Kamis, 14 April 2011

Kembali lagi,

“Pagi ma..” Mama yang disapa menatap kaget kearahku, ”kenapa ma? Ada yang aneh?” Tanyaku atas reaksi mama
Mama menyentuh punggungku lembut, ”mama senang kamu udah kembali seperti dulu lagi, sejak enam bulan kepergian Eka kamu selalu menutup diri. Jadi wajar kalau mama kaget dengan perubahan kamu akhir-akhir ini,”
”Mama, udah deh jangan diungkit-ungkit lagi. Masa lalu bukan untuk diingat kan?”
”Ya.. benar, masa lalu bukan untuk dikenang tetapi untuk dijadikan pelajaran. Ayo makan..”
Dengan menggandeng mesra lengan mama aku melangkah menuju meja makan. Memang sejak kejadian enam bulan yang lalu, ketika aku harus merelakan Eka pergi selamanya dari hidupku, aku terus menutup diri. Membuat aku berbeda, membuat teman-temanku kehilangan diriku. Saat itu aku tak tahu harus berbuat apa, aku terlalu kaget dengan masalah yang tiba-tiba menekanku, membuat remuk semua isi hatiku. Namun akhirnya aku sadar, mungkin Eka pun akan marah jika dia melihatku seperti ini. Maka kuputuskan untuk kembali menyemangatkan diriku, mengembalikan diriku seperti dulu lagi, meski aku tahu rasa sakit itu takkan pernah pergi.

Hari ini tepat seminggu aku duduk di kelas 2, rasanya aku kembali ke kelas satu, awal pertemuanku dengan Eka. Dan hari ini pun tepat tujuh bulan kematian Eka, aku baru saja menaburkan bunga di atas timbunan tanah yang tak lagi berwarna merah. Kini timbunan itu telah ditumbuhi rumput-rumput hijau, di pagari bunga mawar putih kesukaannya. Aku masih ingin menghabiskan waktuku dengan mengobrol bersama kumbang dan bunga-bunga, sambil sesekali mengelus mesra ukiran di batu nisan dan foto yang terpajang di depannya.
”Aku kangen sama kamu Ka, aku masih merasa kamu selalu ada di sini,” ungkapku sambil menyentuh dadaku. ”Kamu jahat Ka, kenapa sih kamu tinggalin aku? Seharusnya kamu tahu kalau aku saya..ng banget sama kamu. Aku masih ngga rela kamu pergi..”
Aku menghapus air mata yang mengalir di pipiku, ”aku tahu Ka,kamu pasti ngga suka lihat aku kayak gini, makanya aku datang buat minta maaf. Maaf kalau aku udah membuat kamu ngga tenang di alam sana, aku janji aku ngga akan ngulangin lagi. Dan sekarang, hari ini juga aku akan memulai hidupku yang baru, aku akan kembali seperti Lena yang dulu lagi. I’m promise!!”
Saat aku berdiri, wajah itu segera berpaling dari arahku. Aku menatapnya dengan heran, namun cowok itu segera berlalu. Aku pun hanya mengangkat bahu tanda bingung, kemudian tersenyum ke arah nisan, dan kupastikan Eka pun tersenyum melihatku kembali seperti dulu lagi. Akhirnya aku bisa mengatasi kemelut hidupku.

”Aduh!! Mama kok ngga bangunin aku sih ma..!” Pekikku dari atas tempat tidur. Mama yang sedang membereskan bukuku hanya menggeleng pelan.
”Mama ngga hanya bangunin kamu doang, mama juga nyiram kamu makanya kamu bisa sadar..”
Aku segera berangkat dari tempat tidur sambil merengut. Gila! Ngga pernah aku terlambat sampai jam segini, 06:40 angka yang selalu menunjukkan jadwalku menjejakkan kaki di halaman parkir. Dengan mandi tanpa sabun alias mandi burung aku berangkat sekolah, dan ku harap parfum di sekujur tubuhku membantu menghilangkan jejak ketidakmandianku.
Yang namanya telat tetap telat kecuali aku adalah seorang anggota Hero yang dapat menhentikan waktu. ”Kenapa terlambat?!” Itulah pertanyaan lembut nan sadis dari bu Endang yang dapat dipastikan awal dari penghormatan terhadap tiang bendera. Dengan menahan silaunya matahari aku menghormati bendera merah putih, aku berpikir kenapa sih cuman sehelai kain yang diberi warna merah dan putih saja harus dihormati sehormat-hormatnya. Namun aku tahu itu bisikkan para setan penjajah yang ingin aku kehilangan rasa nasionalismeku.
Aku menyipitkan mataku untuk memastikan ingatanku tentang cowok yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. Dia menatapku dengan kening berkerut juga, aku berniat menatapnya lebih lama kalau saja aku tidak melihat wajah angker di sampingnya, yang tak lain milik pak Kepsek, pak Asril. Pasti cowok itu anak baru di sekolah makanya pak Asril menatap angker padaku, karena malu kesan pertama seorang murid pindahan jelek pada sekolah yang dipimpinnya. ManDul, Mana Duli EGP Emang Gue Pikirin L.A Enjoy Aja...
”Loe ngga papa Len?” Tanya Tuti saat sedang asik menikmati yang namanya Jus,
”Ya lumayanlah..dua jam lebih disinari oleh sang mentari ngga bakalan bikin gosong kok,”
”Loe kok bisa telat sih? Parah lagi..”
”Mana aku tempe.. mungkin keasikkan mimpi kali’”
”Emangnya loe mimpi apa?”
Aku menatap tersipu-sipu ke arahnya, ”ya ampun Lena..! Jangan bilang loe mimpiin Eka lagi..”
Aku terpaksa membekap mulutnya yang terlalu terbuka saat ngomong, ”emangnya kenapa? Salah?” Tanyaku bego
”Bukan salah lagi, tapi dodol!!”
”Dodolkan enak dimakan..”
”Dasar bego go go.. udah deh Len, bisa ngga sih loe lupain Eka, dia tuh udah pergi Len..”
Aku hanya diam,
”Dia udah ngga ada, jadi loe ngga bisa berharap apa-apa lagi..”
“Eka tuh ngga bisa pergi dari hati aku Tuti!”
”Tapi dia udah ngga ada!!”
“Dia masih ada, senggaknya di sini..” Aku menatap ganas pada Tuti sambil menunjuk dadaku
“Kenyataannya dia udah ngga ada, dia udah mati Lena!!”
Bukk!! Aku memukul meja kantin membuat kaget semua yang sedang makan disana. Aku nggak bisa mengucapkan apa-apa untuk Tuti, yang pastinya ngga nyangka perbuatanku barusan. Aku segera berlari keluar kantin, dan itu membawaku pada masalah lain. Aku menubruk punggung cowok itu, ”hah..ssori..sori..!!” Kataku sambil menghapus air mata tentunya, aku ingin segera berlalu andaikan..
”Tunggu!” Kata itu tak keluar dari mulutnya. ”Loe udah nabrak orang main tinggal aja, bantuin bereskan buku gue yang jatuh dong..” Ujarnya, datar namun dingin.
Dengan malas aku berbalik kearahnya, ”sori, aku cuman mo ke wc bentar cuci muka.” Balasku, apa dia ngga bisa lihat mataku yang semerah lipstik para waria yang sering mangkal di pinggir jalan apa? Seteganya masih nyuruh bantuin bawa bukunya.
Dia ngga berkata apa-apa, hanya terus melanjutkan perjalanan menuju kelas II IPA 2 seberang kelasku. Akupun ikut-ikutan diam dan seperti anak bebek mengikuti ekor induknya menuju kandang. Setelah meletakkan bukunya ke atas meja aku segera berlalu, namun kali ini bukan kata tunggu yang membuatku berbalik, tapi posisi duduknya mengingatkanku pada posisi duduk Eka dulu. Sudut belakang sebelah dinding, tempat paling strategis untuk menyejukkan mata dikala mengantuk dan berhadapan dengan posisi dudukku.
”Loe kenapa mandangin meja gue kayak gitu?”
Aku terkaget sebentar, namun aku hanya menggeleng sedih kemudian melanjutkan langkahku. Dan di ambang pintu Tuti menyambutku dengan senyum seorang sahabat. Aku pun menyambutnya kemudian kembali ke kelas dengan iringan bel. Tuti ngga bilang maaf padaku, aku tahu alasannya. Aku memang harus berhenti berharap Eka kembali padaku lagi. Dan hari ini pun berakhir tanpa ada yang membuatku tertawa.

Aku baru saja keluar dari pekarangan rumah ketika cowok itu berlalu di hadapanku. Aku bertambah penasaran, rasanya dia selalu menguntuitku, kalau tidak kenapa dia selalu ada disekitarku? Aku memilih tidak memperdulikannya karena hari ini aku akan mengunjungi Eka, maksudnya berziarah. Dan aku tak ingin rasa bahagia ini terusik oleh sesuatu yang ngga terlalu penting. Dengan pelan sambil bersenandung aku melangkah ke arah timbunan tanah yang terletak di pojok pemakaman ini. Aku menghabiskan satu jam hanya untuk mengenang masa-masa indah tujuh bulan yang lalu. Meski aku tahu itu akan memperlambat kesembuhan luka dihatiku.
Aku membatalkan gerakkan tanganku yang hampir menyentuh pintu mobil saat aku mengenali wajah itu. Cowok yang kulihat pertama kali di pemakaman ini, yang tertabrak olehku, yang duduk di posisi Eka di kelas, berlalu dari depan rumahku, dan yang saat ini tengah berdiri melamun di atas motornya. Aku tak bisa menahan rasa penasaran ini lagi,
”Kamu nguntit aku ya?!” Tanyaku tak ramah,
Dia menoleh, menatapku aneh. ”Apa?!”
Gantian aku yang oon dengan jawabannya, aku bingung untuk membalas atau tidak kekasarannya kemarin. “Mm..ngga, mm..cuma penasaran doang, kok kamu juga sering kesini?”
“Ngga boleh?!”
Tuh, kok malah dia yang jadi galak, huh!
“Ini pemakaman umum kan? Yang di kubur di sini bukan cuman cowok loe doang,”
“Apa sih maksud kamu?! Kamu ngga usah sok tahu,”
“Oh,jadi itu bukan kuburan cowok loe, kuburan siapa?”
“Bukan urusan kamu!”
“Ups! Iya ya..itu bukan urusan gue, kalau gitu loe juga ngga usah pake nanya ngapain gue kesini karena itu.., bukan urusan loe.”
Aku kehabisan kata-kata, dasar cowok aneh tapi..aku ngga bisa dibikin penasaran, hm.. “Umm.., gimana kalau kita temanan aja. Kamu cerita tentang siapa kamu dan aku juga bakal cerita siapa aku, deal?”
Dia berpikir sebentar sebelum memberi jawabannya yang membuatku semakin penasaran. “Gue udah tau siapa loe, jadi batal.”
Aku ternganga, “kok bisa? Memangnya kamu siapa sebenarnya?”
”Gue.. Mm.., oke. Kenalkan gue Guntur,”
”Aku..”
”Loe Lena. Gue udah lama tahu siapa loe, meskipun kita ngga pernah berhubungan sebelumnya. Dan gue juga tahu, itu kuburan cowok loe kan?”
Aku mengaku kalah, ”bener, tapi dia bukan cowok aku. Sebetulnya mungkin hanya aku yang menyayangi dia, dia begitu berarti buatku.. Tunggu! Memangnya kamu tahu dari siapa tentang semua ini?”
”Kayaknya lebih enak kalau kita ngobrolnya di tempat yang layak, jam enam di cafe dekat taman malam ini. Gue jemput.” Kemudian dia melenggang pergi meninggalkan aku yang masih terpaku, betul-betul membuatku penasaran.

”Jadi dia bukan cowok loe?”
Aku mengangguk, ”selama setahun lebih aku menyimpan semuanya. Meskipun dia tahu apa yang aku rasa dia tetap ngga ngasi kepastian. Aku terombang-ambing di antara ketidakpastian dari Eka, mungkin itu yang membuat aku masih menyimpan semuanya..rasa penasaran yang dibawa pergi dan tak mungkin kembali untuk memberi jawaban pasti.”
Guntur diam,
”Eeh, aku udah cerita sekarang giliran kamu..” Desakku mengusik diamnya,
”Waktu itu orang yang suka sama gue ninggal karena sakit. Gue baru tahu tiga menit sebelum dia pergi untuk selamanya, dan gue ngerasa bersalah banget. Saat gue mengunjungi makamnya setelah seminggu, gue liat rombongan loe. Awalnya gue cuman pengen ikut acara pemakaman Eka karena gue tahu rasa sedih yang kalian rasakan. Tapi, saat gue liat loe bertahan di sana, dengan wajah yang gue sendiri ngga bisa lukiskan. Mulai hari itu gue selalu ngeliat loe datang dengan mawar putih di tangan, dan gue mulai memperhatikan loe sejak saat itu. Dan gue tahu semua tentang loe dari penjaga kuburan yang juga tahu siapa loe saking seringnya loe ke sana. Dengan memperhatikan loe, gue jadi tahu betapa terkutuknya gue yang mencuekkan seseorang yang mencintai gue selama tiga tahun lebih.”
Panjang lebar penjelasan Guntur membuatku diam. Ternyata aku dan Guntur berada di dua posisi yang berbeda dan satu posisi yang sama. Sama-sama ditinggalkan seseorang yang berarti, namun aku mencinta dan Guntur dicinta. Ternyata Tuhan mempertemukan aku dengan Guntur untuk aku tahu bahwa luka itu bukan hanya milikku.
”Woi!! Loe ngelamun?”
”Hah?! Ngga..ngga.., eh kok bisa kamu ngga tahu perasaan dia selama ini?”
”Gue orangnya memang cuek, dan bagi gue cinta itu ngga ada. Makanya gue jutek sama loe selama ini karena gue iri kenapa loe bisa punya rasa cinta yang sebesar itu buat Eka. Padahal cinta itu ngga mungkin pernah ada.”
Aku menyeruput minumanku sebelum menaggapinya, “kamu pernah dilukai ya, sampe dendam kayak gitu sama yang namanya cinta?”
Guntur hanya mengangkat bahunya,
“Sebenarnya aku juga ragu apakah rasa itu benar-benar rasa cinta atau hanya rasa penasaran yang berlebihan? Yang pasti rasa itu dulu benar-benar menjadi selimut bagi hatiku, rasa yang menurutku adalah cinta, tapi sekarang..”
“Apa”
“Sekarang.., aku hanya merasa terbeban untuk tetap menyukai Eka, bukan lagi karena dorongan hati..”
Guntur menatapku dalam kebisuan, dan selanjutnya kami sama-sama tenggelam dalam rasa masing-masing, hingga kami tidak menyadari dalam kebisuan kami berusaha untuk saling memahami. Aku merasa aku memahami dirinya, tanpa aku tahu apa begitu juga sebaliknya atau tidak.
Kini aku dan Guntur menjadi teman dekat, seminggu setelah terjadi keterbukaan di antara kami, aku dan Guntur merasa cocok. Kedekatan kami cukup intim, seakan kami sedang jatuh cinta. Dan itu mulai kurasakan setelah sebulan lebih kedekatan kami. Guntur terlalu polos dalam kedekatan kami, sewajarnya Lina mempunyai rasa cinta yang begitu lama dengan sikap Guntur seperti ini. Pastinya itu membuatku ragu untuk menyatakan apa yang kurasakan, dia tak seperti Eka. Guntur sedikit berbeda.

