dapat menyusun dengan rapi awal hingga akhir cerita hidup kita. hanya Tuhan, ya..hanya Tuhan lah yang mengetahui awal dan akhir hidup qta.
aq pernah mencoba untuk menjadi seperti tokoh cerita yang memang kisah cintanya sama denganq, tapi aq sadari dia begitu memiliki banyak dewi fortuna sehingga selalu beruntung. agh! aq menghela nafas lagi, andai aq seperti itu, mungkin sekarang aq telah berbahagia. namun sekali lagi aq diingatkan, ini hidup, ini realita bukan film.
gak ada orang baik jika kita beneran kesesat, nyasar dimanapun. gak akan ada cowok ganteng tajir yang bakal nyelamatin tanpa ngelakuin apa2 tanpa imbalan apa2. semuanya omong kosong. film memang hanya film, khayal yang menyatu dengan hidup. jika memang ada kemiripan antara kisahq dengan kisah di film, itu hanya sebagian kecilnya saja, karena itu hanya untuk menampilkan sisi realita kehidupan. sekali lagi, film adalah hasil khayalan dengan realita. dan realita hanya realita tanpa bisa diaduk dengan khayalan.
natal tahun 2012
natal kali ini greget na udah kerasa dari beberapa bulan yang lalu...rasanya seperti anak kecil yang gak sabar menanti perayaan ultahnya hohohohooo. jadi keingat wkatu kecil dulu, setiap menjelang natal pasti udah mimpiin baju baru, sepatu baru, kue-kue, hadiah natal, bahkan mau nampilin apa di gereja. sampai-sampai semuanya kebawa mimpi saking gak sabarnya.
tapi itu semua adalah pengalaman di masa anak-anak dengan sifatnya yang masih kekanak-kanakan. sekarang adalah zamannya kita bersikap dewasa dimana qta sudah sangat mengerti dan memahami arti natal yang sesungguhnya. natal itu kelahiran Yesus, bukan..bukan hanya sekedar kelahiran seseorang, tetapi lebih pada kedatangan juruselamat.
seharusnya natal gak menjadi berhala bagi umat yang merayakannya, apalagi sampai melupakan makna natal yang sesungguhnya. semisalnya lebih mementingkan baju baru ketimbang hati baru, lebih pengen sepatu atau rumah baru ketimbang memperbaiki hubungan keluarga yang mungkin setahun yang lalu agak kurang baik, dan sebagainya.
Yesus sendiri lahir dengan cerita yang begitu miris. perjalanan Yusuf dan Maria dari nazaret ke betlehem selama tiga hari tiga malam dengan medan yang sulit ditambah kondisi maria yang hamil muda. sesampainya disana pun bukannnya langsung istirahat dengan nyaman, tapi ayah yusuf mesti berkeliling penginapan untuk mencari kamar yang kosong, tapi tak juga ada. hingga akhirnya mungkin maria sudah tak tahan dan mereka menerima tawaran untuk menginap di sebuah kandang domba. bayangkan, sebuah kandang...bau binatang, sesak dengan jerami, alasnya tanah yang mungkin agak lembab, banyak nyamuk dan kotoran, haduh...tak bisa kebayang lah kondisinya gimana parahnya. setelah itu, maria melahirkan tak dijelaskan apakah ada orang lain yang membantunya selain yusuf yang juga masih tak berpengalaman. namun, kelahiran Yesus berjalan lancar, secara manusia mungkin bisa saja Yesus bayi terkena kotoran menjadi sakit dan ibu maria pendarahan karena tak ditangani dengan baik.
namun meskipun kelahiran Yesus membawa cerita yang mengharukan sekaligus miris, namun begitulah sebenarnya manusia. Yesus lahir dalam kesederhanaan karena Yesus datang untuk semua umat manusia, bahkan orang terendah sekaligus (karena itulah alasan kenapa malaikat mendatangi gembala untuk pertama kalinya dalam kelahiran Yesus), lahir sebagai manusia dengan cara yang manusiawi dan untuk manusia.