”Gun, kamu udah ngga sentimen lagi sama yang namanya cinta?” Tanyaku saat aku dan Guntur sedang memancing,
Tanpa mengalihkan perhatiannya Guntur menjawabku, ”mungkin selamanya gue ngga percaya cinta, yah.., meskipun gue nantinya kawin gue ragu itu karena cinta..”
Aku ngga kaget dengan jawaban Guntur, sudah tertebak jauh sebelum aku bertanya. Ternyata Guntur merasa kalau aku sedang menatapnya nanar,
”Eh loe kenapa? Kaget dengan jawaban gue, lagian loe nanyanya aneh..”
Aku menggeleng pelan, ”aku ngga kaget sama jawaban kamu, itukan memang prinsip kamu dari dulu..”
”Kok suara loe ketus gitu sih, loe lagi ada masalah ya?” Akhirnya dia menghentikan keasyikannya dan menghampiriku, ”bilang dong sama gue masalah loe, gue pastiin gue bisa bantuin loe.”
Mana mungkin, aku udah tau kok jawabannya. Sahutku dalam hati, sebagai jawaban untuknya aku hanya merengut didepannya membuatnya semakin penasaran.
”Lena, loe kenapa sih? Ada yang salah sama kata-kata gue atau loe lagi jatuh cinta trus cinta loe ditolak?” Yup betul! Kata hatiku lagi, ”eh, tapi itu ngga mungkin.loe kan cinta mati tuh sama Eka, cowok pentium delapan itu..”
”Kamu kenapa sih ngingatin aku lagi sama dia?” Aku beringsut dari batu dan menuju tepi sungai,
”Aduh.., gue salah omong lagi. Maaf deh Len, ya ampun segitunya loe ngambek.. Lena..” Aku tak menanggapi rayuannya.
Guntur mendekatiku, masih sambil terus merayu dia mencoba menghiburku. Akhirnya kutemukan ide agar dia ngga merasakan perasaanku. Saat kakinya berada lebih dekat ke bibir sungai dengan enteng aku mendekat dan tanpa dia sangka aku mendorongnya ke sungai, namun malang dia dengan cepat menarik tubuhku juga.
”Ha..ha..ha..ha.. Makanya jangan suka ngerjain orang!” Serunya berasa menang.
”Guntur jahat!!” Seruku balik, dan kami pun bermain kejar-kejaran di dalam air sampai lelah.
”Huh..ternyata loe kuat juga ya pertahannya..hah..capek gue..” Guntur memejamkan matanya kelelahan dan kamipun berbaring di rumput tepi sungai. Aku menatapnya sedih, oh Tuhan..jangan menempatkan aku di posisi ini lagi, aku lelah Tuhan. Aku mohon.., hapus rasa ini. Aku ikut memejamkan mata, namun disela-sela air yang menetes dari keningku ari mataku ikut nimbrung, bergabung membasahi pipiku. Namun, aku tiba-tiba merasakan sebuah tangan yang dingin menghapusnya. Aku membuka mataku perlahan, Eka berada diatasku, dia membungkuk untuk mengecup pipiku yang dialiri air mata, dan Eka menghapusnya dengan belaian lembut.
”Len,” aku membuka mataku, bukan Eka yang ada di atasku, tetapi Guntur. Matanya menatapku dengan cinta, aku jadi tak mengerti. ”Len sori kalo gue bohong sama loe, sebenarnya gue suka sama loe..gue ngga suka liat loe nangis..”
”Gun, loe lagi mimpi?”
”Ngga, ini nyata Len. Gue ngerti kalo ini memang sulit dipercaya. Tapi gue benar-benar jatuh cinta sama loe. Seandainya cinta loe ada buat gue..”
”Gun, kamu tau apa yang aku rasa, jadi apa perlu aku menjawabnya lagi?”
Guntur menggeleng pelan, tanpa berkata lagi dia menciumku pelan. Tuhan, Engkau menyatukan perbedaan posisi ini menjadi lebih indah, semoga Eka dan Lina juga bahagia disana. Dan selamanya aku pun bisa bahagia bersama Guntur di sini.


the end

1/10’09
aya

Jangan pergi….

Dengan jantung berdebar aku menanti reaksi dari Eka, apakah dia tetap cuek seperti dulu atau kali ini dia akan bilang terima kasih setelah mendapat kartu valentine dariku…, sungguh aku sangat nervous. Satu jam, dua jam, tiga jam sampai bel istirahat Eka tidak memberi reaksi apa-apa. Aku hampir putus asa kalau saja Eka tidak menghampiriku di kelas.
“Hai lagi ngapain?” Tanyanya yang mengambil posisi duduk di depanku.
Aku sedikit kaget dibuatnya, “Eh…, nggak. Lagi baca aja.”
“Oh….”
“Kenapa?” Tanyaku penasaran, apa Eka bakal ngucapin ma’kasih ke gue? Tanyaku dalam hati.
“Mau permen cokelat nggak?” Eka mengeluarkan sebutir permen cokelat,
“Mau..mau….., aku paling suka yang namanya cokelat!”
“Ah, nggak jadi deh. Lagian cuma ada sebutir doang,” Katanya sambil memasukkan kembali permen tadi ke sakunya.
Aku pura-pura merajuk, “Ih…! Pelit banget sih, sekali-kali napa’ coba kasi’in orang permen..” Tukasku.
“Biarin, suka-suka gue dong!”
“Eka…,”
“Nggak!”
“Mm….”
“Ya udah, ntar loe nangis” Katanya sambil memberikan permen tadi,
“Ma’kasih Eka..” Aku menerima permen itu dan memasukkannya kesaku, aku berencana untuk memakannya pukul 24.00 nanti malam. Yach! Meskipun sebutir permen coklat, aku sudah sangat bahagia, karena aku tahu dan mengerti dia nggak akan bisa beliin kado atau cokelat yang lebih mahal, karena Eka memang berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Dia disini karena mendapat beasiswa. Aku menyayangi Eka apa adanya walaupun orang menganggap itu mustahil karena aku anak seorang pengusaha sukses. Tapi aku yakin mama dan papa nggak seperti kebanyakan orang kaya lainnya yang memandang status sebagai isyarat pertama pergaulanku. Lagi pula selama ini papa kelihatan menyukai Eka, karena Eka anak yang pintar, cerdas, dan jago main catur.
Meskipun aku begitu menyukai Eka, tak pernah sedikit pun aku mendapat respon pasti dari Eka, walau aku sering memberi kado dan kartu ucapan padanya, dia tidak pernah sekali pun membicarakannya bahkan kadang sikapnya menunjukkan kalau dia membenciku. Tapi terkadang dia juga bersikap manis seperti yang barusan dia lakukan.

“Woi!! Melamun aja. Gimana, dia bilang sesuatu nggak tentang kartu yang loe kasi’?” Suara Tuti mengagetkanku,
Aku tersenyum, “Nggak, dia nggak ngomong apa-apa” Jawabku singkat.
“Yach! Berarti tuh orang bener-bener cuek sama loe”
“Nggak juga sih, buktinya dia ngasi aku permen coklat,”
“Pantesan loe hepi aja. Ngomong-ngomong bagi dong permennya..”
“Enak aje, emang dia ngasi buat kamu?! Lagian permennya juga cuma sebiji doang.” Jawabku sembari memalingkan wajah.
“Ye..ganteng-ganteng pelit. Sebiji permen mah semua orang juga bisa,” Tuti mencibirkan bibirnya.
Dengan kesal aku menjawabnya, “Biarin! Dari pada kamu, nggak dapat sebutir permen pun dari Budi, cowok apaan tuh!” Balasku mencibir padanya.
“Iya deh sori.., trus gimana?” Akhirnya Tuti mengalah juga, toh percuma saja debat sama aku, aku pasti nggak mau kalah apalagi menyangkut Eka.
Aku mengernyitkan dahiku, “Mm! aku sekarang cuma lagi mikirin, ntar kalo dia ultah aku kasi’ apa ya…” Ujarku seraya mengelus-elus dagu.
“Kartu atau boneka?!”
“Ih.. emang dia cewek?! Lagian masa’ kartu mulu dari taon lalu..” Tolakku
“Trus?.... aha! Gimana kalau aksesoris?!”
“Nggak, aku nggak mau dia jadi anak metal, ntar image dia di depan bonyok aku jelek lagi.”
“Ya, aksesoris itu kan nggak harus metal. Sekedar kalung doang nggak bakal ngebuat image dia rusak kok…” Aku mengernyitkan dahi tanda berpikir, kemudian aku sependapat dengannya.
“Bagus juga ide kamu, ntar sore kamu temenin aku nyari tuh kalung ya?!”
“Ha???! Nggak salah tuh.. bukannya bulan Maret masih jauh?” Tanya Tuti kaget.
Aku memasang wajah memelas, “Iya, tapi bulan Maret kan cuman dua minggu lebih doang!”
“Iya deh iya..” Lagi-lagi Tuti mengalah, ah dia memang sahabat yang pengertian banget.
“Ma’kasih Tuti..” Sambutku senang, kupeluk tubuh kurusnya dengan erat.

Biarlah kusimpan…sampai nanti aku
Kan ada di sana, tenanglah dirimu….
Dalam keda..
“Hmm..!”
“Len!! Sori ya, gue nggak bisa nemenin loe nyari kalung buat Eka, soalnya gue nganterin nyokap belanja,” Kata Tuti dari seberang telingaku.
“Ya.. gimana dong?”
“Sori deh….”
“Nggak napa’ deh, laen kali’ aja, salam ya buat tante… bilangin aku minta bagi belanjanya..hi..hi..”
“Enak aje loe, gue aja dapat apa kagak nih upah nganter..,” Serunya pelit
“Makanya, sama ortu aja kamu peritungan.. udah gih, ntar tante lumutan lagi nungguin kamu..” Ujarku sembari menarik selimut lebih tinggi,
“Ya dah, met bobo ya..”
Aku menghempaskan tubuhku kembali ke kasur, tapi mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Akhirnya kuangkat selimut dan beranjak ke kamar mandi.

@ @ @

“Pagi Eka..” Sapaku saat melewati kelas Eka, dan seperti biasa dia hanya membalas dengan menaikkan alis dan tersenyum tipis. Aku meletakkan tasku ke meja dan membuka novel yang baru aku beli kemarin.
“Eh.. tau nggak, olimpiade kali ini bener-bener keren lho, hadiahnya lima puluh juta! Keren nggak?!” Seru Tia, yang duduk dibelakangku, si informan di kelasku.
“Beneran tuh?! Wow..keren banget!” Sahut Nina
“Iya, tapi yang pasti soalnya juga rumit, serumit nyusun serpihan jerami”
Tambah Tia lagi, aku tersenyum geli mendengarnya ya iyalah rumit, mana ada juga orang olimpiade di kasi’ soal mudah.
“Trus, yang ikut lombanya siapa dong?”
“Siapa lagi kalo bukan Eka, anak pentium delapan itu,”
“Sst! Ada Lena..” Tukas Nina berbisik, tapi masih jelas tertangkap oleh telingaku,
“Ah…elo kenapa nggak bilang kalo ada si Lena…” Aku berdiri meninggalkan kelas, menatap Eka lewat celah-celah seragam siswa-siswi yang lalu lalang di koridor kelas, terlihat dia begitu asik ngobrol bersama teman-temannya.

@ @ @
Kuraih kalung berbentuk kunci yang bergantung di dinding etalase toko aksesoris itu, aku langsung menyukai bentuknya. Talinya terbuat dari kain berwarna hitam, buahnya berbentuk kunci dari batu asli berwarna bening. Dengan riang aku menuju kearah kasir, dan tanpa ragu mengeluarkan uang dua ratus ribu dari dompetku. Saking senangnya aku mendapat kalung itu aku jadi kurang berhati-hati. Hampir saja aku terserempet motor yang melaju kencang dari arah kanan jalan, untungnya seorang bapak segera menarik lenganku.
“Jangan melangkah tanpa hati-hati nak.. bisa berakibat fatal,”
Aku mengangguk lemas, jantungku masih berdegup kencang karena kejadian tadi, “Iya pak, maaf kalau.. saya.. merepotkan, saya bakalan lebih hati-hati lagi..”
Bapak itu mengangguk kemudian melenggang pergi, dan aku pun melanjutkan langkahku tanpa berhenti mengelus dada dan bergumam, “Syukur…”

@ @ @

Aku sedang mengamati Eka ketika Tuti menghampiriku, “Eh, hari ini Eka berangkat olimpiade kan?” Tanyanya
“Mm.., aku pengen dia berhasil Ti, jadi.. dia bisa membuat orang tuanya bangga, dan pastinya aku tambah sayang sama dia.” Sahutku tanpa mengalihkan tatapanku pada sosok Eka.
“Wow! Romantis banget. Gimana kalungnya, udah dapet?”
“Seminggu yang lalu kale…!”
“He..eh!”
Eka menghampiriku, menatapku seperti biasa bicara lewat telepati, dia meminta dukunganku. Aku beranjak dan tersenyum lebar padanya, kutarik lengannya, kugenggam jemarinya yang kasar karena bekerja setiap hari di bengkel pamannya.
“Aku pasti akan selalu berdoa buat kamu, dan aku yakin kamu pasti pulang dengan kemenangan!” Ucapku memberi semangat dan dorongan padanya,
“Hm, sebenarnya gue..”
“Eka ayo cepat!! Bis mau berangkat!” Seru pak Agus memotong ucapan Eka
“Ma’kasih..” Sambungnya, kemudian berbalik. Namun, “Buat semuanya..” Lanjutnya
Aku menatap nanar padanya, hampir menangis karena tak kusangka dia berkata seperti itu, “Hm.. ya udah, ati-ati ya.., jangan lupa berdoa sebelum ngejawab soal,”
“Gue berangkat dulu ya..” Ujarnya melepaskan genggamanku. Saat genggaman itu terlepas aku merasa ringan dan kosong seperti kehilangan sesuatu yang begitu berarti, dan kesedihan tiba-tiba menyemarak di ruang hatiku. Padahal Eka tersenyum pasti padaku sebelum dia masuk ke dalam bis dan melambaikan tangannya.
“Loe kenapa?”
“Oh, nggak..”
“Kok sedih?” Tanya Tuti sembari memperhatikan mataku yang berkaca-kaca, aku cuma mengangkat bahu dan tersenyum simpul, kemudian pergi meninggalkan tuti yang masih belum ngeh dengan sikapku.

@ @ @

Aku setengah sadar saat kulihat Eka berdiri di serambi luar kamarku. Memandangku tajam. Aku jelas kaget, bukannya dia ikut olimpiade? Atau dia sudah pulang dan datang untuk memberitahuku kemenangannya? Tapi mengapa wajahnya sedingin itu?
“Eka?!” Panggilku memastikan bahwa itu Eka.
Eka tidak bergeming sedikit pun, aku melangkah mendekatinya, namun ternyata aku bermimpi.
Di ruang tengah papa sedang duduk santai bersama mama menonton televisi, hari ini tumben aku malas untuk keluar kamar. Tangan papa berhenti di udara saat melihat tayangan televisi, gelas kopi yang sedang dipegangnya bergetar pelan. Mama pun hanya bisa menutup mulutnya tanda tak percaya.
Kali ini aku yakin aku tidak bermimpi. Eka secara nyata berdiri disana, menatapku dengan dingin. Aku segera menghambur kearah jendela, namun kakiku tertahan saat secara lambat aku melihat aliran darah segar dari keningnya.
“Astaga Eka, loe terluka?!!” Seruku kaget. Dia berbalik dan pergi tanpa menungguku yang sedang berusaha membuka teralis jendela kamarku. Setelah tak berhasil aku pun dengan segera berlari keluar kamar. Saat itulah mama dan papa tersentak dari ketidakpercayaan mereka.
“Eka!!” Seruku tanpa melirik ke arah mama dan papa,
“Lena! Kamu kenapa?!” Tanya mama berusaha meraihku
“Kamu mengejar siapa?” Papa turut bertanya
“Eka pa.., apa mama sama papa nggak liat Eka? Dia terluka ma.. tapi dia pergi, kita harus nolongin dia ma..,pa..” Seruku sesak dengan tangisku yang tiba-tiba meledak,
“Pa..” Desis mama. Kupandangi wajah mama yang penuh kegalauan,
Permirsa, saat ini mayat para korban kecelakaan telah dibawa kerumah sakit Kasih Bunda, di perkirakan keluarga korban akan dijemput oleh pihak yang berrwajib….
Aku hanya bisa terduduk lemas ketika menyaksikan siapa yang menjadi korban kecelakaan itu, air mataku mengalir tanpa komando, nafasku tidak memburu seperti tadi, “Lena.. Eka sudah pergi,” Desis papa samar hampir tak terdengar,
Aku memandang papa lemah, sungguh aku tak bisa berkata-kata lagi. Ini semua terlalu mustahil, terlalu sulit untuk kupercaya. Aku hanya menunduk lemah, tak lagi bisa menangis, berkata, bahkan untuk bernafas.
“Lena, kamu harus ikhlas.. Eka sudah memenangi olimpiade itu, dia sudah melakukan kewajibannya nak..” Kata mama sambil mengelus rambutku.
“Hiks..hiks.. Lena harus rela ya ma, pa..apa Lena nggak boleh minta satu hal lagi sama Tuhan?..”
“Lena, sudah terlalu cukup banyak yang kita minta dari Tuhan. Biarlah Tuhan melakukan kehendakNya dalam kehidupan kita. Kamu harus rela, tegar menghadapi ini semua, ya..” Aku hanya menangis dipelukan mama, aku mengerti ini kehendak Tuhan, tapi aku merasa tidak rela, mengapa harus Eka?!

@ @ @

Kulingkarkan kalung yang dulu kubeli dileher Eka, itulah kalung yang ingin kuberikan untuknya dihari ulang tahunnya besok. Kukecup keningnya yang terbalut perban, dan kusentuh wajah pucatnya yang terlihat damai, kurapikan jasnya, kubelai rambutnya.
“Kamu kelihatan ganteng Ka, layaknya pengantin pria yang akan bersanding dipelaminan. Ka.. aku udah terima semuanya, ma’kasih buat kemenangan yang udah kamu beri buat aku, kamu bahagia ya..disana. Ka, satu keinginan aku, aku pengen kamu tahu, aku tetap dan selalu sayang sama kamu, dan kamu harus tetap ingat kenangan kita waktu di sekolah, ya..” Aku menggigit bibirku menahan tangisku, kugenggam jemari kakunya yang terlipat didadanya.
“Ka, kamu harus mengenang cinta aku, ingat rasa sayang aku sama kamu, dan teruslah hadir dimimpi dan khayalan aku, ingat cerita cinta kita yang tak pernah terungkap, pergilah.. bawa cinta aku, aku sayang kamu Ka..”
Sekali lagi kukecup keningnya, setelah meletakkan setangkai mawar putih di tangannya aku berdiri, mundur membiarkan Pendeta berdoa untuknya. Air mata tak bisa kubendung lagi saat peti itu tertutup, disitulah tubuh Eka berada. Aku mengiringi peti itu sampai ke pemakaman, semua itu kuikuti dengan hati yang hancur, yang kucoba bangun kembali dengan kekuatanku. Saat peti itu ditimbun aku hanya bisa menahan mataku untuk berhenti meneteskan air mata.
Aku terduduk di samping nisan, meletakkan mawar putih di depannya, di sampingnya terpajang foto Eka, tersenyum manis dan lembut. Air mataku keluar lagi, aku menangis untuk yang kesekian kalinya.

Biarlah kusimpan…. sampai nanti aku,
Kan ada di sana, tenanglah dirimu..
Dalam kedamaian..
Ingatlah cintaku.. kau tak terlihat lagi,
Namun cintamu abadi..
Kubiarkan hpku nyala, aku tak berniat mengangkatnya, karena mereka pasti akan memberi kalimat yang membuat Eka terasa jauh dariku. Aku menggenggam bingkai hitam yang dihiasi wajah polos dan cuek Eka sewaktu MOS, kupandangi matanya yang hitam, Eka seolah-olah nyata dihatiku, seakan-akan dia masih akan ada dan hadir menemaniku, aku menangis lagi.
Biarlah kusimpan…. Sampai nanti aku,
Kan ada di sana,tenanglah dirimu…
Dalam kedamaian….

Aya, februai’08

perawan kampung

Karya Hariya Oktaviany
(Mahasiswa FKIP prodi Bahasa dan Sastra Indonesia)














Sebelumnya aku tidak pernah tahu seperti apa ciuman, seperti apa bercinta, dan seperti apa menjadi wanita cantik. Orang-orang kampung memang memujaku sebagai gadis paling cantik di kampung ini. Bahkan hampir setiap laki-laki di kampung ku bermimpi menikahi ku kelak nanti. Tapi, aku tidak pernah merasa lebih cantik seperti sekarang. Sekarang aku bahkan dipuja lebih dari sebelumnya, aku diberi kemesraan dan kemewahan dalam diriku.

Aku bertemu dengannya ketika dia datang ke kampung ku dan meminta izin membuka sebuah usaha di sini. Tentu saja kedatangan tamu dari kota merupakan sebuah kebanggaan besar bagi warga kampung kami seperti kami. Maka, segala persiapan untuk penyambutan pun dilakukan, dan aku ditunjuk untuk menjadi penari utama dalam tarian penyambutan menurut adat kami. Kami memang harus selalu memberi sebuah penghargaan besar bagi para tamu yang datang, karena menurut adat Dayak Kanayatn, tamu adalah raja selama mereka tidak melanggar adat kami.
Setelah pertemuan pertama itu, aku langsung jatuh hati padanya. Pria berkumis tipis dan rapi seperti ini sangat menarik hati para gadis di kampung, tak terkecuali aku. Aku pun merasakan kalau dia juga menaruh hati pada ku, dan itu pasti. Sejak lima hari kedatangannya, kami pun mulai menjalin hubungan. Hubungan itu terasa indah di hari-hari pertama kami menjalaninya.
“Apa Adik bersedia jika nanti Abang jadikan istri?” Tanyanya suatu malam
Aku terdiam mendengar ucapannya, sungguh hatiku berdetak begitu kencang saking kagetnya.
“Kenapa diam? Apa Adik tidak bersedia?” Tanyanya lagi
Lagi-lagi aku hanya memandang matanya tanpa bersuara,
“Atau Adik menganggap Abang tidak serius?” Dan dia bertanya lagi
Aku memainkan bibirku, “hm…Adik, hm..apa tidak terlalu cepat untuk Abang mengambil keputusan? Bukankah kita baru saja mulai pacaran?” Aku balik bertanya
Dia menggenggam jariku. “Adik tak usah khawatir, meski baru sebentar tapi Abang sudah sangat mencintai Adik. Abang ingin menjadikan Adik sebagai istri Abang, kalau Adik mau Abang akan meminta izin sekarang juga pada Bapak dan Mamak..” Katanya
“Jangan Bang!” Aku segera menahannya. “Bapak pasti tidak akan setuju, apalagi Abang adalah orang asing di sini. Paling tidak biarkan Bapak mengenal Abang lebih dalam lagi sekarang..” Nasihatku padanya
“Tapi, Abang sudah tidak tahan ingin menjadikan Adik istri, Abang ingin sekali segera mencium Adik..” Rayunya
“Maksud Abang itu apa mencium..??” Tanya ku dengan polosnya
“Hm, Dik..di tempat Abang kalau orang sudah pacaran mereka pasti berciuman,”
“Jadi Abang sudah pernah melakukannya?”
“Memangnya kamu belum pernah?”
Aku hanya menggeleng pelan atas pertanyaannya
Dia terkekeh sebentar, “apa benar belum pernah Dik?” Dia bertanya meyakinkan diri
Lagi-lagi aku menggeleng dengan polosnya
“abang ajarin mau?” tawarnya padaku yang langsung mengernyitkan kening. “rasanya nikmat kok dik, pokoknya adik tidak akan merasa rugi setelah mencobanya..”
Aku hanya menggigit bibirku, jujur saja yang namanya ciuman jauh dari khayalanku selama ini. Melihatnya saja aku masih belum pernah. Namun sepertinya dia benar, aku mungkin tidak akan rugi untuk mencoba sesuatu yang baru. Aku pun akhirnya mengangguk pelan.
“nanti adik ikuti saja permainan abang,” lagi-lagi aku hanya mengangguk. Dan aku tidak pernah tahu sejak kapan bibir kami bertemu dan kami saling mencium. Benar, aku begitu menikmatinya. Malam itu berakhir dengan bahagia di hatiku.

Aku masih belum mengizinkannya untuk bicara ada bapak tentang rencana dia akan meminangku. Aku masih ragu bapak mau menerima dia dengan baik, apalagi usaha yang baru akan dia mulai di sini sepertinya terjadi permasalahan mengenai tanah dengan warga kampong. Maka aku dan dia bercinta di balik pengetahuan bapak. Dan mungkin itulah kesalahanku, aku menempatkan cinta pada laki-laki yang belum aku kenal asal-usulnya. Aku pun mengiyakan ajakannya untuk bercinta malam itu di bawah pohon rambutan. Aku merasa bahagia, karena aku yakin dia akan menikahiku.

Namun,
Hari itu hatiku benar-benar hancur berantakkan seperti terkena petir. Saat aku akan memberitahunya bahwa sepertinya aku hamil. Beberapa petugas kepolisian dating dari kota dan langsung menangkapnya. Menurut keterangan polisi, dia adalah satu di antara pengusaha ganja yang menjadi buronan polisi selama ini. Dia memang sengaja masuk ke kampong-kampung yang jauh dari perkotaan agar lebih aman untuk menanam ganja. Hal itu membuat para tetua adat di kampong ku meledak amarahnya. Mereka hamper saja melakukan hukuman sesuai adat istiadat kampong kami padanya dan rekan-rekannya. Untung saja polisi berhasil bicara pada mereka.
Dia pergi tanpa menoleh padaku, dia juga tidak meminta maaf padaku. Dia tidak mencintaiku seperti yang dia katakana selama ini. Dia hanya memanfaatkanku untuk kepuasaannya selama ini. Jadi, apa arti bayi yang ada di perutku saat ini baginya? Aku tidak bisa apa-apa selain menangis di kamar ku. aku bingung akan berkata apa pada bapak. Aku harus bilang apa pada para tetua kampong tentang semua ini? Aku takut aku akan dihukum, aku tidak mau diusir dari kampong ini. Aku tidak mau orang-orang menertawakanku.
Beberapa hari kemudian kampong kami di terjang angin besar dan hujan yang begitu deras. Matahari seakan-akan tidak mau menampakkan wajahnya pada kami, sehingga kami harus menyalakan pelita juga di siang hari karena kegelapan yang begitu pekat. Pada hari ketiga akhirnya para tetua dan kepala rumah tangga berkumpul untuk membahas kejadian ini. Karena menurut kepercayaan kami, hal ini adalah pertanda bahwa nenek moyang kami sedang marah. Dan mereka akan mencari tahu apa penyebab kemarahan para roh itu.
Tong…tong….tong…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Suara kentongan pertanda masyarakat harus berkumpul terdengar nyaring. Dengan terburu-buru masyarakat segera mendatangi rumah panjang kampong kami. Di sana telah menunggu para tetua dengan wajah yang begitu menakutkan.
“adil ka’ talino ba’ sengat ka’ jubata ba’ curamin ka saruga..” terdengar suara temanggung membuka pertemuan
“auk..” sahut masyarakat
“kita berkumpul di sini pasti ada masalah serius yang kita hadapi. Kalian semua pasti sudah tahu apa yang akan kita bicarakan saat ini berkaitan dengan bencana yang menimpa kita tiga hari ini.” Beliau berhenti sejenak. “ada dari kalian para anak muda yang melakukan kesalahan dan pelanggaran berat, apakah kalian mau mengaku atau kalian akan kami panggil?” lanjutnya langsung pada inti pembicaraan
Deg!! Jantung ku terasa tertikam. Aku tahu mereka tahu apa yang terjadi, tapi aku takut. Aku takut untuk menghadap mereka, takut dengan hinaan para pemuda kampong, takut dengan bapak dan mamak, juga aku takut pada hukuman yang akan diberikan nanti. Aku menundukkan kepalaku sedalam mungkin, berharap mereka tidak tahu keberadaanku.
“dara..!”
Mereka memanggilku, mereka memanggilku! Pekik hatiku. Aku semakin berkeringat dingin, aku membenamkan kepalaku lebih dalam lagi. Air mata mulai merembes membasahi wajah dan baju ku. tanpa di beri tahu apa yang terjadi padaku kicauan suara-suara terkejut dan marah bercampur menghina langsung terdengar di telinga ku. aku mendengar suara tangis pecah di belakang ku, ku yakin itu mamak. Aku hanya pasrah.
Hukuman bagi perempuan yang hamil di luar nikah seperti diriku, dalam adat kami harus menjadi orang buangan dan pelayan penunggu gunung keramat di kampong kami. Tidak ada teman, tidak ada kunjungan, tidak ada makanan, tidak ada pakaian. Aku hanya akan dibekali sebungkus nasi dan sebuah kain. Selebihnya akan aku peroleh di sana. Mamak tidak ada bersamaku saat aku dihantar temanggung dan juru kunci ke atas gunung. Bapak bahkan tidak memandang ku saat aku melangkah pergi.
Aku sudah berdosa pada mamak, pada bapak, pada Tuhan, pada orang-orang di kampong ku. aku ingin sekali mendapat kesempatan bertobat, tidak ingin menambah dosa dengan mempersembahkan diri pada makhluk yang tidak aku kenal. Namun, aku juga tidak mau mati di rajam orang-orang kampong karena hinaan yang telah aku lakukan. Aku harus memilih untuk pergi, meski aku tidak tahu apa aku bisa kembali lagi atau aku akan mati.
Semakin jauh aku melangkah, semakin terasa sunyi. Hanya suara angin dan kicauan burung keto yang menyambutku. Hutan itu begitu gelap, begitu lebat dan menyeramkan. Namun aku tidak lagi sempat memikirkan semua itu. Kulanjutkan langkahku hingga akhirnya aku menemukan sebuah sungai. Ku ikuti aliran sungai dengan harapan akan bertemu orang atau jalan kembali ke kampong. Akhirnya benar, aku bertemu seorang pemuda berpakaian sedikit aneh. Ketika dia mengenalkan namanya aku pun tak mampu berbuat apa-apa lagi. Dia adalah penunggu gunung ini, makhluk yang harus aku layani.

media pembelajaran sastra

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa melepaskan diri dari karya sastra. Mulai dari buku, lagu atau musik, lukisan, gambar, dan banyak lainnya. Oleh sebab itu perlu diajarkan mengenai apresiasi sastra kepada siswa agar mereka lebih lagi dapat memahami mengenai sastra dan mampu mengekspresikannya dalam kehidupan mereka. Hal ini membuat guru harus berpikir secara kreatif untuk dapat melaksanakan pembelajaran ini dengan baik. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran apresiasi sastra ini, guru membutuhkan kekreatifitasan melalui penyediaan media. Dengan menggunakan media yang tepat maka pembelajaran dapat terlaksana secara efektif dan siswa dapat memahami pembelajaran lebih maksimal.