memang tidak salah jika kita merayakannya selagi ada uang, namun jangan memaksakan diri sampai2 merasa minder mau natalan karena gak mampu. natal bukanlah masalah pestanya, tapi masalah hati, menerima atau tidak kelahiran Yesus dalam hidup qta.
semua ini aq dapatkan ketika mengikuti retreat kampusku, bersyukur karena aq bisa mem-PA kn dengan baik bagian ini. semoga tahun ini Yesus selalu menyertaiq dan aku mampu menjadi yang terbaik. amin.
tapi itu semua adalah pengalaman di masa anak-anak dengan sifatnya yang masih kekanak-kanakan. sekarang adalah zamannya kita bersikap dewasa dimana qta sudah sangat mengerti dan memahami arti natal yang sesungguhnya. natal itu kelahiran Yesus, bukan..bukan hanya sekedar kelahiran seseorang, tetapi lebih pada kedatangan juruselamat.
seharusnya natal gak menjadi berhala bagi umat yang merayakannya, apalagi sampai melupakan makna natal yang sesungguhnya. semisalnya lebih mementingkan baju baru ketimbang hati baru, lebih pengen sepatu atau rumah baru ketimbang memperbaiki hubungan keluarga yang mungkin setahun yang lalu agak kurang baik, dan sebagainya.
Yesus sendiri lahir dengan cerita yang begitu miris. perjalanan Yusuf dan Maria dari nazaret ke betlehem selama tiga hari tiga malam dengan medan yang sulit ditambah kondisi maria yang hamil muda. sesampainya disana pun bukannnya langsung istirahat dengan nyaman, tapi ayah yusuf mesti berkeliling penginapan untuk mencari kamar yang kosong, tapi tak juga ada. hingga akhirnya mungkin maria sudah tak tahan dan mereka menerima tawaran untuk menginap di sebuah kandang domba. bayangkan, sebuah kandang...bau binatang, sesak dengan jerami, alasnya tanah yang mungkin agak lembab, banyak nyamuk dan kotoran, haduh...tak bisa kebayang lah kondisinya gimana parahnya. setelah itu, maria melahirkan tak dijelaskan apakah ada orang lain yang membantunya selain yusuf yang juga masih tak berpengalaman. namun, kelahiran Yesus berjalan lancar, secara manusia mungkin bisa saja Yesus bayi terkena kotoran menjadi sakit dan ibu maria pendarahan karena tak ditangani dengan baik.
namun meskipun kelahiran Yesus membawa cerita yang mengharukan sekaligus miris, namun begitulah sebenarnya manusia. Yesus lahir dalam kesederhanaan karena Yesus datang untuk semua umat manusia, bahkan orang terendah sekaligus (karena itulah alasan kenapa malaikat mendatangi gembala untuk pertama kalinya dalam kelahiran Yesus), lahir sebagai manusia dengan cara yang manusiawi dan untuk manusia.
memang tidak salah jika kita merayakannya selagi ada uang, namun jangan memaksakan diri sampai2 merasa minder mau natalan karena gak mampu. natal bukanlah masalah pestanya, tapi masalah hati, menerima atau tidak kelahiran Yesus dalam hidup qta.
semua ini aq dapatkan ketika mengikuti retreat kampusku, bersyukur karena aq bisa mem-PA kn dengan baik bagian ini. semoga tahun ini Yesus selalu menyertaiq dan aku mampu menjadi yang terbaik. amin.
Minggu, 11 November 2012
ada hal yang terkadang memang harus disimpan selamanya, karena itulah ada yang namanya rahasia di dunia ini. sebuah rahasia besar selalu ada dalam diri manusia, siapapun dia. dan setiap manusia pasti memiliki satu rahasia besar yang akan dia simpan selamanya. rahasia itu hanya dia dan Tuhannya saja yang mengetahuinya. demikian juga diriku, ada beberapa rahasia yang belum bahkan mungkin tak akan pernah mampu aq ungkapkan pada siapapun di dunia ini. memang bukan sebuah hal yang memalukan atau perbuatan dosa yang besar. tapi ini mengenai pilihan hidup yang harus kujalani. karena terkadang kita bisa tertipu dengan pikiran, perasaan, dan jiwa kita. karena itu kucoba melindungi diriq dengan membuang jauh semua perasaan dan pikiranq k dalam rahasia tergelap di dasar jiwaq.