1.2 Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan media pembelajaran?
2. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran apresiasi sastra?
3. Media apa yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra dan alasannya menggunakan media tersebut?
4. Bagaimana cara penggunaan media dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra?
5. Apa tujuan akhir yang ingin dicapai dalam pembelajaran apresiasi sastra dengan menggunakan media pembelajaran?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa itu media pembelajaran dan jenisnya.
2. Mengetahui lebih dalam mengenai pembelajaran apresiasi sastra.
3. Mengetahui media apa yang digunakan dalam melaksanakan pembelajaran apresiasi sastra dan alasan menggunakan media tersebut.
4. Mengetahui cara atau langkah penggunaan media dalam pembelajaran apresiasi sastra.
5. Mengetahui tujuan akhir yang ingin dicapai dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra dengan media yang digunakan.
BAB II
MEDIA DALAM PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA


2.1 Pengertian Media Pembelajaran dan Apresiasi Sastra
Kata media berasal dari bahasa Latin medio. Dalam bahasa Latin, media dimaknai sebagai antara. Media merupakan bentuk jamak dari medium, yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Secara khusus, kata tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat. Dikaitkan dengan pembelajaran, media dimaknai sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari pengajar kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Peranan media yang dipilih harus sejalan dengan isi dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Secanggih apa pun media tersebut, tidak dapat dikatakan menunjang pembelajaran apabila keberadaannya menyimpang dari isi dan tujuan pembelajarannya. Berdasarkan definisi tersebut, media pembelajaran memiliki manfaat yang besar dalam memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran. Media pembelajaran yang digunakan harus dapat menarik perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar dan lebih merangsang kegiatan belajar siswa.
Pembelajaran apresiasi sastra adalah pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata. Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut. (1) Pembelajaran sastra berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa. (2) Pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa. (3) Pembelajaran apresiasi sastra bukan pelajaran sejarah, aliran, dan teori sastra.
Tujuan untuk memperoleh pengalaman bersastra dimaksudkan agar siswa memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi sastra. Pengalaman tersebut dilakukan siswa dengan membaca hasil karya sastra, mendengarkan pembacaan karya sastra, menonton pementasan sastra. Jadi dalam hal ini siswa siswa mampu berekspresi sastra melalui pengekspresian karya sastra. Kegiatan pengekspresian tersebut dapat dilakukan dengan cara: menulis (puisi, cerpen, dialog), berdeklamasi, mementaskan drama, dan lainnya. Selain itu juga bisa dilakukan dengan menulis surat kepada penulis hasil karya sastra tersebut. Hasil kreasi atau karya sastra dapat dipakai sebagai media dalam pembelajaran apresiasi sastra.

2.2 Jenis dan Alasan Penggunaan Media Pembelajaran Dalam Apresiasi Sastra
Dilihat dari jenisnya, media terbagi menjadi:
a. Media auditif
Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan suara saja, seperti radio, kaset rekoorder, piringan hitam. Media ini tidak dapat digunakan pada orang tuli atau mempunyai kelainan pendengaran.
b. Media visual
Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip, slides, foto, gambar atau lukisan, dan cetakan. Ada pula yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu dan film kartun.
c. Media audio visual
Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliuti kedua jenis media yaitu auditif dan visual. Media ini masih terbagi lagi dalam :
1) Audia visual murni, yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber seperti video kaset.
2) Audio visual tidak murni, yaitu unsur suara dan unsur gambar berasal dari sumber yang berbeda. Misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya berasal dari slides proyektor dan unsur suaranya berasal dari tape recorder.

Dalam pembelajaran apresiasi sastra ketiga media di atas dapat digunakan, karena sebenarnya ketiga jenis media di atas dihasilkan dari orang-orang yang menikmati sastra dan mengekspresikannya. Seperti yang telah diketahui, hasil karya sastra atas apresiasi sastra oleh para penikmatnya dapat digunakan sebagai media dalam pembelajaran. Ketiga jenis di atas dapat menjadi media dalam pembelajaran apresiasi sastra. Pengajaran apresiasi sastra menuntut kreatifitas seorang guru agar siswa dapat memahami dengan baik materi yang diajarkan. Beberapa media yang digunakan yaitu :
1. Media pembelajaran Stick Wayang Orang (SWO). SWO mencoba memfasilitasi rana imajinasi dan apresiasi siswa terhadap olahhati, olahpikir, dan olahrasa. Lewat media pembelajaran tersebut siswa dapat menepis anggapan bahwa belajar menulis karya sastra, khususnya membuat naskah drama, adalah hal yang sangat berat, menjengkelkan, dan membosankan. Dengan media pembelajaran SWO, siswa dapat bermain dengan imajinasinya. Menafsirkan lewat simbol gambar secara bebas. Memberi batasan sendiri terhadap kreativitas bahasa dialog antartokoh. Merancang tema, amanat, penokohan, dan latar cerita. Tanpa sadar, SWO menjadi hidup yang menceritakan kehidupan imajinasi siswa. Di sinilah, motivasi belajar siswa akan terlihat dengan sendirinya. Lebih penting lagi adalah kecerdasan linguistik verbal apresiasi sastra siswa akan terbangun dengan baik.
2. Media Gambar Berseri. Gambar berseri merupakan sejumlah gambar yang menggambarkan suasana yang sedang diceritakan dan menunjukkan adanya kesinambungan antar gambar yang satu dengan gambar lainnya. dapat disimpulkan pengertian media gambar berseri adalah media pembelajaran yang digunakan oleh guru yang berupa gambar datar yang mengandung cerita, dengan urutan tertentu sehingga antara satu gambar dengan gambar yang lain memiliki hubungan cerita dan membentuk satu kesatuan.
Media gambar berseri merupakan golongan atau jenis media visual gambar daiar. Media gambar memiliki kelebihan sebagai berikut :
a. Umumnya murah harganya, media gambar menggunakan kertas sebagai
bahan baku sehingga harga relatif murah.
b. Mudah didapat, untuk mendapatkannya guru bisa menggandakan dengan
cara memfotokopi.
c. Mudah digunakannya, penggunaan media ini cukup dilihat dengan mata
saja tanpa ada pengguaan alat lain sebagai penyerta.
d. Dapat memperjelas suatu masalah.
e. Lebih realistis.
f. Dapat membantu mengatasi keterbatasan pengamatan.
g. Dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.

2.3 Cara Penggunaan Media Dalam Apresiasi Sastra
Media yang digunakan dalam pembelajaran apresiasi sastra diantaranya adalah media gambar berseri dan media SWO. Berikut penjelasan mengenai langkah atau konsep penerapan masing-masing media pembelajaran :
a. Media Pembelajaran SWO
Aplikasi pengembangan media pembelajaran SWO dalam pelajaran bahasa Indonesia dalam Standar Kompetensi (SK) mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama pada Kompetensi Dasar (KD) menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama. Gambar tanpa dialog atau caption dalam media pembelajaran yang diambil dari potongan koran dan majalah akan dibuatkan dialog bebas oleh siswa dalam bentuk naskah drama. Siswa diberikan kebebasan dalam membuat dialog, mulai dari nama tokoh, perwatakan, tema, isi sampai pada akhir ceritanya. Setelah itu, siswa membacakan naskah drama yang telah dibuat berdasarkan gambar.
Media pembelajaran SWO dibuat dari bahan sederhan dan daur ulang. Gambar orang diambil dari potongan koran atau majalah bekas. Cari gambar yang menarik perhatian siswa. Minimal terdapat 2 sosok gambar manusia untuk memudahkan dalam penyusunan naskah dialog dalam wayang orang. Gambar dari potongan tersebut dilekatkan pada kertas yang agak tebal sehingga bisa tegak berdiri ketika dilekatkan pada sebuah steak atau tangkai es krim, seperti wayang. Pembuatan SWO dapat terlihat Seperti gambar di bawah ini :


b. Media Gambar Berseri
Dalam media gambar berseri ini, guru tidak terlalu repot dalam menyiapkan materi ajar. Cukup dengan mencari gambar berseri dalam sebuah buku, majalah atau koran, dan berikan pada siswa. Cukup dengan modal sebuah buku, majalah, atau Koran guru hanya mengkopi kemudian dibagikan pada siswa untuk dianalisis dan siswa mencari tahu mengenai sesuatu yang terdapat dalam gambar berseri tersebut. Selain mendapatkannya melalui buku dan lainnya, gambar berseri juga dapat dibuat sendiri oleh guru. Setelah dibagikan kepada siswa minta siswa menemukan sesuatu yang terjadi dalam cerita, lalu minta mereka untuk bercerita dengan menggunakan gambar tadi di depan kelas mengenai kejadian yang berhasil disimaknya.

2.4 Tujuan Akhir Penggunaan Media Dalam Apresiasi Sastra
Adapun manfaat ataupun tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran apresiasi sastra melalui dua media pembelajaran tadi yaitu :
a. Manfaat dari media pembelajaran SWO bagi siswa adalah :
1. Motivasi belajar siswa terkait dengan materi pembuatan naskah drama dapat meningkat dengan media pembelajaran dan permainan yang dikembangkan.
2. Kreativitas dan imajinasi siswa diberikan ruang gerak yang luas, sehingga siswa memiliki kemampuan untuk mengapresiasi pikiran dan perasaannya.
3. Stimulasi gambar yang terdapat dalam SWO akan memudahkan siswa dalam membuat dialog dalam naskah drama.
b. Manfaat dari media gambar berseri bagi siswa adalah :
1. Menarik perhatian siswa terhadap materi ajar
2. Memotivai kreatifitasan siswa dalam pembelajaran apresiasi sastra melalui gambar dan lainnya.
3. Kejadian dalam gambar berseri tadi memampukan siswa untuk membuat dialog dan berbicara tentang kejadian tersebut.
4. Melatih daya pikir dan kemampuan siswa dalam menganalisis gambar.
Pada umumnya kedua media ini memberikan manfaat dan memiliki tujuan yang sama dalam pembelajaran bagi siswa mengenai apresiasi sastra. Keduanya sama-sama bertujuan untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam mengapresiasikan sastra dan mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Selain itu standar kurikulum dan kompetensi dasar dalam kurikulum pun dapat tercapai.



BAB III
PENUTUP


3.1 Simpulan
Dalam setiap pembelajaran sebenarnya membutuhkan media yang tepat untuk menunjang kebutuhan siswa dan mengefektifkan siswa dalam memahami materi ajar. Dalam pembelajaran apresiasi sastra pun demikian. Media yang digunakan dapat berupa media audio, auditif, mauun audiovisual. Ketiga media ini dapat menunjang kebutuhan guru dan siswa dalam pembelajaran apresiasi sastra. Media-media yang digunakan dua diantaranya adalah media pembelajaran SWO dan media gambar berseri. Dalam melaksanakan kedua media ini guru pun dapat mencari dan membuatnya dengan mudah, karena keduanya memiliki sifat sederhana. Dengan adanya kedua media tersebut dalam pembelajaran dapat dipastikan siswa akan mengikuti proses pembelajaran dengan baik, bersemangat, dan bergairah. Dengan adanya kekuatan tersebut, maka tujuan akhir dari pembelajaran pun dapat tercapai.

3.2 Saran
Dalam pembelajaran di sekolah-sekolah, masih sering didapati bahwa guru-guru tidak dapat menggunakan media pembelajaran, bahkan tidak berinisiatif dalam mencari dan membuat media pembelajaran bagi siswanya. Padahal sebagai seorang guru kita dituntut untuk memiliki kreatifitasan dalam mendidik siswa. Oleh sebab itu, dengan adanya kedua media di atas dapat dirasakan cukup baik jika terlaksana. Kedua media tersebut dapat menjadi inspirasi bagi siswa maupun guru dalam melaksanakan pembelajaran. Dengan begitu, setiap kali melaksanakan pembelajaran guru dapat menggunakan kedua media tersebut sehingga siswa mampu menerima dan memahami setiap materi ajar dalam apresiasi sastra.






DAFTAR PUSTAKA


http://www.google.com/pengertian apresiasi sastra
http://www.google.com/pengertian media pembelajaran
http://www.google.com/jenis media pembelajaran dalam bahasa Indonesia
http://www.google.com/penggunaan media pembelajaran
http://www.google.com/media dalam pembelajaran apresiasi sastra

Bertahan



Hari ini aku memutuskan untuk bangun lebih pagi, aku sudah berkomitmen untuk bersaat teduh pada pukul 05.00 setip hari. Alarm sudah membangunkanku dari setengah jam yang lalu, tapi mataku sepertinya terjahit sehingga susah sekali untuk dibuka. Akhirnya aku bersaat teduh pada pukul 05.40, telat tiga puluh menit lebih. Tidak mengapa, toh aku kan baru belajar ujar hatiku menenangkan diri. Hari ini aku akan mengunjungi dia lagi, meski banyak orang berpikir aku gila, tapi apa salahnya aku toh tidak melakukan kesalahan atau pelanggaran.
“Hei..apa kau tahu, hari ini aku harus berlari selama dua puluh menit dari kejaran supirku, agh..aku sungguh tidak mengerti, ada apa dengan orang-orang itu..kenapa tidak membiarkan aku bertemu denganmu??..membosankan hidup seperti ini..” Keluhku, dan dia hanya diam dan tersenyum tipis.

Aku paling membenci senyum itu, senyum yang selalu membuatku tidak konsentrasi saat belajar. Berani sekali dia menggangguku dengan senyum manisnya itu. Dasar beruang kutub! Maki hatiku. Kubiarkan dia menghampiriku meski tak menghampiriku secara langsung, tapi dia sengaja menggodaku dengan cara itu. Dia pikir aku peduli? Gerutu hatiku. Tapi aku memang peduli, buktinya aku kesal..hah.
Seperti hari minggu yang lalu-lalu, hari ini pun aku bersiap berangkat iibadah. Tiba-tiba ada sms masuk, “ibadah bersama, oke?” aku tidak sadar bibirku menyunggingkan senyuman. Mulai hari itu kami selalu beribadah bersama. Aku merasa sangat bersemangat, aku semakin memulihkan hubunganku dengan Tuhan, aku dan dia akan bersama-sama melakukan saat teduh melalui handphone, dan kami juga terkadang mengikuti KKR dan seminar bersama. Sejak hari dimana aku memiliki dia, aku merasa hidupku sempurna. Aku memiliki Tuhan yang baik, orang tua yang mendukungku, teman dan sahabat yang selalu ada buatku, dan terutama pacar yang selalu membuatku merasa sempurna. Setiap masalah dapat aku atasi dengan baik.
Hari ini kami liburan bersama, berjalan-jalan ke pantai terasa sangat menyegarkan pikiranku. Benar-benar mengasyikan. Sambil bergandengan tangan aku dan dia berjalan menyusuri pantai. Bermain dengan kerikil, kepiting dan kerang yang terhempas ombak, dan bermain dengan pasir yang hangat.
“Apa kau merasa bahagia hari ini?”
“Meskipun tempat ini seribu kali aku datangi, aku tetap merasa bahagia. Pantai membuatku merasa nyaman dan tenang. Dan aku selalu ingin ke pantai bersamamu..”
Dia menggenggam jemariku erat, “Maukah berjanji untuk terus bersemangat seperti ini?” Tanyanya
Aku mengangguk, “Aku akan selalu bersemangat karena dirimu..”
Sambil tersenyum dia melepaskan jariku, dan merogoh sakunya. “Aku sudah lama ingin memberikan ini padamu..” Sebuah kalung terggenggam ditangannya, “Ini adalah kalung yang aku ukir sendiri, dan aku pernah berjanji akan memberikannya untuk cintaku..”
Aku tersenyum lebar saat dia memasangkan kalung itu, kalung yang memiliki lingkaran-lingkaran kecil di tengah lingkaran besar, seperti gelembung-gelembung yang berdenting. Ingin rasanya memeluk tubuhnya yang kurus itu, tapi aku tahu, aku tidak bisa melanggar komitmen kami untuk tidak saling memeluk sebelum masa pacaran menginjak usia 5 bulan. Terkadang aku merasa lucu, dulu aku mengira dia pria yang sama dengan yang lainnya tapi ternyata berbeda. Dan aku beruntung memiliki hal yang berbeda itu.

Dengan tergesa-gesa aku menyusuri koridor rumah sakit itu, telepon yang baru saja aku terima membuatku merasa seperti sedang berjalan dalam mimpi. Katanya dia kecelakan, saat berdiri di atas batu dia tergelincir dan terjatuh dari tebing. Kepalanya mengalami gangguan, tidak tahu seberapa parahnya. Aku tidak percaya dia akan pergi ke pantai sendirian, kenapa dia tidak mengajakku? Kenapa dia harus tidak berhati-hati? Ada apa dengannya? Aku melangkah memasuki ruangan sambil menggenggam kalungnya.
“Apakah dia baik-baik saja..”
Tak ada yang menyahutiku. Ibunya langsung memelukku, “Ini semua kesalahanku, dia selalu merasa tertekan dengan pertengkaran kami, untuk mencari ketenangan dia pergi ke pantai. Aku tidak tahu kenapa dia harus terjatuh?”
Aku terdiam, aku tidak pernah tahu tentang keluarganya yang broken home, dia tak sepenuhnya membuka tentang dirinya padaku. Oh..kenapa baru aku sadari sekarang? Aku hanya bisa membalas memeluk tubuh wanita itu tanpa tahu harus berkata apa.
Kecelakaan itu memang tidak membunuhnya, tapi membuatnya seperti seorang boneka. Dia hanya berdiam diri dan terkadang berteriak tak jelas. Dia akan melempar semua yang ada disekitarnya kalau dia merasa tergganggu. Dia tidak pernah merespon ujaranku kecuali dengan senyum sinis itu. Aku merasa hidupku mulai tertekan, masalah datang bertubi-tubi. Teman-temanku mulai melarangku untuk berhubungan dengannya, bahkan orang tuaku mulai membatasi jadwal kunjunganku. Tidak hanya itu, aku merasa aku hanya berjalan sendirian, Tuhan tak lagi bersamaku. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Aku berusaha memulihkan dirinya, agar dia ingat siapa dia, siapa aku, siapa mereka yang terus menarikku pergi saat bertemu dengannya. Ingin rasanya aku berhenti berdoa atau bersaat teduh. Aku kecewa, kecaewaku membuatku hampir melupakan siapa yang memberikan hal berbeda ini padaku. Aku berusaha tidak melupakan siapa yang menjadi nafas dalam diriku. Aku berusaha terus mengingat siapa Tuhan. Meski sejujurnya hatiku selalu merasa kecewa, tapi aku tak bisa untuk tidak menyapanya dengan mulutku. Lelah..aku sudah lelah.
Ketika aku merasa dunia akan berakhir, seseorang menyadarkanku, katanya “hidup tidak akan sempurna tanpa masalah dan cinta. Keduanya adalah kunci untuk kita menjalani hidup ini. Masalah menjadikan kita dewasa dan cinta memberikan kita kekuatan.” Aku mulai memahaminya. Kenapa aku harus merasa lelah, kenapa aku harus menyia-nyiakan kasih-Nya? Aku dan dia sedang diberi jamuan masalah sekarang, kalau kami mampu menghabiskannya, kami akan menikmati kekenyangan bahagia. Aku mulai menata hidupku kembali, tidak peduli seberapa banyak orang yang mendukung dan menghalangiku.
Aku menggenggam kalungnya, menunjukkannya dihadapannya, berharap dia mengingatnya. “Kau selalu memintaku untuk bersemangat bukan? Maaf kalau aku sempat menangis..ayo kita ke pantai..”
“Pantai..” Aku tersenyum melihat reaksinya. Kata dokter keadaaanya sudah membaik. Bertolak dari perkiraan dokter selama ini, aku beryukur untuk semuanya. Aku merasa tak ada yang sia-sia saat aku bertahan selama ini.
“Agh..berapa bulan tidak ke pantai aku sungguh sangat merindukan ombak..apa kau juga merindukan ombak?”
Dia mengangguk pelan, dan kami berjalan bergandengan menyusuri pantai dan bermain di tebing. Meski setelah itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Dia menghilang, entah pergi kemana. Sejauh apa pun aku mencarinya tetap saja aku tidak bisa menemukannya. Akhirnya aku tahu, keluarganya memindahkannya. Dan saat ini, aku sedang mencarinya dan menunggu keajaiban Tuhan untuk cintaku. Entah sampai kapan aku mampu bertahan, tapi aku tahu ada kekuatan besar yang membuaatku akan terus bertahan. Dan sekali lagi aku berkata,
“Aku telah berjanji untuk selalu bersemangat karena dirimu..”

tentang rasa

Naskah Drama

Tema : Sosial (Kehidupan remaja)
Judul : RASA..
Pemain : RIA TRI WAHYUNI sebagai ESSI
RAYMUNDUS WENDY sebagai EDO
ONGTIANA SEVIDRA sebagai VINA
HARIYA OKTAVIANY sebagai OKTI
NUREMI sebagai LIA
UTARI sebagai DINA
HADILAH sebagai EVI
JUNIARTI sebagai BU ANI
JUMANUS sebagai PAK EDI dan PENJUAL
SABINUS SASMI sebagai ENDA dan POLISI II
TRIYONO sebagai IPAN

Dosen Pengampu : Drs. Parlindungan Nadeak, M.Pd
Martono, M.Pd







April 2011
21.20
Babak I
Adegan I
Pria itu setengah berlari menyusuri lorong dengan gunting di tangan kanannya yang berlumur darah. Dibelakangnya seorang pria menyusul dengan muka marah, tidak jauh di belakangnya menyusul dua pria berseragam.
Pria I : “Aku tidak melakukannya..aku tidak melakukannya..!!!” (sambil mengacung-acungkan guntingnya)
Pria II : “Kau harus bertanggung jawab, aku tidak akan melepaskanmu..! (sambil meninju)
Polisi : (menahan pria II) “Cukup, masalah ini akan ditangani polisi, anda jangan main hakim sendiri..”
Pria II : (mengacungkan telunjuknya) “Dia membunuhnya..dia pembunuh! Aku akan membunuhnya juga..!”
Polisi : (menahan pria I) “Ayo ikut ke kantor!”
Pria I : “Tidak..aku tidak melakukannya..” (dengan memberontak)
Polisi : “Silahkan jelaskan di kantor kami, ayo!”
Pria itu diseret menuju kantor polisi, meski kesal pria yang mengejarnya hanya mengikuti dari belakang.

Adegan II
Ruangan itu terlihat lengang, sepertinya tak ada seorang pun yang berada di sana. Lampu yang menerangi pun terlihat temaram, berayun-ayun pelan seperti sedang mengejek seseorang yang sedang berada di sana. Kedua tangannya terborgol dan kepalanya menunduk tak pernah diangkatnya. Raut wajahnya seperti tanpa rasa. Sedangkan didepannya seseorang dengan wajah garang sedang membolak-balik sebuah berkas.
Polisi : “Apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan?”
Pria itu hanya menggeleng pelan
Polisi : “Mengapa kau melakukannya?”
Lagi-lagi pria itu hanya menggeleng
Polisi : “Apa yang membuatmu melakukan hal itu?”
Gelengan kepala pria itu semakin pelan, bahkan terlihat sangat tertuduh
Polisi : (meletakkan berkasnya) “Apa hubungan kau dan korban?”
Pria : (mengangkat kepalanya pelan) “Kekasih..”


Desember 2010
07.15
Babak II
Adegan I
Ruang makan itu terasa sepi, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring disertai decakan lidah yang mengunyah. Keluarga Edi sedang sarapan pagi saat itu. Memiliki dua orang anak perempuan, istrinya telah meninggal dunia lima bulan yang lalu. Kematian istrinya membuat Pak Edi berubah sikap terhadap puteri keduanya, Essi. Dia selalu mengandaikan saat itu Essi mau menuruti kata-katanya, tidak mungkin musibah itu terjadi. Tabrakan yang merenggut wanita yang dicintainya tidak mungkin akan terjadi. Essi terlihat sedikit cemas, dengan memberanikan diri diletakkannya sendok dan sapu tangannya.
Essi : “Ayah..”
Pak Edi menggumam kecil,
Essi : (tampak ragu-ragu) “Ayah..apa malam ini aku boleh keluar?”
Evi : “Kau mau kemana?” (sambil meneguk minumannya)
Pak Edi : “Apa acara kampus?” (tanpa menatap wajah Essi)
Essi : (menggeleng) “Bukan Yah, tapi Lia mengajakku ke acara Trend Model malam ini..”
Pak Edi : “Apa kau masih butuh jawabanku?” (kembali melanjutkan sarapannya)
Essi : “Tidak Yah..” (menunduk kecewa)
Essi menunduk, dia tahu acara keluar malam ini pasti tidak akan terwujud lagi. Lebih baik diam dari pada Pak Edi melarangnya keluar akhir minggu ini. Evi ikut meletakkan sendoknya, meneguk susunya kemudian.
Evi : “Ipan mengajakku ikut melihat pameran malam ini, apa Ayah tidak keberatan?”
Pak Edi : “Kau tahu batas keluarnya kan..”
Evi : (tersenyum tipis) “Baiklah, aku akan pulang telat malam ini, makan malam biar aku pesankan..” (berdiri)
Evi mangambil tasnya kemudian berangkat kerja, Essi hanya mendengus kesal melihat tingkah kakaknya. Pak Edi selalu memperlakukan mereka dengan berbeda. Alasannya tak pernah bisa dimengerti oleh Essi. Kakaknya pernah mengatakan Pak Edi berbuat seperti itu karena rasa sayangnya pada mereka. Namun tetap saja Essi tak bisa mengerti. Dengan kesal Essi pun mengangkat tasnya dan berangkat kuliah.

Desember 2010
11.54
Adegan II
Vina baru saja pulang dari kampus, cuaca cerah membuatnya bersemangat, ditambah hari ini dia akan pergi bersenang-senang dengan ibunya setelah seminggu ibunya pergi tugas keluar kota. Dengan senyum lebar dia merebahkan tubuhnya ke kursi. Vina memang hidup berdua saja dengan ibunya, orang tuanya bercerai setahun yang lalu. Sejak itu dia seperti hidup sendirian, ayahnya tidak pernah mengunjunginya, ibunya harus memimpin bisnis butiknya, membuatnya tidak memiliki waktu yang cukup untuk Vina. Namun hari ini Ibu Ani tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan, tentunya Vina merasa sangat bahagia. Tidak lama dia mendengar suara sepatu turun dari atas, muncul dari balik pintu seorang wanita yang masih terlihat muda meski pun putrinya sudah berusia 20 tahun. Senyum vina hilang saat dia melihat busana ibunya.
Vina : “Ada apa bu?”
Bu Ani : “Agh..sayang, maafkan ibu, ternyata hari ini ada rapat mendadak jadi acara kita di tunda lagi..” (sambil membelai rambut putrinya itu)
Vina : (menepiskan tangan ibunya) “Selalu begitu, aku paham..” (melangkah pergi)
Bu Ani : “Rapat ini sangat penting Vina, klien menginginkan hasil yang sempurna..”
Vina : (berbalik) “Apakah aku bertanya pada ibu?!”
Vina menutup pintu kamarnya meninggalkan Bu Ani yang hanya menggeleng dan kembali melangkah menuju garasi. Vina mengintip kepergian ibunya, dia tidak percaya ternyata masih ada ibu yang mementingkan orang lain dibanding anak sendiri.
Vina : (meletakkan telepon genggam ditelinganya) “Halo, Dina, apa kau punya waktu?”
Tidak lama Dina datang ke rumah Vina. Dina mendapatkan temannya itu sedang melamun di depan rumahnya. Dengan pelan Dina mendekati sahabatnya itu.
Dina : “Kau membuat bunga itu tidak berani mekar karena tatapanmu..”
Vina : “Apa aku harus memperdulikannya? Bukannya dia hanya setangkai bunga?”
Dina : (mengambil posisi di samping temannya itu) “Kenapa lagi hari ini?”
Vina : (mendengus) “Wanita itu benar-benar sudah tidak peduli lagi padaku..”
Dina : (meletakkan tasnya) “sepertinya hidupmu memang sangat rumit,”
Vina : “maksudmu?”
Dina : (mengangkat bahunya) “ha..ayo bersenang-senang, bukankah malam ini ada acara Trend Model?”
Vina : (tersenyum) “Edo..”
Vina menoleh kearah Dina, dia baru ingat, malam ini Edo, teman SMPnya dan pujaan hatinya yang kini menjelma menjadi seorang model, akan menjadi bintang tamu di acara itu. Tanpa banyak bicara dan sambil tersenyum dia masuk kamar dan mempersiapkan dirinya. Dina tersenyum tipis melihat tingkah temannya, kemudian menyusul Vina dari belakang.

Desember 2010
19.20
Adegan III
Malam ini acara Trend 2010 akan diadakan dalam rangka akhir tahun. Lia dipercayakan untuk menjadikan modelnya sebagai bintang tamu malam ini. Dengan gelisah Lia membolak-balik telepon genggamnya. Edo masih belum terlihat batang hidungnya, padahal pukul 19.30 acara sudah mulai. Enda yang juga menjadi bintang tamu malam itu merasakan kegelisahan Lia. Dia sendiri sudah bersiap dari tadi, dia menghampiri Lia.
Enda : “Aku sudah menghubungi Okti, katanya mereka sedang dalam perjalanan, apa kau sangat khawatir?” (sambil mendekati Lia)
Lia : “Apa masih harus dijelaskan?” (memalingkan mukanya)
Enda : “Hm..hm..Edo sudah datang..”
Lia : “Dimana?”
Enda : “Diparkiran..”
Lia : “Apa aku terlihat begitu lucu??” (terlihat marah)
Enda hanya tertawa, Lia memang wajar merasa khawatir dengan keterlambatan Edo. Lia bisa dikatakan sebagai manajer mereka berdua, tapi karena Edo masih kuliah juga maka Edo adalah anak buah yang paling merepotan bagi Lia. Tidak lama dua orang masuk dengan tergesa-gesa.
Edo : “Apa aku akan dipecat?” (langsung membuka jaketnya dan merapikan pakaiannya)
Okti : “Maaf, aku tertidur..” (meletakkan tas Edo)
Enda : “Kau tahu? Hampir saja petir menyambarku beberapa menit yang lalu,,hehe”
Edo : “Apa separah itu?” (berpaling kearah Lia)
Lia : (mengacak pinggang) “Apa aku harus mengeluarkan jurusku untuk membuat kalian diam?!!”
Okti : (merangkul bahu Lia) “Kau terlihat cantik saat marah..”
Edo dan Enda hanya tertawa kecil melihat tingkah Lia yang sedang panas. Edo siap-siap didandani. Okti segera keluar untuk mengambil posisi terdepan. Dia bertugas untuk mendokumentasikan setiap langkah kedua temannya itu. Acara malam itu berjalan dengan lancar. Begitu pintu dibuka suasana di depan café yang tadinya biasa saja berubah menjadi suara gaduh sebentar. Tidak lama Edo keluar, tampak seseorang bersandar di ujung pintu.
Edo : (menghampiri Lia) “Bukankah kau akan memperkenalkan temanmu?”
Lia : (menutup teleponnya) “Dia baru saja menelepon, seperti biasa..ayahnya tidak akan mengijinkannya keluar..sudahlah..” (melangkah pulang)
Okti yang baru saja keluar mendapati Edo sedang bingung menatap jalan
Okti : (mendekati Edo) “Ada apa?”
Edo : (berpaling ke arah Okti) “Aku hanya bertanya apakah aku dipecat atau tidak..he..”
Okti : “He he..sudahlah, waktunya makan, ayo..” (berjalan pergi)
Edo : “Apa kau traktir aku?” (sambil berlari kecil menyusul Okti)