sedikit saja pernah kucoba menuangkannya, tapi sepertinya banyak yang tak menyukainya. hehehehe aq terkekeh sendiri, banyak pertanyaan melintas di kepalaq. hidupq sepertinya tak seutuhnya menjadi milikq. kadang aq merasa bagai sebuah robot yang melakukan banyak hal untuk menyenangkan orang lain. bahkan terkadang aq merasakan seperti seekor kurban yang harus meregang air mata hanya untuk menghapus perasaan ini. kulihat sekitarq, memang benar. seseorang tak akan pernah memiliki dirinya sendiri secara utuh, karena sebagian dari dirinya adalah milik orang lain.
jadi, dengarkanlah hai orang2 tamak yang begitu egois. ingatlah bahwa di dunia ini dirimu bukan lagi milikmu seutuhnya, kw harus bisa menerima perlakuan orang lain pada dirimu. meski kw membencinya, tapi memangitu tak bisa kau hindari. takdir kita sebagai manusia memang menyimpan ketidakutuhan impian dalam rahasia tergelap hidup qta kita hanya bisa berbagi pada Tuhan kita yang mengenal qta bahkan sebelum kita merasakan semua hal di dunia ini.
Rabu, 27 Juli 2011
Annyeong Indonesia
Beberapa waktu lalu Aku dan temanku terbius oleh boyband korea “Super Junior”. Entah kenapa tiba-tiba kami berdua sepertinya tidak akan bisa tidur pulas kalau hari itu tidak menonton dan menemukan info bahkan video terbaru tentang anak-anak SuJu. Padahal jauh sebelumnya banyak boyband Korea yang sudah Aku miliki video dan lagu-lagunya. Tapi virus menggila tentang korea benar-benar menjangkiti kami. Hingga akhirnya seseorang menulis tentangku di status Facebooknya “Kamu gila karena Korea!!”. Dan status menyakitkan itu ampuh menyembuhkan virus Korea—tapi bukan berarti aku langsung anti Korea—di hari-hariku.
Dan kurasa bukan hanya Aku yang menjadi gila karena Korea, tapi hampir semua remaja bahkan kutemukan orang-orang dewasa pun terbius dengan Korea. Apalagi saat ini satu di antara stasiun TV menampilkan drama Korea nyaris enam jam setiap harinya. Kemudian stasiun lainnya memunculkan tampilan boy/girl band Korea juga. Jadinya aku merasa Korea tidak lagi nun jauh di sana, tapi dia sudah ada di Indonesia. “Annyeong (hai/halo) Indonesia..” sapanya pada anak-anak Indonesia.
Aku pikir tidak masalah jika kita mengenal lagu atau menonton film-film luar negeri, khususnya Korea. Terlebih lagi Aku satu di antara penggemar Korea meski tak segila kemarin. Namun, pemandangan memuakkan timbul ketika sederet anak-anak Indonesia bermunculan dengan boy/girl band, pakaian, dandanan, dan bahasa ala Korea. Ku akui Aku juga belajar bahasa Korea tapi, maaf Aku bukan penjiplak seperti mereka. Apa Aku salah?
Menurut KBBI penjiplak adalah seseorang yang mencuri, meniru, mengambil, mencontek sesuatu dari orang lain. Berdasarkan pengertian tersebut, apakah salah jika Aku mengatakan anak muda Indonesia penjiplak? Aku beberkan beberapa realita yang menjadi alasan mengapa aku berpendapat seperti itu. Model pakaian sekarang celana rok/celana mini dengan baju/jaket kebesaran, bahasa dan tulisan baik di buku atau Facebook menggunakan huruf kanji atau bahasa Korea, tarian boy/girl band ala Korea, karakter tokoh di film-film ala Korea juga, bahkan saking ekstrimnya segala informasi mengenai Korea dengan mudah ditemukan di blog-blog mereka, sedangkan tentang Indonesia dan kebudayaannya sangat sedikit mereka cantumkan di blog.
Bedanya dengan sekedar mengidolakan adalah hanya mengagumi sesuatu tanpa harus atau menjadi serupa dengan sesuatu atau seseorang tersebut. di awal telah kukatakan, tidak salah jika kita menyukai lagu atau film-film Korea. Tapi hal itu disebut kesalahan jika kita berusaha menjadi seperti mereka dan akhirnya lupa pada kehebatan budaya yang kita miliki. Kebiasaan buruk ini bagai penyakit keturunan yang tak kunjung sembuh.
Banyak dari anak muda penjiplak mengawali karir menjiplak mereka melalui pergaulan dan tontonan. Kelemahan anak Indonesia adalah tidak ada kebanggaan akan diri sendiri, dan merasa hebat jika mampu bertransformer menjadi seperti apa yang mereka lihat (ikut-ikutan orang Korea misalnya). Pergaulan di dukung oleh media-media membuat mereka menjadi jarum suntik virus Korea bagi anak lainnya. Dan penyebaran pun merajalela perlahan mengikis kekreatifitasan anak Indonesia.
Anak muda Indonesia sebenarnya punya banyak modal untuk menjadi idola, bukan sekedar pengidola. Lewat batik kita dapat memunculkan kembali busana dan aksesoris khas Indonesia. Sanggar-sanggar dapat menampilkan tarian khas Indonesia versi modern, dan kreatifitas lainnya. Kreatifitas itu dapat mengubah “annyeong Indonesia” menjadi “hai Korea.”
Kebiasaan buruk jika dipertahankan akan menjadi suatu penyakit yang menggerogoti kebiasaan baik. Ketika kebiasaan baik terkikis, segala kekayaan dan kemampuan yang kita miliki pun hilang. Jika diibaratkan, kita bagai tikus yang mati di lumbung padi. Artinya kita menjadi miskin dalam kekayaan yang kita punya. Aku yakin, Aku dan anak Indonesia tidak mau menjadi tikus-tikus yang mati di lumbung padi tetapi bersorak-sorai di lumbung padi.
Dan kurasa bukan hanya Aku yang menjadi gila karena Korea, tapi hampir semua remaja bahkan kutemukan orang-orang dewasa pun terbius dengan Korea. Apalagi saat ini satu di antara stasiun TV menampilkan drama Korea nyaris enam jam setiap harinya. Kemudian stasiun lainnya memunculkan tampilan boy/girl band Korea juga. Jadinya aku merasa Korea tidak lagi nun jauh di sana, tapi dia sudah ada di Indonesia. “Annyeong (hai/halo) Indonesia..” sapanya pada anak-anak Indonesia.
Aku pikir tidak masalah jika kita mengenal lagu atau menonton film-film luar negeri, khususnya Korea. Terlebih lagi Aku satu di antara penggemar Korea meski tak segila kemarin. Namun, pemandangan memuakkan timbul ketika sederet anak-anak Indonesia bermunculan dengan boy/girl band, pakaian, dandanan, dan bahasa ala Korea. Ku akui Aku juga belajar bahasa Korea tapi, maaf Aku bukan penjiplak seperti mereka. Apa Aku salah?
Menurut KBBI penjiplak adalah seseorang yang mencuri, meniru, mengambil, mencontek sesuatu dari orang lain. Berdasarkan pengertian tersebut, apakah salah jika Aku mengatakan anak muda Indonesia penjiplak? Aku beberkan beberapa realita yang menjadi alasan mengapa aku berpendapat seperti itu. Model pakaian sekarang celana rok/celana mini dengan baju/jaket kebesaran, bahasa dan tulisan baik di buku atau Facebook menggunakan huruf kanji atau bahasa Korea, tarian boy/girl band ala Korea, karakter tokoh di film-film ala Korea juga, bahkan saking ekstrimnya segala informasi mengenai Korea dengan mudah ditemukan di blog-blog mereka, sedangkan tentang Indonesia dan kebudayaannya sangat sedikit mereka cantumkan di blog.