Desember 2010
16.45
Babak III
Adegan I
Café itu hanyalah sebuah café berukuran kecil, namun tempat itu sangat tepat untuk tempat mengobrol, dan disinilah Lia dan Essi menghabiskan waktu mereka. Akhir minggu adalah waktu yang sangat berarti untuk Essi, karena hanya pada akhir minggu ayahnya mengijinkannya untuk keluar bersama teman-temannya. Lia dan Essi memang bersahabat dari SMA. Sore itu Essi dan Lia bertemu, seperti biasa mereka membicarakan mengenai kabar dan pastinya Edo, pria yang akhir-akhir ini sering Lia bicarakan padanya.
Essi : “Aku tidak tahu bagaimana lagi menghadapi ayahku..” (sambil memainkan gelasnya)
Lia : “Maaf, aku juga tidak bisa membantu, ayahmu memiliki alasan tersendiri untuk melakukannya.”
Essi : “Apa kesalahanku menjadikan aku bukan lagi putrinya?”
Lia : “Meski dia bersikap tidak adil padamu, dia bukanlah ayah yang jahat..kau tahu itu..” (meneguk minumannya)
Essi : “Membosankan bicara mengenai dia..oh..bukan kah kau tadi ingin bicara tentang Edo?”
Lia : “Benar, bicara mengenai pria memang menghilangkan ketidaknyamanan hehehe…”
Essi : “Ayolah..apa kau ingin aku mengingatnya lagi??”
Lia : “Ah..Edo ingin sekali bertemu dengan anak ayah sepertimu..dia selalu menggangguku dengan pertanyaannya..hah..”
Essi : (meneguk airnya) “Apa kau membicarakan semuanya padanya??”
Lia : “Hm..hanya mengatakan kalau kau memiliki ayah yang sangat sangat baik..hehe”
Essi : “Baiklah..sepertinya aku harus kembali sekarang..” (mengambil tasnya dan berdiri)
Lia : (menatap Essi bingung) “Bukannya ini akhir minggu, apa kau tidak ingin keluar?”
Essi : “Aku tidak mengatakan aku akan pulang, aku hanya tidak ingin menghabiskan waktuku dengan melihat pepohonan dan jalanan saja..ayo..”
Lia : “Oh..ayo..”
Mereka berjalan baru beberapa langkah ketika telepon Lia berbunyi,
Lia : “Halo..apa kabar.. Apa harus hari ini? Baik..baik..aku akan segera datang..” (menutup teleponnya)
Essi : “Sepertinya aku akan keluar sendirian saja..”
Lia : “Apa kau tidak apa-apa aku tinggal sendirian?”
Essi : “Memangnya aku anak kecil..sudahlah pergi sana..”
Lia : “Ha..baik, aku pergi, sampai jumpa lagi..”
Lia meninggalkan Essi sendirian. Essi melanjutkan langkahnya, mungkin memang malam ini akan berakhir dengan tidak mengenakkan. Tidak lama berjalan tiba-tiba dia tertarik dengan toko didepannya, sepertinya itu toko aksesoris baru. Dia melangkahkan kakinya menuju toko itu.
Penjual: (segera berdiri) “Mau beli apa gadis cantik? Toko kami memberi akseosris terbaik dan memiliki keberuntungan sendiri..”
Essi : “Keberuntungan?”
Penjual: (mengambil sebuah cincin) “Benar, menurut legenda, cincin ini akan melindungi dan memberi keberuntungan bagi siapa yang berjodoh untuk memilikinya..”
Sementara itu Edo dan Vina memasuki toko, Vina asyik memilih gantungan tas ketika Edo melangkah kearah Essi dan ikut melihat cincin.
Essi : (meraih cincin tadi) “Cantik..apa dia akan memilih aku untuk memilikinya?”
Edo : (tiba-tiba ikut bicara) “Itu hanya sebuah legenda, cincin adalah benda mati, tidak akan mungkin bisa memilih seperti makhluk hidup.”
Essi : (sedikit terkejut dengan kedatangan seorang pria disampingnya) “Aku hanya ingin tahu..bukankah terkadang mitos atau legenda memiliki kebenaran juga?”
Edo : “Yang aku tahu kebenarannya adalah, cincin itu indah dipakai oleh jarimu..hm..”
Vina : (memasang sebuah cincin dijarinya) “Apa cincin ini kau lihat bagus juga dijariku?” (tiba-tiba menyodorkan jarinya pada Edo)
Edo : “Vina, bukankah kau ingin membeli gantungan tas, kenapa tiba-tiba memilih cincin juga?”
Vina : “Tiba-tiba aku merasa tertarik dengan cincin ini, bukankah kau memuji dia karena cincinnya?” (melirik sinis kearah Essi)
Edo : (menggeleng kepalanya) “Kau ini kenapa? Baik, kalau sudah selesai aku antar kau pulang..” (melangkah keluar)
Vina : (meletakkan cincinnya dan mendekat kearah Essi) “Jangan merasa dia tertarik pada gadis sepertimu..”
Essi : “Maaf, aku hanya membeli sebuah cincin..” (berlalu menuju kasir)
Essi merasa perkataan gadis tadi membuatnya benar-benar jenuh dan memutuskan untuk pulang lebih awal. Meski ada gadis yang memandangnya sinis saat pria itu memujinya, Essi tidak dapat menghapus kenangan itu. Baginya pria itu terlihat sangat hangat. Entah kenapa jantungnya berdetak kencang tadi, saat pria itu berkata dia terlihat cantik dengan cincin itu. Mungkin benar toko itu memberi aksesoris keberuntungan bagi pengunjungnya.


Desember 2010
22.14
Babak IV
Adegan I
Essi sedang membaca saat Evi, kakaknya masuk. Sambil mengunyah potongan roti Evi duduk mendekat kearah Essi. Dan menghabiskan rotinya. Mereka hanya berbeda tiga tahun lebih, dulu hubungan mereka sangat dekat. Namun kini, Evi terlihat sangat sibuk, sampai-sampai Essi tak mengerti dengan kesibukan Evi apa.
Evi : “Apa kau tidak keluar?”
Essi : “Aku hanya sedang malas, kau sendiri?”
Evi : “Bosan..apa kau membenci Ayah?”
Essi : “Apa kita harus membicarakan hal itu lagi?”
Evi : “Aku hanya takut kau membenciku juga, makanya meski menimbulkan pertengkaran aku juga tetap ingin menanyakan hal itu..”
Essi : (meletakkan bukunya) “Kak..kau tahu aku tidak mungkin membenci Ayah, aku hanya merasa lelah dia perlakukan seperti itu..”
Evi : “Maaf, aku tidak mampu membantumu, sepertinya aku bukan kakak yang baik, hm..apa kau merasakannya?” (menunduk)
Essi : “Aku sangat merasa, tapi bukankah semua kakak di dunia ini memang menjengkelkan?”
Evi : (memandang wajah Essi) “Benarkah? Benarkah aku menjengkelkan?”
Essi : “Kak, kau kenapa bertanya terus..apa tidak lelah? Sudahlah lebih baik kau keluar dari kamarku..”
Evi : “Ha..baik, agar aku dianggap kakak yang baik, aku akan segera pergi..tapi,”
Essi menatap kakaknya
Evi : “Baik..baik..aku akan pergi..” (keluar dan menutup pintu)


Desember 2010
19.54
Adegan II
Dina dan vina sedang asik ngobrol ketika Bu Ani datang. Setelah berganti pakaian Bu Ani menghampiri mereka berdua. Vina tak mengindahkan kehadiran Bu Ani, meskipun jemari Bu Ani membelai rambutnya lembut.
Bu Ani : “Apa kau masih marah padaku?”
Vina : (mengacuhkan pertanyaan Bu Ani) “Dina, apa kau tidak merasa lapar? Ayo kita makan..” (berdiri)
Dina : “Vina, Ibumu sedang bicara padamu..” (menahan lengan Vina)
Vina : “Apa dia akan peduli dengan jawaban dariku?”
Bu Ani : “Vina, kau ini kenapa? Apa aku seburuk itu sampai kau membenciku begini?”
Vina : (menatap ibunya) “Bu..kenapa kau selalu menempatkan aku pada posisi bersalah? Kenapa harus membuat aku merasa berdosa padamu?”
Bu Ani : “Vina..kenapa kau bicara seperti itu? Apa aku benar-benar bersalah padamu?’
Vina : “Apa Ibu merasa bersalah?”
Bu Ani : (menggeleng pelan dan berpaling ke arah Dina) “Dina, Bibi minta kau memberi pengertian padanya..Vina aku hanya ingin kau mengerti pekerjaanku sangat penting..” (melangkah masuk)
Vina : (terduduk kembali) “Apa kau akan menyalahkanku juga?”
Dina : “Memangnya aku teman ibumu? Sudahlah..kenapa kau harus marah besar seperti ini, bukannya ini sudah pernah terjadi sebelumnya, seharusnya lebih mudah untukmu melewatinya..”
Vina : “Kau tahu, kalau kerang di laut habis, maka batu karang akan menjadi kerdil..hal itu pun berlaku sama untukku..kesabaranku telah habis..”
Dina : “Ah..lupakan saja..eh, bukannya kemarin kau pergi dengan Edo, kenapa kau tidak menceritakannya?”
Vina : (memasang wajah lebih kesal) “Dia membuatku jengkel, sepertinya dia tidak berubah..”
Dina : “Apa dia menggoda gadis lain didepanmu lagi?” (sambil minum)
Vina : “Kali ini aku merasa dia benar-benar tertarik dengan gadis itu..”
Dina : “Dulu kau juga berkata begitu..”
Vina : “Kali ini yang berbicara adalah matanya, apa kau masih bisa bilang dia hanya sekedar menggoda?”
Dina hanya mampu mengedipkan mata, dina tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang Edo lagi. Edo satu-satunya pria yang disukai Vina, dari dulu sampai sekarang, tapi bagi Edo Vina hanya seorang teman tidak bisa lebih dan kurang. Tapi Vina tak pernah menyerah. Sebagai teman Dina hanya memberi nasehat dan menjaga Vina saja.



Desember 2010
18.34
Babak V
Adegan I
Akhir minggu ini Lia mengajak Essi keluar, malam ini Lia akan memperkenalkan Edo pada Essi. Mereka menunggu cukup lama sebelum seseorang datang dan menghampiri mereka. Essi tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat siapa yang diajak Lia untuk bertemu dengannya. Meski kejadian itu seminggu yang lalu tapi dia masih ingat dengan jelas wajah pria itu. Dan sekarang pria itu berada lagi didepannya dan memperkenalkan dirinya dengan nama Edo. Sedikit bingung Essi ikut duduk kembali, Edo hanya sedikit terlihat terkejut tapi dia lebih santai dibanding Essi.
Edo : “Hm..apa kau mengenalku?”
Essi : “Ah..ha..mungkin..”
Lia : (menatap bingung wajah Edo dan Essi secara bergantian) “Memangnya kalian pernah bertemu?”
Edo : “Kalau melihat cincin aku pasti akan ingat padanya..”
Lia : “Cincin??”
Essi : (terlihat malu)“Apa kau masih ingin menertawakan aku gara-gara cincin itu?”
Edo : “Memangnya aku pernah menertawakan kau memakainya? Meskipun aku tak percaya dengan legendanya, tapi aku percaya mataku benar kalau kau terlihat manis dengan benda itu..” (memainkan gelasnya)
Lia : “Edo, sepertinya kau terlalu menggunakan bahasa yang gombal, apa tidak berlebihan..”
Okti : (tiba-tia datang) “Bukannya Edo memang orang yang seperti itu? Kau seperti baru mengenalnya saja..”
Edo : (mendengus) “Kau selalu telat, dan juga terlalu suka sok tahu..”
Okti : “Paling tidak aku tidak sepertimu, yang pelit untuk mengenalkan calonnya padaku..”
Lia : “Oh..Essi, ini Okti, dia sahabat baik Edo, juga sebagai asistennya..”
Essi : “Oh..apa kabar..”
Okti : “Hai..apa kabar..aku harap kau tak berburuk sangka dengan kedekatanku dan Edo,” (mengambil posisi di sebelah Edo)
Essi : “Apakah aku terlihat seperti itu..” (mengambil gelasnya)
Lia : “Baik, ayo sekarang makan..”
Edo : “Ha..benar, aku sudah tidak tahan lagi untuk makan..ayo..”
Itu adalah pertemuan kedua kalinya antara Edo dan Essi, dan merupakan langkah awal dalam hubungan mereka. Meskipun Essi hanya bisa keluar pada akhir minggu tapi mereka terlihat semakin dekat, dapat dikatakan mereka sedang menjalin sebuah benang merah dalam hati mereka. Di sisi lain Vina menahan kesalnya. Dugaan dan ketakutannya akhirnya terjadi juga. Edo memang tertarik pada Essi, gadis yang dilihatnya di toko aksesoris waktu itu. Dia merasa sekarang Edo bahkan mulai mengacuhkannya dan lebih memilih untuk jalan-jalan dengan Essi.

Adegan II
Vina : “Aku tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran Edo, Essi itu gadis berjilbab, culun yang hanya boleh keluar pada akhir minggu saja, kenapa? Kenapa harus dia?!”
Dina : “Dari dulu sampai sekarang Edo memang hanya menganggapmu sebagai teman, kau kenapa tidak bisa menerima saja?”
Vina : (memandang Dina yang sedang duduk) “Dina, kau tahu aku mengharapkan Edo berapa lama? Hampir delapan tahun..”
Dina : “Bukannya kau cantik, dan kau lebih gaul dibandingkan Essi, kenapa harus terus menjatuhkan pilihanmu pada Edo. Sebenarnya apa yang kau cari dari Edo?”
Vina : “Apa kau tidak mengerti cinta? Apa kau tidak mengerti artinya cinta?” (melangkah pergi)





Januari 2011
14.20
Babak VI
Adegan I
Meskipun pendekatan hanya berjalan beberapa minggu, tapi Essi dan Edo sepakat terikat hubungan. Essi baru saja selesai kuliah. Hari ini dia akan keluar bersama Edo, pastinya tanpa sepengetahuan ayahnya. Backstreet, itu yang sekarang dijalani Essi dan Edo. Baru saja akan melangkahkan kakinya tiba-tiba Vina memanggilnya.
Vina : “Aku dengar kau sedang mendekati Edo, apa maumu?” (berjalan mendekati Essi)
Essi : (berbalik) “Maaf, apa kita saling kenal?”
Vina : “Hm..apa kau masih berlagak tidak mengenalku? Dasar gadis sialan, kau..jangan pernah muncul di hadapan Edo lagi..”
Essi : “Apa kau pacarnya atau Ibunya melarangku?”
Dina : “Kau mau mati ya..?!” (melangkah maju dan mengacungkan tangannya)
Okti : (tiba-tiba muncul) “Siapa yang ingin mati?”
Dina : “Kau..”
Okti : (berdiri di antara Essi dan Dina) “Siapa yang berani menyentuh temanku, dia harus berhadapan denganku dulu..”
Vina : “Gadis aneh, kenapa kau selalu ikut campur dalam permasalahanku, apa Edo menyuruhmu lagi untuk melindungi gadis sialan ini?!”
Okti : “Hei..ternyata kau masih ingat, apa mau di ulang?”
Essi : “Sudahlah, ayo kita pergi..” (menarik lengan Okti)
Okti : “Isk.!!”
Dina : “Vina, ayo..” (mengajak Vina pergi)
Dina dan Vina pun berlalu dari hadapan Okti dan Essi. Masih dengan geram Okti memonyong-monyongkan wajahnya. Hal itu membuat Essi tidak bisa menahan tawanya. Melihat Essi yang asik menertawakan dirinya Okti hanya bisa diam. Lama dia menatap wajah manis itu. Essi yang sadar pada tingkah Okti menghentikan tawanya.

Essi : “Kenapa menatapku begitu?”
Okti : “Apa kau sedang bahagia?”
Essi : (mengernyitkan dahinya) “Aku cukup bahagia memiliki pengawal sepertimu..”
Okti : “Pengawal..?”
Essi : “Ha..baiklah, aku suka dengan Okti..sudah cukup? hehehe..”
Okti : “Hm..aku juga suka Essi..”
Essi : “Ha..ayo pergi..” (menggandeng lengan Okti)
Edo memang meminta Okti untuk menemani Essi, karena dia tahu hal seperti tadi mungkin saja terjadi. Sedangkan dia, Lia dan Enda sibuk bekerja. Maklumlah, pekerjaan sebagai model bukanlah hal yang santai. Meski begitu akhir minggu tetap menjadi hari milik mereka berdua.