Bedanya dengan sekedar mengidolakan adalah hanya mengagumi sesuatu tanpa harus atau menjadi serupa dengan sesuatu atau seseorang tersebut. di awal telah kukatakan, tidak salah jika kita menyukai lagu atau film-film Korea. Tapi hal itu disebut kesalahan jika kita berusaha menjadi seperti mereka dan akhirnya lupa pada kehebatan budaya yang kita miliki. Kebiasaan buruk ini bagai penyakit keturunan yang tak kunjung sembuh.
Banyak dari anak muda penjiplak mengawali karir menjiplak mereka melalui pergaulan dan tontonan. Kelemahan anak Indonesia adalah tidak ada kebanggaan akan diri sendiri, dan merasa hebat jika mampu bertransformer menjadi seperti apa yang mereka lihat (ikut-ikutan orang Korea misalnya). Pergaulan di dukung oleh media-media membuat mereka menjadi jarum suntik virus Korea bagi anak lainnya. Dan penyebaran pun merajalela perlahan mengikis kekreatifitasan anak Indonesia.
Anak muda Indonesia sebenarnya punya banyak modal untuk menjadi idola, bukan sekedar pengidola. Lewat batik kita dapat memunculkan kembali busana dan aksesoris khas Indonesia. Sanggar-sanggar dapat menampilkan tarian khas Indonesia versi modern, dan kreatifitas lainnya. Kreatifitas itu dapat mengubah “annyeong Indonesia” menjadi “hai Korea.”
Kebiasaan buruk jika dipertahankan akan menjadi suatu penyakit yang menggerogoti kebiasaan baik. Ketika kebiasaan baik terkikis, segala kekayaan dan kemampuan yang kita miliki pun hilang. Jika diibaratkan, kita bagai tikus yang mati di lumbung padi. Artinya kita menjadi miskin dalam kekayaan yang kita punya. Aku yakin, Aku dan anak Indonesia tidak mau menjadi tikus-tikus yang mati di lumbung padi tetapi bersorak-sorai di lumbung padi.
Kampus Bukan Rumah Bapakmu!
Kekecewaan timbul ketika memasuki satu di antara kampus di Pontianak. Ternyata mahasiswa hanya sekedar duduk santai di parkiran, kantin, lorong-lorong kelas, sekre (sekretariat HIMA/UKM), bahkan di taman-taman kampus. Padahal sebagian dari teman-teman mereka sedang berada di kelas mengikuti perkuliahan. Entah apa saja yang mereka perbincangkan, atau entah kenapa mereka betah berlama-lama di depan laptop dan mengobrol ria di Facebook. Dan entah bagaimana kampus yang seharusnya sebagai tempat menimba ilmu beralih menjadi rumah tongkrongan bagi mereka.
Pemandangan seperti itu memang bukan kasus baru di kalangan mahasiswa. Saya berpendapat bahwa hal ini juga terjadi di kampus mana pun di Indonesia. Sedari dulu yang namanya mahasiswa bandel pasti ada. Namun yang menimbulkan persoalan adalah, kasus tersebut semakin memuncak. Terlebih saat ini kampus-kampus memiliki jalur internet yang membuat mahasiswa tidak perlu repot pergi ke warnet untuk mengunjungi Google. Ditambah pihak kampus membangun taman untuk memudahkan mahasiswa jika ingin mengerjakan tugas sembari menunggu jam selanjutnya. Fasilitas yang diberikan pihak kampus untuk membantu mahasiswa berkembang justru disalahgunakan. Mereka dengan suka hati menggunakan fasilitas tersebut seakan-akan kampus menjadi rumah Bapaknya.
Keasyikan dengan fasilitas dan kenyaman tersebut membuat mereka melupakan tujuan awal mengapa mereka berada di kampus. Seseorang yang disebut mahasiswa masih memiliki kewajiban yaitu kuliah, belajar. Mahasiswa seharusnya seseorang yang telah terbentuk kekritisan dan kedewasaan pikirannya. Mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dan bertanggung jawab dengan kewajiban mereka. Tetapi fakta yang terjadi adalah mahasiswa tidak berbeda jauh dengan siswa SMP/SMA. Mereka masih harus diatur oleh dosen atau bahkan orang tua untuk menjalankan kewajiban mereka.
Mereka memang setiap hari ke kampus, menggunakan kemeja rapi dan membawa tas serta laptop. Tapi lihat saja, berapa banyak mahasiswa yang memasuki kelas? Berapa jumlah mahasiswa yang tertinggal di parkiran, berbelok ke kantin, atau malah keterusan ke sekre? Pepohonan dan dinding kantin lah yang menjadi saksi biksu kelakuan mereka.
Dan hal yang semakin memiriskan hati adalah hingga saat ini belum ada satu pihak pun (baik dari kampus maupun mahasiswa) yang bergerak mengatasi problema ini. Padahal jika dibiarkan, kebodohan dan kekerdilan pikiran akan menjadi warna baru bagi generasi di Negara ini. Lama kelamaan kampus tidak lagi menjadi wadah pencipta pejuang bangsa. Maka jangan heran bila kita akan terjajah kembali, tentu dalam versi yang berbeda yaitu terjajah oleh kebodohan dan kedegilan hati.
Harapan kedepan adalah terjadinya perubahan dalam diri mahasiswa Indonesia. kebanggaan terbesar Negara ini berada di pundak mereka yang memiliki pemikiran kreatif, kritis, dan inovatif bagi perkembangan bangsanya. Ingatlah, seseorang yang tidak mau dipimpin dia tidak akan pernah menjadi pemimpin.
Pemandangan seperti itu memang bukan kasus baru di kalangan mahasiswa. Saya berpendapat bahwa hal ini juga terjadi di kampus mana pun di Indonesia. Sedari dulu yang namanya mahasiswa bandel pasti ada. Namun yang menimbulkan persoalan adalah, kasus tersebut semakin memuncak. Terlebih saat ini kampus-kampus memiliki jalur internet yang membuat mahasiswa tidak perlu repot pergi ke warnet untuk mengunjungi Google. Ditambah pihak kampus membangun taman untuk memudahkan mahasiswa jika ingin mengerjakan tugas sembari menunggu jam selanjutnya. Fasilitas yang diberikan pihak kampus untuk membantu mahasiswa berkembang justru disalahgunakan. Mereka dengan suka hati menggunakan fasilitas tersebut seakan-akan kampus menjadi rumah Bapaknya.
Keasyikan dengan fasilitas dan kenyaman tersebut membuat mereka melupakan tujuan awal mengapa mereka berada di kampus. Seseorang yang disebut mahasiswa masih memiliki kewajiban yaitu kuliah, belajar. Mahasiswa seharusnya seseorang yang telah terbentuk kekritisan dan kedewasaan pikirannya. Mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dan bertanggung jawab dengan kewajiban mereka. Tetapi fakta yang terjadi adalah mahasiswa tidak berbeda jauh dengan siswa SMP/SMA. Mereka masih harus diatur oleh dosen atau bahkan orang tua untuk menjalankan kewajiban mereka.
Mereka memang setiap hari ke kampus, menggunakan kemeja rapi dan membawa tas serta laptop. Tapi lihat saja, berapa banyak mahasiswa yang memasuki kelas? Berapa jumlah mahasiswa yang tertinggal di parkiran, berbelok ke kantin, atau malah keterusan ke sekre? Pepohonan dan dinding kantin lah yang menjadi saksi biksu kelakuan mereka.
Dan hal yang semakin memiriskan hati adalah hingga saat ini belum ada satu pihak pun (baik dari kampus maupun mahasiswa) yang bergerak mengatasi problema ini. Padahal jika dibiarkan, kebodohan dan kekerdilan pikiran akan menjadi warna baru bagi generasi di Negara ini. Lama kelamaan kampus tidak lagi menjadi wadah pencipta pejuang bangsa. Maka jangan heran bila kita akan terjajah kembali, tentu dalam versi yang berbeda yaitu terjajah oleh kebodohan dan kedegilan hati.