Januari 2011
19.20
Babak VII
Adegan I
Meski baru beberapa minggu mereka bersama, Essi mulai merasa dirinya tidak bisa lagi seperti dulu. Dia mulai mengikuti gaya hidup Edo dan teman-temannya. Maklumlah, Edo dan teman-temannya tidak memiliki orang tua yang terlalu peduli dengan apa yang mereka lakukan. Dapat dikatakan mereka adalah sekumpulan anak muda yang menikmati gaya hidup bebas, namun tertekan dalam batinnya. Essi pun mulai ingin menunjukkan pada Pak Edi bahwa dia bukan boneka lagi. Meski sempat tidak yakin, tapi akhirnya Essi melakukannya juga. Dia berdandan dengan manis, kemudian melangkah keluar kamar. Dia tahu Pak Edi dan Evi sedang duduk di ruang tamu.
Pak Edi : (menurunkan korannya) “Kau mau kemana?”
Essi : (berhenti) “Aku mau keluar bersama teman..”
Pak Edi : “Apa kau sudah lupa dengan peraturan yang aku buat?”
Essi : “Maaf Ayah, aku sudah tidak bisa mengingat peraturan itu lagi..”
Pak Edi : “Kau bilang apa?” (berdiri)
Essi : “Aku sudah lelah Ayah, aku lelah dengan sikap Ayah yang menganggapku hanya boneka..”
Evi : “Essi, kau bicara seperti itu tidak baik, cepat minta maaf..” (meletakkan cangkir kopi)
Essi : “Apa kakak juga tidak bisa merasakan kelelahanku?”
Evi : “Essi, kau sudah sangat keterlaluan, kenapa kau seperti ini?” (mendekati Essi)
Pak Edi : “Biarkan, biarkan saja dia, kalau dia mau pergi, silahkan..”
Essi : “Ha..aku rasa malam ini kita jangan bertengkar dulu Yah..baik, aku pergi..” (melangkah keluar)
Evi : “Essi..”
Pak Edi : “Biarkan dia..”
Evi : “Ayah..” (menatap tak mengerti pada ayahnya)


21.00
Adegan II
Ipan baru saja akan menelepon Evi saat gadis itu muncul dengan wajah masam di depan rumahnya. Ipan dan Evi saling mengenal ketika Ipan sedang bertugas dan Evi membutuhkan pertolongan karena mobilnya yang tiba-tiba mogok. Ipan memang cukup mengenal Evi, karena sebetulnya mereka memiliki sebuah hubungan istimewa namun keduanya belum secara tegas untuk memastikan hubungan mereka. Karena itu ketika Evi datang dengan wajah masam Ipan segera menyambutnya.
Ipan : “Lho Evi, baru saja aku akan meneleponmu, apa terjadi sesuatu?” (sambil memberikan kursi pada evi)
Evi : (duduk) “Maaf mengganggumu malam-malam, aku benar-benar tidak tahu harus kemana untuk meminta bantuan..”
Ipan : (duduk di samping Evi) “tidak masalah buatku untuk direpotkan malam ini..ayo ceritakan apa yang terjadi?”
Evi : “Apa kau masih bertanya aku sedang stress karena ulah siapa?”
Ipan : (menggeleng kepalanya) “Aku tidak percaya adikmu mampu membuatmu repot begini..”
Evi : (mendengus) “Orang-orang juga tidak percaya aku bisa dekat dengan orang sepertimu..”
Ipan : “Hei..apa ada yang salah denganku?”
Evi : “Kau tahu, wajahmu begitu terlihat menyeramkan..” (sambil meringis seram)
Ipan : “Wajar saja, aku seorang polisi, lalu?”
Evi : “Tapi kau punya sifat yang..” (terdiam)
Ipan : “Kenapa berhenti?” (mencoba menggoda)
Evi : “Aku sedang membicarakan adikku bukan kau, hah..sepertinya aku salah tempat..(berpura beranjak)
Ipan : “Hah..baik..baik..aku akan mendengarkanmu saja, ayo katakan..” (menahan tangan Evi)
Evi : (duduk kembali) “baiklah kalau kau begitu memaksa.., aku hanya ingin mengatakan adikku mulai berubah..”
Ipan : “Kau harus lebih bersabar..”
Evi : “Mungkin..”
Ipan menepuk pundak Evi, menenangkannya. Kemudian mereka terus melanjutkan obrolan sebentar sebelum Ipan mengantarnya pulang. Sedangkan Essi sedang asik di tempat lain.

21.34
Adegan III
Meski hujan tak berhenti, tapi Essi dan Edo tetap nekat untuk keluar. Enda dan Lia yang menemani mereka segera meneduhkan diri ke suatu café dan berpisah dengan Edo dan Essi. Enda memang bersyukur, karena dengan begitu dia bisa mendekati Lia.
Enda : “Apa kau kedinginan?”
Lia : “Memangnya kau membawa selimut?”
Enda : “Ya..aku punya selimut..”
Lia menoleh padanya dengan tatapan heran
Enda : “Ini..” (sambil menunjuk dadanya)
Lia : (tertawa) “Sayang sekali aku tidak suka dengan badan kurus sepertimu..hehe”
Enda : “Baik..aku akan makan dengan banyak, supaya gadis yang menyukai pria gemuk segera mendapatkan jodohnya, hehehe..”
Lia : “Lihat nanti saja..”
Enda : “Aku pasti berusaha..”
Lia hanya tertawa dengan tingkah Enda. Sedangkan di tempat lain Edo mengajak Essi ke rumahnya. Essi masih teringat dengan pertengkaran tadi, sungguh dia merasa tidak tenang. Edo yang melihatnya bersikap aneh menghampirinya.
Edo : “Apa ada masalah?” (duduk disamping Essi)
Essi : “Aku bertengkar dengan Ayahku hari ini..hm..”
Edo : “Bukankah itu biasa terjadi antara anak dan Ayah..”
Essi : “Aku tidak pernah berkata kasar padanya, aku hanya merasa bersalah..” (tertunduk)
Edo : “Ha..baik, apa kau ingin menenangkan diri?”
Essi : “Apa kau punya ide?”
Edo : (berpikir sejenak) “Apa kau bisa minum?”
Essi : “Aku selalu penasaran untuk melakukan hal yang baru..”
Edo : “Ha..baik, ayo pergi..” (menggandeng lengan Essi pergi)
Essi dan Edo pun pergi membeli minuman. Entah kenapa Essi merasa bersalah untuk melakukannya, tapi setelah tegukan kedua, dirinya mulai merasa ringan. Tiba-tiba semuanya menjadi hilang, dia merasa berada di awan, terbang bersama Edo. Tanpa mereka sadari mereka mulai melakukan kesalahan. Dan kesalahan itu sangat fatal. Di sisi lain Evi merasa khawatir Essi belum kembali padahal sudah pukul 23.45. Akhirnya dia menekan bebrapa digit nomor dan berbicara dengan seseorang.
Evi : “Halo,”
Di sisi lain..
Okti : (mengangkat teleponnya) “Halo..”
Evi : “apa benar ini Okti?”
Okti : “Benar,”
Evi : “Apa kabar..aku Evi, kakaknya Essi, ah..apa kau tahu dimana Essi?”
Okti : “apa ada masalah?”
Evi : “aku hanya merasa khawatir, dia tidak pernah keluar malam selarut ini,”
Okti : “aku akan mencarinya..”
Evi : “ha..baik, terima kasih atas bantuannya, aku mengandalkanmu..”
Okti menutup teleponnya, sejenak dia terdiam. Rasa khawatir langsung menyergap dirinya. Dia berdiri dan meninggalkan teman-temannya tanpa menghiraukan panggilan mereka. Selama ini dia sudah menyukai Essi, bagaimana menjelaskan perasaannya pun dia tidak bisa. Saat Evi mengatakan Essi belum pulang dia merasa takut, takut yang tidak bisa dikatakan. Gejolak didadanya semakin besar, dia tidak peduli lagi dengan keadaan normal atau tidak normal ini. Dia segera menelepon Lia dan Enda.
Okti : “Lia, kau tahu Essi ada dimana? Ah..tidak aku hanya ada sedikit kepentingan mau bertanya padanya, oh..baik..”
Okti segera menuju rumah Edo, sampai di sana Okti berhenti sejenak, di luar ada sepatu Essi. Pintu itu tidak terkunci, keadaan yang hening menambah kecepatan detk jantungnya. Dia yang sudah mengenal dunia pergaulan cukup luas selama ini merasakan adanya hal yang tidak wajar. Dengan tangan bergetar dia membuka pintu. Di pojok ruangan dia menemukan syal yang biasa dipakai Essi. Tangannya menggenggam erat syal itu, sampai Edo keluar dari kamar dengan wajah kusut dan terlihat terkejut dengan kedatangan Okti.
Edo : “Ah..kau..” (wajah terkejut)
Okti : (menatap tajam wajah Edo) “Dimana Essi? Apa yang kau lakukan pada Essi?!!” (dengan nada tinggi)
Edo : (terkejut dengan teriakan Okti, mengusap wajahnya) “Essi, dia..”
Okti : “Essi, keluar!” (berjalan meuju kamar)
Essi : (tampak terkejut, dia baru saja merapikan jilbabnya) “Okti..”
Okti : “Ayo pulang..”
Essi : “Aku..”
Okti : “Pulang..” (menarik lengan Essi)
Edo : “Okti, kau tidak bisa membawanya pergi..Okti..!” (mencoba menahan Okti)
Okti tidak menghiraukan panggilan Edo, dia terus menyeret Essi keluar. Rasa marahnya membuatnya lupa Essi tidak sempat memakai sepatunya dan terseret sambil menangis. Tangisan Essi yang semakin kuat menyadarkan Okti.
Okti : (melepaskan tangannya) “Apa kau sudah gila?”
Essi : “Apa?” (mengurut lengannya yang sakit)
Okti : “Aku tanya apa kau sudah gila?!!”
Essi : “Aku..”
Okti : (berpaling kearah Essi) “Kenapa kau melakukan ini? Apa kau sudah tidak punya pikiran? Hah?!!”
Essi : “Ada apa denganmu, kenapa kau membentakku terus? Aku juga tidak sengaja melakukannya..”
Okti : “Kenapa kau tidak punya harga diri? Kenapa kau menyamakan dirimu dengan gadis di luar sana..kenapa, kenapa Essi!”
Essi : “Kenapa kau mengatakan aku begitu?! Kau membuatku sedih..”
Okti : “Kau memang menyedihkan..” (berpaling)
Essi : (menarik lengan Okti) “Maaf, maaf Okti aku salah..aku khilaf..”
Okti : “Kau tahu betapa takutnya aku saat kakakmu mengatakan kau belum pulang selarut ini, ternyata kau sedang menghancurkan dirimu sendiri..”
Essi : “Aku hanya lari dari pertengkaranku dengan Ayah, aku hanya ingin tenang, aku..”
Okti : “Apa ini yang kau bilang menenangkanmu? Apa masalahmu selesai dengan kelakuanmu malam ini?”
Essi : “Kenapa kau begitu marah padaku? Aku minta maaf karena kesalahanku, dan terima kasih karena mencemaskanku..” (menunduk)
Okti : “Aku sayang padamu Essi, apa kau tidak bisa merasakannya?”
Essi : “Aku tahu, aku tahu kau adalah teman yang menyayangiku, aku..”
Okti : “Aku menyukaimu,” (tertunduk)
Essi : “Aku ju..ah apa?” (terlihat kaget)
Okti : “Kau tahu betapa susahnya aku memahami perasaanku sendiri? Betapa lelahnya aku meredam semuanya? Aku selalu berpikir bagaimana agar kau bahagia, agar kau tidak terluka..aku terus berpikir aku ini tidak mungkin..”
Essi : “Okti, apa kau sedang bercanda?”
Okti : (menatap Essi) “Kau tahu aku sedang serius, lalu kenapa?”
Essi : “Okti, kita..maksudku, itu tidak mungkin..kau dan aku..kita..”
Okti : “Apa yang salah dengan perasaan ini? Aku juga tidak menginginkannya, tapi kau membuatku memiliki rasa ini, apa kau mau lari dari tanggung jawabmu?”
Essi : “Aku merasa aneh Okti..kau keterlaluan, kau mana boleh berbuat begini kepadaku dan Edo?!”
Okti : “Aku hanya..”
Essi : “Jangan pernah temui aku lagi, kau sudah gila..” (berlari)
Okti tidak lagi menahan Essi, kini dirinya merasa malu. Kenapa harus dia yang mengalami semua ini, bukankah dia tida pernah berpikir untuk mampu melakukan semuanya? Hujan, saat hujan Okti merasakan semuanya. Ternyata sampai langit dan bumi pun ikut bersedih dengan hatinya. Dia merasa bodoh melakukan semuanya, tapi itulah kodratnya cinta, yang membuat semua orang menjadi bodoh. Rasa, Okti merasakan sebuah rasa tidak bisa untuk dibohongi lebih lama. Berjalan dalam luka tak akan mengingat segalanya lagi. Okti memutuskan untuk tidak lagi bersama Essi, dia hanya akan menjaga Essi dari belakang.

Februari 2011
14.20
Babak VIII
Adegan I
Dina dan Vina sedang duduk santai di warung ujung ketika Essi terlihat keluar dari kampusnya. Namun Vina dan Dina tidak menemukan sosok Okti yang biasanya selalu ada di samping Essi. Meskipun ada yang aneh, tapi Vina dan Dina merasa itu kesempatan emas untuk member Essi pelajaran.

Dina : “Essi sedang sendirian, lebih baik habisi dia sekarang..”
Vina : “Benar, kenapa aku harus berdiam diri di sini..”
Melangkah menuju Essi yang sedang menunggu jemputan, namun tiba-tiba Okti muncul sebelum mereka berhasil mendekati Essi.
Dina : (sedikit terkejut) “Anak ini lagi, apa maumu?”
Okti : “Jangan mengganggunya lagi..”
Vina : “Kau begitu menjaga sepupu dan kekasihnya itu, apa kau tidak punya masalah sendiri?” (tampak kesal)
Okti : “Masalahku adalah kalian,”
Dina : “Kenapa harus takut melawannya? Bukankah dia sendiri..”
Vina : “Aku hanya tidak mau menyentuh tubuh menjijikkan seperti dia..”
Okti : (menatap Vina) “Kau bilang apa?”
Vina : “Ada apa? Kau merasa perkataanku benar?”
Perkataan Vina membuat Okti mengingat kejadian kemarin. Essi juga mengatakan dia sudah gila, bahkan tidak mau lagi melihatnya. Okti sebenarnya merasa sangat bersalah pada Essi, emosinya yang tinggi telah membuatnya lupa diri. Sekarang Vina pun menyebutnya orang yang menjijikkan, Okti berpikir apakah dia benar seorang brengsek? Vina mendekati Okti, dan PLAKK
Vina : “Apa kau merasa sakit?”
Dina : “Wah..kau menyentuhnya..” (menatap takjub)
Vina : “Aku hanya mengambil kesempatan, meskipun aku harus membersihkan tanganku berulang kali..” (wajah sedikit heran)
Okti : (tidak memperdulikan tamparan Vina) “Apa aku begitu menjijikkan?”
Vina : “Dia benar-benar sudah mau mati..kita berikan saja dia pelajaran..”
Vina dan Dina secara serentak mendekati Okti dan menamparnya. Bukan karena tamparan itu yang membuat Okti terjatuh, tapi luka hatinya yang sangat parah. Tapi sebelum badannya benar-benar roboh seseorang terlebih dulu menahannya.
Enda : “Kau tidak apa-apa?”
Vina : “Kenapa kalian repot sekali dengan Edo dan Essi?”
Enda : (berpaling kearah Vina) “Kau kali ini sudah sangat keterlaluan, apa kau harus aku berikan pelajaran juga? Hah..!”
Dina : “Kenapa kau marah begitu? Dia sendiri yang tidak melawan ketika dipukul,”
Vina : “Temanmu ini mau mati, kau tidak bisa melihatnya? Kenapa harus masih memperdulikan kami?” (kemudian berlalu)
Enda : (berpaling kearah Okti) “Ada apa denganmu? Apa kau ada masalah?”
Okti : (mengangkat wajahnya) “Sudahlah..”
Enda : “Okti, beritahu aku, ada apa denganmu?” (menahan lengan Okti)
Okti : (melepaskan genggaman Enda) “Terima kasih mencemaskanku, sudahlah..anggap saja aku sial hari ini..ayo..”
Enda : “Kau terlihat sangat parah, baik..meski sangat penasaran aku tidak akan bertanya lagi..” (menyusul Okti)

April 2011
19.30
Babak IX
Adegan I
Belakangan ini Essi merasa dirinya aneh. Dia lebih suka makan makanan yang asam dan lebih memilih makanan. Dia juga belum mendapat haid bulan ini, padahal seharusnya sudah seminggu yang lalu. Apalagi akhir-akhir ini setiap kali selesai makan dia akan merasa mual dan muntah-muntah. Tiba-tiba dia merasa khawatir. Apakah kejadian waktu itu menyebabkan sesuatu? Essi segera mengambil tindakan sebelum semua orang curiga padanya. Setelah menerima hasil testnya, Essi seakan-akan ingin di telan bumi saja. Positif.
Evi : “Akhir-akhir ini kakak lihat kau berubah..”
Essi : “Berubah?”
Evi : “Kau sedikit aneh, kenapa kau sering mengunyah mangga sekarang?”
Essi : “Bukannya sedang musim Kak?”
Evi : “Lalu kenapa kau sering mual-mual?”
Essi : “Oh..ah itu mungkin karena aku terlalu sibuk akhir-akhir ini.”
Evi : “Ya sudahlah, aku hanya khawatir saja..”
20.05
Adegan II
Evi sedang melamun saat Ipan menghampirinya.
Ipan : “kenapa lagi..?”
Evi : “aku merasa ada yang salah dengan Essi,”
Ipan : “ha..apa?” (memainkan telepon genggamnya)
Evi : “aku melihatnya seperti orang yang sedang..ya..dia bersikap seakan-akan dia..hamil..”
Ipan : “apa?!!” (berhenti memainkan telepon genggamnya dan ikut duduk)
Evi : “ya..aku hanya menduga saja..”
Ipan : “ya ampun, aku kira itu benar terjadi. Sudahlah..”
Evi : “tapi..”
Ipan : (berdiri) “sudahlah, jangan berpikir yang aneh-aneh, apa kau mau aku antar pulang?”
Evi tidak menjawab, tapi dia mengikuti Ipan yang sudah melangkah lebih dulu. Segera disusulnya tubuh Ipan dan berjalan bersama sampai ke rumah.