Harapan kedepan adalah terjadinya perubahan dalam diri mahasiswa Indonesia. kebanggaan terbesar Negara ini berada di pundak mereka yang memiliki pemikiran kreatif, kritis, dan inovatif bagi perkembangan bangsanya. Ingatlah, seseorang yang tidak mau dipimpin dia tidak akan pernah menjadi pemimpin.
Dayak Lagi Krisis
Seminggu yang lalu teman dari Jakarta pulang liburan. Kami mengadakan reuni kecil dan menginap beberapa hari di rumah teman. Ada sesuatu yang aneh kurasakan pada dirinya, mulai dari dandanan hingga bahasanya. Setiap kali kami mengajaknya bicara dalam bahasa Dayak, dia selalu menyahuti dengan bahasa ala Jakarta. Hingga esok harinya, ketika kami sedang seru-serunya mengobrol dia berkata, “kamu ini ngaloki (membohongi) aku saja..” sontak kami mengulum senyum menahan geli mendengarnya. Jujur saja, hal itu sangat memalukan bagiku.
Hal di atas bukan hanya terjadi pada temanku, tapi nyaris terjadi pada anak-anak Dayak lainnya. Saat ini kebanggaan sebagai anak Dayak semakin menipis. Bahkan tragisnya untuk berbahasa dan mengakui jati dirinya saja mereka nyaris tidak mau. Hal tersebut seakan-akan suatu penyakit yang mengerikan. Saking mengerikannya mereka tidak mau hal itu terungkap.
Di Gawai Dayak beberapa waktu lalu, peserta yang mengikuti ajang Bujank Dare sebagian besar bukan dari suku Dayak asli. Mereka tidak dapat menunjukkan kemampuan berbahasa Dayak yang benar. Mereka juga tidak dapat menggambarkan kebudayaan suku ini. Bukankah itu fakta yang sangat memprihatinkan? Bagaimana bisa warisan adat, budaya terbesar yang menjadi kebanggaan suku Dayak ini, tercoreng hanya karena masyarakatnya meminoritaskan diri?
Krisis kebanggaan ini membuat suku Dayak tidak berkembang hingga sekarang. Tanpa disadari mereka meminoritaskan diri sendiri. Malu untuk berbahasa Dayak menjadi ajang pemusnahan satu di antara budaya yang dimiliki suku tersebut. Padahal telah dinyatakan ada 100 lebih suku Dayak yang tersebar di Kalimantan (belum lagi jumlah suku yang belum diketahui), dan itu membuktikan suku Dayak bukanlah minoritas yang sebenarnya. Suku Dayak juga menjadi abang atau saudara tertua dari suku lainnya. Artinya suku Dayak dihormati oleh suku lain. Lantas, apa yang menyebabkan kekrisisan itu terjadi?
Jika kembali ke beberapa waktu lalu, maka dapat ditemukan penyebabnya. Kekuatan secara mistik yang dimiliki oleh suku ini membuat mereka tidak mau membuka diri terhadap perkembangan dunia. Disinyalir pada awal-awal masa modern, suku Dayak menolak untuk mengikuti perkembangan. Mereka masih berkecimpung dengan adat dan tradisi mereka. Sehingga akhirnya suku-suku lain menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan Kalimantan Barat. Peranan masyarakat Dayak pun semakin tidak terdengar lagi. Jadi, suku Dayak terkena krisis bukan karena ulah suku atau masyarakat lain tetapi disebabkan oleh diri mereka sendiri.
Namun, apakah Dayak berakhir? Tidak. Di tengah-tengah kekrisisan itu, Cornelis, Gubernur Kalimantan Barat saat ini berhasil membuktikan bahwa Dayak masih sanggup mengibarkan peranan mereka bagi masyarakat. Hal ini seharusnya memotivasi para pemuda Dayak untuk bangkit. Belajar berbangga dengan apa yang dimiliki akan memulihkan kekrisisan tersebut. Kedepannya tidak akan ditemui lagi pemuda Dayak yang malu akan bahasa dan budayanya sendiri. Tapi justru mengusung sukunya untuk ikut berperan menjadikan Kalimantan barat sejajar dengan provinsi lainnya.
Untuk menggapai hal tersebut, sanggupkah para pemuda Dayak mempersembahkan kekhasan suku mereka bagi Kalimantan Barat dan lepas dari kekrisisan? Atau justru semakin terjerumus dalam kekrisisan??
Hal di atas bukan hanya terjadi pada temanku, tapi nyaris terjadi pada anak-anak Dayak lainnya. Saat ini kebanggaan sebagai anak Dayak semakin menipis. Bahkan tragisnya untuk berbahasa dan mengakui jati dirinya saja mereka nyaris tidak mau. Hal tersebut seakan-akan suatu penyakit yang mengerikan. Saking mengerikannya mereka tidak mau hal itu terungkap.
Di Gawai Dayak beberapa waktu lalu, peserta yang mengikuti ajang Bujank Dare sebagian besar bukan dari suku Dayak asli. Mereka tidak dapat menunjukkan kemampuan berbahasa Dayak yang benar. Mereka juga tidak dapat menggambarkan kebudayaan suku ini. Bukankah itu fakta yang sangat memprihatinkan? Bagaimana bisa warisan adat, budaya terbesar yang menjadi kebanggaan suku Dayak ini, tercoreng hanya karena masyarakatnya meminoritaskan diri?
Krisis kebanggaan ini membuat suku Dayak tidak berkembang hingga sekarang. Tanpa disadari mereka meminoritaskan diri sendiri. Malu untuk berbahasa Dayak menjadi ajang pemusnahan satu di antara budaya yang dimiliki suku tersebut. Padahal telah dinyatakan ada 100 lebih suku Dayak yang tersebar di Kalimantan (belum lagi jumlah suku yang belum diketahui), dan itu membuktikan suku Dayak bukanlah minoritas yang sebenarnya. Suku Dayak juga menjadi abang atau saudara tertua dari suku lainnya. Artinya suku Dayak dihormati oleh suku lain. Lantas, apa yang menyebabkan kekrisisan itu terjadi?
Jika kembali ke beberapa waktu lalu, maka dapat ditemukan penyebabnya. Kekuatan secara mistik yang dimiliki oleh suku ini membuat mereka tidak mau membuka diri terhadap perkembangan dunia. Disinyalir pada awal-awal masa modern, suku Dayak menolak untuk mengikuti perkembangan. Mereka masih berkecimpung dengan adat dan tradisi mereka. Sehingga akhirnya suku-suku lain menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan Kalimantan Barat. Peranan masyarakat Dayak pun semakin tidak terdengar lagi. Jadi, suku Dayak terkena krisis bukan karena ulah suku atau masyarakat lain tetapi disebabkan oleh diri mereka sendiri.
Namun, apakah Dayak berakhir? Tidak. Di tengah-tengah kekrisisan itu, Cornelis, Gubernur Kalimantan Barat saat ini berhasil membuktikan bahwa Dayak masih sanggup mengibarkan peranan mereka bagi masyarakat. Hal ini seharusnya memotivasi para pemuda Dayak untuk bangkit. Belajar berbangga dengan apa yang dimiliki akan memulihkan kekrisisan tersebut. Kedepannya tidak akan ditemui lagi pemuda Dayak yang malu akan bahasa dan budayanya sendiri. Tapi justru mengusung sukunya untuk ikut berperan menjadikan Kalimantan barat sejajar dengan provinsi lainnya.
Untuk menggapai hal tersebut, sanggupkah para pemuda Dayak mempersembahkan kekhasan suku mereka bagi Kalimantan Barat dan lepas dari kekrisisan? Atau justru semakin terjerumus dalam kekrisisan??
Langganan:
Postingan (Atom)