21.45
Adegan II
Vina menutup pintu kamarnya dengan keras. Hari ini dia genap berumur 20 tahun, tapi kenapa Bu Ani sedikit pun tidak ingat? Awalnya Vina berpikir Bu Ani memberikan kejutan dengan pura-pura tidak ingat akan ulang tahunnya, tapi setelah menerima pesan Bu Ani, dia tahu itu semua salah. Dengan menahan kesal dia menanti Bu Ani datang.
Bu Ani : “Sayang, apa kau belum tidur?”
Vina : “Apa ibu tidak ingat sesuatu?”
Bu Ani : (membuka jasnya) “Apakah ada berkas-berkas yang tertinggal? Dimana?”
Vina : “Sudahlah, percuma saja..”
Bu Ana : “Kenapa kau bilang percuma? Apa kau membuangnya?”
Vina : “Apa aku ini benar-benar putrimu?” (berdiri berhadapan dengan ibunya)
Bu Ani : “Apa..”
Vina : “Apa kau benar-benar Ibuku?”
Bu Ani : “Apa?? Kau sedang bicara apa Vina..aku tidak mengerti..”
Vina : “Ibu benar-benar sudah keterlaluan, apakah klien-klien di sana lebih penting sampai-sampai kau tidak sempat mengucapkan selamat ulang tahun padaku?!!”
Bu Ani : (menutup mulutnya) “Ya ampun sayang, maafkan Ibumu ini, Ibu benar-benar lupa, kau ingin kado apa? Biar aku berikan..”
Vina : “Apa aku terlihat begitu tertarik dengan tawaranmu? Aku hanya ingin kau mengingatku Bu..hanya itu..”
Bu Ani : “Vina, Ibu benar-benar minta maaf, baiklah..kau ingin aku melakukan apa agar kau memaafkan Ibumu ini?” (mencoba mendekati Vina)
Vina : (menggeleng pelan) “Aku hanya ingin kau melihat keberadaanku saja Bu..hanya itu..” (beranjak pergi)
Bu Ani : “Vina, Vina kau mau kemana?”
Vina tidak menghiraukan panggilan ibunya, dia terus berjalan keluar. Hanya satu tempat yang ditujunya, yaitu Dina. Dia pasti akan menginap lagi di rumah Dina.
Dina : “Maaf aku tidak bisa membantumu,”
Vina : “Aku tidak menyalahkanmu, kau terlalu banyak membantuku, terima kasih..” (memeluk boneka dengan erat)
Dina : “Kau berkata begitu membuatku menjadi semakin tidak enak..apa kau sudah selesai menangis?”
Vina : “Kenapa Ayah harus pergi..kenapa Ibuku harus bertanggung jawab dengan perusahaan itu? Kenapa tidak mau menerima hidup seadanya saja?”
Dina : “Jawabannya ada padamu, apa kau akan tahan hidup tanpa memiliki semua yang kau miliki sekarang?”
Vina : (terdiam sejenak) “Benar, aku ini terlalu sombong, benar-benar tidak akan sanggup menjalani hidup yang miskin..hah..”
Dina : “Sudahlah..apa kau ingin pergi minum?”
Vina : “Kau ingin seluruh kota tahu aku baru saja menangis?!”
Dina : “Baiklah..baiklah..kita keluar mencari angin saja, hanya jalan-jalan.. bagaimana?”
Vina : “Baiklah..”
April 2011
20.12
Babak X
Adegan I
Essi sudah tidak sanggup lagi menyembunyikan keanehan pada dirinya. Hari ini dia harus bertemu Edo dan mereka harus bicara. Edo juga harus bertanggung jawab akan perbuatannya. Essi semakin takut, takut kalau ternyata Edo tidak mau bertanggung jawab pada dirinya. Ketakutan itulah yang membuat Essi nekat untuk menemui Edo, malam ini juga. Saat Essi keluar kamar, tiba-tiba Pak Edi memanggilnya.
Pak Edi : (berjalan mendekati Essi) “Apa ingin bertemu model itu lagi?”
Essi : (menoleh dengan wajah sedikit terkejut) “Ayah..apa kau tahu dari kakak?”
Pak Edi : “Kenapa berbohong padaku?”
Essi : “Aku tidak bermaksud untuk berbohong, tapi sikap Ayah membuatku terpaksa melakukannya..” (memalingkan wajahnya)
Pak Edi : “Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat begitu membenciku..”
Essi : “Apa Ayah tidak menyadari bahwa Ayahlah yang membuatku membencimu seperti ini..” (berpaling pada ayahnya)
Pak Edi : “Apa yang salah?”
Essi : “Kenapa harus aku yang bertanggung jawab atas kematian Ibu? Apa aku harus dihukum seperti ini karena telah membuat Ibu pergi? Apa aku juga harus mati dulu baru kau akan memaafkan aku?!!”
Pak Edi : “Aku hanya tidak mau kau mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu, kalau kau tidak keras kepala Ibumu tidak akan mungkin meninggalkan kita..”
Essi : “Apakah aku bukan manusia sehingga aku tidak berbuat salah? Apakah aku begitu sengaja ingin membunuh Ibu? Jawab aku Ayah!” (menangis)
Evi : (keluar dari kamar) “Essi, apa yang kau katakan?! Kau tidak mengerti apa yang Ayah rasakan dan pikirkan..”
Essi : “Apa hanya Ayah saja yang harus dipikirkan keadaannya? Apa aku robot yang tidak perlu diperhatikan?”
Evi : “Sejak kau bertemu dengan teman-teman barumu kau terlihat begitu aneh, kau sudah berubah Essi..”
Essi : “Kenapa? Kalian kesal karena sekarang aku tidak lagi mudah dibodohi?”
Pak Edi : “Cukup Essi! Kau jangan membuat Ayah benar-benar membencimu..”
Essi : “Ha..baik, aku berjanji tidak akan membaut kau kesal lagi padaku Ayah, aku akan pergi..”
Evi : “Kau bicara apa?”
Essi : “Sudahlah kak..aku tidak mau kau cereweti lagi, aku pergi..” (beranjak pergi)
Evi : “Essi..!”
Essi segera keluar meninggalkan Pak Edi dan Evi yang masih menahan rasa kesal padanya. Evi menghampiri Pak Edi. Membantunya duduk dan mengambil segelas air. Dia tahu Pak Edi sangat syok dan khawatir dengan sikap adiknya itu. Dia juga tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.
Pak Edi : “Apa aku keterlaluan padanya?”
Evi : “Ayah, Essi hanya belum mengerti dengan maksud sikap Ayah selama ini padanya, nanti juga dia akan mengerti..”
Pak Edi : “Apa aku telah gagal menjadi seorang Ayah? Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkannya pada Ibumu nanti?” (menutup wajahnya)
Evi : “Ayah..sudahlah, aku akan bicara padanya, Ayah istirahat saja..”
Pak Edi : “Aku semakin menjadi jahat kalau aku istirahat sekarang, jangan halangi aku untuk menunggunya..”
Evi hanya bisa menarik nafas panjang. Dia tidak bisa lagi melarang ayahnya untuk menunggu Essi yang entah kapan akan pulang. Essi sendiri di jalan merasa kekosongan di dalam dirinya. Dia ingin sekali memeluk ayahnya dan meminta maaf untuk semua bentakannya tadi. Dia tahu ayahnya tidak mungkin bermaksud jahat padanya selama ini. Tapi entah mengapa langkahnya semakin menjauhi rumahnya. Dengan pelan dia membuka telepon genggamnya.
Essi : “Ayah..maaf, maaf aku telah membuatmu terluka..aku, aku hanya merindukan Ibu..aku rindu sekali padanya..Ayah, terima kasih telah menjagaku selama ini, terima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini. Sekali lagi maaf, maafkan Ayah, aku bukan putrimu yang baik.. maaf Ayah.. aku menyayangi Ayah..” (menutup teleonnya)

20.25
Adegan II
Lia menemukan Edo sedang asik menggunting kertas kado saat tiba di rumah anak buahnya itu. Melihat Edo yang dengan bahagia membungkus kado itu Lia menjadi semakin terharu. Ternyata Essi mendapatkan orang yang tepat untuk memilikinya. Lia pun merasa Edo sangat beruntung memiliki Essi, gadis yang banyak diimpikan oleh para pria.
Lia : “Bukankah ulang tahun Essi masih ada beberapa hari lagi?”
Edo : (tetap terus menggunting) “Aku ingin memberikan hadiah sebanyak-banyaknya, agar dia terharu dan menangis kemudian memeluk tubuhku dengan erat..”
Lia : “Kau yakin reaksinya akan begitu?”
Edo : “Kenapa tidak?”
Lia : “Baiklah..aku tidak ingin mengganggumu lagi..”
Tiba-tiba Essi masuk dengan wajah tanpa senyum
Lia : “Beruntung sekali, kami baru saja membicarakanmu..”
Essi : “Apa kabar..”
Edo : (berdiri dan memandang Essi) “Kenapa kau datang begitu mendadak?”
Essi : “Aku ingin memberitahumu sesuatu, apa kita bisa bicara?”
Edo menoleh kearah Lia,
Lia : “Baiklah..aku jalan duluan..selamat malam..” (berjalan keluar)
Edo : “Ada apa? Kelihatan begitu serius?” (kembali duduk)
Essi : “Edo..aku hamil..”
Edo : (berhenti menggunting) “Kenapa begitu bicara sembarangan, kau tahu itu bisa menjadi kenyataan..”
Essi : “Edo, aku hamil..”
Edo : (berdiri dan memandang kearah Essi) “Apakah kau sedang bercanda?”
Essi : “Edo..aku hamil..”
Edo : “Tidak mungkin, siapa yang melakukannya?”
Essi : (menjadi marah) “Kau bicara seakan-akan aku pelacur,”
Edo : “Tapi kita baru sekali melakukannya, kenapa bisa terjadi?”
Essi : “Apa kau tidak mau bertanggung jawab?”
Edo : “Bukan begitu, aku hanya masih syok..”
Essi : “Apa harus seperti itu? Apa harus menganggapku gadis murahan ketika kau terkejut? Hah?!!” (terlihat marah)
Edo : “Lalu apa yang harus aku lakukan? Menikahimu?”
Essi : “Apa masih ada jalan lain?”
Edo : (berdiam sejenak) “Gugurkan saja bagaimana?”
PLAKKK!!
Essi : “Kau ingin aku menjadi seorang pembunuh?”
Edo : (berbalik membelakangi Essi) “Lalu apa lagi? Aku tidak siap untuk menikahimu..”
Essi : “Kenapa? Apa selama ini kau hanya berpura-pura mencintaiku?”
Edo : “Kita baru pacaran selama dua bulan Essi, dan kita masih sangat muda..”
Essi : (mendekati Edo) “Kenapa kau begitu..kenapa kau begitu??!!!” (mengguncang tubuh Edo)
Edo : “Bukan begitu..” (berbalik tiba-tiba)
Essi : “Agh..!!” (memegang perutnya)
Edo : (kaget melihat darah) “Hah..?! Essi..Essi..”
Essi : “Edo, agh..Edo..kau..”
Edo : “Essi, aku..maaf..aku tidak sengaja..” (mencoba menahan tubuh Essi)
Tubuh Essi perlahan tersungkur di lantai, sedangkan Edo masih terpaku tidak percaya. Tangannya yang memegang gunting bergetar hebat. Dia tidak bisa melakukan apapun termasuk duduk atau berlari meminta pertolongan. Tiba-tiba pintu terbuka
Okti : “Edo..apa yang kau lakukan?” (menghampiri Essi)
Edo : “Aku..”
Okti : “Essi, Essi bangun..Essi..Essi..!” (mengguncang tubuh Essi)
Lia yang menyusul di belakang segera menghambur ke dalam melihat ada banyak darah
Lia : “Ya Tuhan, apa yang terjadi? Edo..apa yang telah kau lakukan??!! Aku akan mencari bantuan..” (berlari keluar)
Okti : (berdiri dan menuju kearah Edo) “Apa yang kau lakukan? Apa yang telah kau lakukan Edo?!!!”
PLAKK!! BUKK!!
Okti : “Kau membunuhnya..!!”
Edo semakin panik, dia semakin tidak bisa berpikir. Dengan ketakutan didorongnya tubuh Okti ke samping dan dia segera berlari keluar. Okti mencoba mengejar tapi Lia menahannya karena sudah ada petugas yang datang. Di depan sudah ada polisi dan Pak Edi juga Evi dan Ipan, yang memang seorang polisi. Namun Edo berhasil kabur, dengan cepat ketiga pria itu pun mengejarnya. Karena sangat panik Edo tidak mampu melawan ketiga pria itu.

Juni 2011
08.34
Babak XI
Adegan I
Tuhan memang memiliki rencana pada setiap ciptaannya. Dia tahu kapan saat yang tepat untuk mengambil milik-Nya lagi, tanpa seorang manusia pun mampu menghalanginya. Kini dua bulan setelah kematian Essi, mereka yang ditinggalkan mendapat banyak pelajaran. Keluarga Edi memang masih bersedih, namun mereka mampu untuk menghadapinya dengan berserah pada Tuhan. Kini Pak Edi hanya ditemani oleh Ipan dan Evi. Vina, meskipun selama ini membenci Essi, tapi dia sekarang bisa memahami arti hidup lebih lagi. Akhirnya dia bisa mengajak ibunya bicara dan kini mereka memiliki hidup yang bahagia dengan saling memberi pengertian. Dan dia masih mencintai Edo. Okti, berusaha menjalani hari-harinya dengan baik, tidak ingin menjadi manusia yang menjijikkan kini dia ikut membantu Enda dan Lia membuka usaha baru. Dan Edo..
Vina : “Apa kabar?”
Edo : (menatap Vina) “Kenapa masih menjengukku?”
Vina : “Aku tidak mau kau menjalani semuanya sendirian, apa kau mau mengajakku menjalaninya denganmu? Aku akan menunggumu..”
Cerita tentang mereka memang berakhir, tapi hidup mereka terus berjalan. Masalah tak pernah mengalah, dia akan terus hadir. Sebagai manusia yang mengerti makna hidup pasti akan menyambutnya dengan senyuman.



USAI